Ilustrasi
Oleh: Rahmi Pratiwi, S.Pd., Renawati, S.Pd., Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag., dan Dr. Aminah, M.Pd.*)
Suatu pagi, seorang siswa kelas V sekolah dasar mampu menjawab dengan benar pertanyaan tentang norma dan perilaku terpuji dalam pelajaran Pendidikan Pancasila. Ia bahkan dapat menjelaskan pentingnya menghormati orang lain, menaati aturan, dan menjaga ketertiban. Namun, ketika kegiatan makan bersama berlangsung, anak tersebut justru menyerobot antrean dan mendorong temannya hingga terjatuh.
Ketika ditegur guru, ia menjawab singkat, "Saya mau lebih cepat, Bu, karena tidak sabar ingin bermain."
Peristiwa sederhana ini sesungguhnya menyimpan persoalan besar dalam dunia pendidikan kita. Anak mampu menjelaskan apa yang baik, tetapi belum tentu mampu melakukannya. Mereka dapat menghafal nilai-nilai moral, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan hidup.
Pertanyaannya, apakah selama ini pendidikan karakter hanya berhasil membentuk anak yang pandai menjawab soal, tetapi belum berhasil membentuk pribadi yang mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan?
Lebih jauh lagi, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab ketika pengetahuan tentang kebaikan tidak tercermin dalam perilaku anak?
Pendidikan karakter tidak cukup dengan nasihat
Kita sering mendengar keluhan tentang perilaku anak zaman sekarang. Ada yang dianggap kurang sopan, tidak disiplin, sulit menghargai orang lain, kurang bertanggung jawab, bahkan semakin jauh dari nilai-nilai moral. Ironisnya, dalam berbagai kesempatan, kita justru lupa bertanya apakah orang dewasa di sekitar mereka telah memberikan contoh yang baik.
Ki Hadjar Dewantara telah mewariskan konsep tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya merupakan lingkungan yang saling berkaitan dalam membentuk kepribadian anak.
Keluarga menjadi tempat pendidikan pertama. Di rumah, anak mulai mengenal kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, dan cara memperlakukan orang lain. Sekolah kemudian memperkuat nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran dan pembiasaan. Sementara itu, masyarakat menjadi ruang bagi anak untuk mempraktikkan nilai-nilai yang telah dipelajari.
Konsep tersebut sejalan dengan semboyan Ki Hadjar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang berarti bahwa seseorang yang berada di depan harus mampu memberikan teladan.
Prinsip ini bukan hanya berlaku bagi guru, melainkan juga bagi orang tua dan seluruh orang dewasa yang berinteraksi dengan anak. Sebab, anak tidak hanya belajar dari apa yang diperintahkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Seorang ayah yang meminta anaknya berkata jujur, tetapi sering berbohong, sedang mengajarkan dua hal yang bertentangan. Demikian pula seorang ibu yang meminta anaknya tidak bermain gawai ketika makan, tetapi justru sibuk dengan telepon genggamnya sendiri.
Anak mungkin belum mampu memahami seluruh persoalan kehidupan, tetapi mereka sangat peka dalam mengamati dan meniru perilaku orang dewasa.
Keluarga tidak boleh menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada sekolah
Dalam ajaran Islam, keluarga memiliki kedudukan penting sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, sedangkan orang tuanya turut membentuk perkembangan dirinya (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur'an juga mengabadikan kisah Luqman yang memberikan nasihat kepada anaknya sebagaimana termaktub dalam QS. Luqman ayat 13–19. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan material, melainkan juga menanamkan keimanan, akhlak, tanggung jawab, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Sayangnya, dalam praktik kehidupan modern, tanggung jawab pendidikan karakter sering kali lebih banyak dibebankan kepada sekolah.
Ketika anak tidak disiplin, guru yang disalahkan. Ketika anak kurang sopan, sekolah diminta memperbaiki perilakunya. Bahkan, tidak jarang orang tua baru datang ke sekolah ketika muncul persoalan, bukan ketika sekolah mengajak mereka bersama-sama membangun kebiasaan positif.
Padahal, guru memiliki keterbatasan. Anak memang menghabiskan banyak waktu di sekolah, tetapi setelah pulang, mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam situasi tertentu, interaksi anak dengan gawai bahkan lebih intens dibandingkan komunikasi langsung dengan orang tuanya.
Karena itu, tidak adil apabila sekolah dituntut menyelesaikan seluruh persoalan karakter anak tanpa dukungan keluarga.
Kita juga perlu memberikan perhatian terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Pendidikan anak bukan semata-mata tanggung jawab ibu. Kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, merupakan bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Data BKKBN yang dikutip Katadata pada Oktober 2026 menyebutkan bahwa 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless. Angka ini menjadi pengingat bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak masih merupakan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Anak membutuhkan orang tua yang hadir, mendengarkan, mendampingi, sekaligus memberikan contoh nyata. Memberikan uang, memenuhi kebutuhan sekolah, dan menyediakan fasilitas belum cukup untuk menggantikan kebutuhan anak akan perhatian dan keteladanan.
Kita mewarisi pendidikan yang lebih banyak mengajarkan hafalan
Ada persoalan lain yang patut kita renungkan, yaitu pola pendidikan yang selama ini membentuk generasi orang tua dan guru.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian dari kita tumbuh dalam sistem pendidikan yang lebih menekankan penguasaan materi dan kemampuan menghafal. Dalam pembelajaran Pancasila, misalnya, peserta didik dahulu banyak diperkenalkan pada butir-butir pengamalan Pancasila melalui metode hafalan.
Pengamat pendidikan Darmaningtyas, sebagaimana dikutip Tirto dalam pembahasannya tentang kurikulum pada masa Orde Baru, turut menyoroti kuatnya pendekatan hafalan dan doktrin dalam pendidikan saat itu.
Akibatnya, seseorang mungkin sangat fasih menyebutkan nilai-nilai Pancasila, tetapi belum tentu terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pola tersebut berpotensi terus diwariskan. Ketika menjadi orang tua atau guru, kita cenderung mengulang cara mendidik yang pernah kita terima: banyak menasihati, memberikan perintah, dan menuntut kepatuhan, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan keteladanan.
Padahal, pendidikan karakter tidak dapat dibangun hanya dengan ceramah, hafalan, atau aturan tertulis.
Penelitian Krissandi dan Rusmawan (2015) terhadap 65 guru sekolah dasar menunjukkan adanya berbagai kendala dalam implementasi Kurikulum 2013, mulai dari persoalan penilaian, beban administrasi, hingga keterbatasan waktu. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter membutuhkan dukungan nyata terhadap guru, bukan sekadar penambahan tuntutan administratif.
Kita boleh berganti kurikulum berkali-kali, tetapi apabila perilaku orang dewasa tidak berubah, pendidikan karakter akan tetap menghadapi persoalan yang sama.
Membangun karakter harus dimulai dari perubahan orang dewasa
Pendidikan karakter sesungguhnya bukan pekerjaan satu pihak. Ia merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ada setidaknya tiga langkah yang perlu diperkuat.
Pertama, sekolah harus menjadi ruang kolaborasi pendidikan bagi orang tua. Hubungan sekolah dan keluarga jangan hanya sebatas pembagian rapor, pembayaran administrasi, atau penyampaian masalah perilaku siswa. Sekolah perlu membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan orang tua melalui program pengasuhan, diskusi pendidikan keluarga, dan kesepakatan pembiasaan karakter.
Misalnya, sekolah dan orang tua menyepakati satu kebiasaan positif setiap bulan, seperti membiasakan anak mengucapkan terima kasih, mengantre dengan tertib, menjaga kebersihan, atau meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Kebiasaan tersebut diterapkan secara konsisten di rumah maupun di sekolah.
Keterlibatan ayah juga perlu didorong agar pendidikan anak tidak hanya menjadi beban ibu.
Kedua, pendidikan keluarga harus mendapat perhatian lebih serius. Program bimbingan perkawinan dan kegiatan pengasuhan di masyarakat perlu memberikan pemahaman bahwa menjadi orang tua bukan hanya persoalan kesiapan ekonomi dan administrasi pernikahan, tetapi juga kesiapan mendidik manusia.
Kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi dengan anak, memberikan kasih sayang, dan menjadi teladan perlu diperkenalkan sejak dini. Mempersiapkan seseorang menjadi orang tua berarti mempersiapkan lingkungan pendidikan pertama bagi generasi berikutnya.
Ketiga, guru dan orang tua harus berani melakukan evaluasi terhadap perilaku sendiri. Dalam QS. As-Saff ayat 2–3, Allah mengingatkan agar seseorang tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya.
Pesan ini sangat relevan dalam dunia pendidikan. Bagaimana mungkin guru meminta murid berbicara santun jika ia sendiri terbiasa membentak? Bagaimana mungkin orang tua menuntut anak disiplin jika mereka tidak memberikan contoh kedisiplinan?
Sebaliknya, ketika orang dewasa mampu mengendalikan emosi, meminta maaf atas kesalahan, menghargai pendapat, dan bersikap adil, anak akan menyaksikan secara langsung bagaimana nilai-nilai moral diterapkan dalam kehidupan.
Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya: bukan hanya mengajarkan kebaikan, tetapi memperlihatkan bagaimana kebaikan itu dilakukan.
Jangan hanya menuntut anak berubah
Tentu saja, membangun karakter anak bukan perkara sederhana. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, kesibukan orang tua, perkawinan usia dini, keterbatasan pendampingan, hingga penggunaan teknologi digital yang semakin mendominasi kehidupan.
Karena itu, kita tidak boleh terburu-buru menyalahkan orang tua ataupun guru. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama bahwa pendidikan karakter harus dibangun secara konsisten dan berkelanjutan.
Tinjauan Ramadhani dan kolega (2026) terhadap 40 penelitian juga menunjukkan pentingnya keteladanan guru dan dukungan orang tua dalam keberhasilan pendidikan karakter siswa sekolah dasar.
Temuan tersebut semakin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan anak menjawab soal, memperoleh nilai tinggi, atau menguasai materi pelajaran. Pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan menghargai sesama.
Pada akhirnya, sebelum kita menuntut anak menjadi generasi yang berkarakter, ada baiknya kita terlebih dahulu mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi pribadi yang layak diteladani?
Sebab, anak-anak tidak tumbuh hanya dari kata-kata yang kita ucapkan. Mereka tumbuh dari perilaku yang mereka saksikan, kebiasaan yang mereka alami, dan nilai-nilai yang mereka rasakan setiap hari.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengajari anak tentang kejujuran, tetapi lupa menjadi orang yang jujur. Jangan sampai kita menuntut anak bersikap santun, tetapi justru mempertontonkan perilaku kasar.
Karakter anak adalah cerminan dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Jika kita menginginkan generasi yang lebih baik, perubahan harus dimulai dari orang dewasa. Sebelum menuntut anak berkarakter, marilah kita terlebih dahulu belajar menjadi teladan. []
Editor/Publisher: Hamdani
*) Penulis adalah Program Studi Magister Pendidikan Dasar (PENDAS), Universitas Almuslim, Bireuen

