Iklan

terkini

[Opini] Guru Menegur, Orang Tua Membela: Di Mana Letak Pendidikan Karakter?

Redaksi
Kamis, November 05, 2026, 22:05 WIB Last Updated 2026-11-05T15:06:33Z
Ilustrasi

Oleh: Irham Fahmi, S.Pd., Irma Cahayani, S.Pd., Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag., dan Dr. Aminah, M.Pd.*)

Pernahkah kita membayangkan seorang guru menegur murid yang melanggar aturan di sekolah, tetapi keesokan harinya justru harus berhadapan dengan orang tua yang merasa anaknya diperlakukan tidak adil? Situasi semacam ini semakin sering menjadi perbincangan. Teguran yang semestinya menjadi bagian dari proses mendidik justru dapat berkembang menjadi konflik antara guru dan orang tua.

Persoalannya bukan sekadar siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih jauh, fenomena ini menghadirkan pertanyaan mendasar: jika guru tidak lagi leluasa menegur dan orang tua selalu merasa perlu membela anaknya, di mana sebenarnya pendidikan karakter berlangsung?

Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan melalui buku pelajaran, nasihat, atau slogan yang terpampang di dinding sekolah. Karakter terbentuk melalui kebiasaan, keteladanan, kedisiplinan, serta keberanian menerima konsekuensi atas setiap tindakan. Karena itu, ketika guru dan orang tua justru saling berhadapan, anak berpotensi kehilangan teladan tentang bagaimana menghargai aturan dan menyelesaikan persoalan.

Teguran Bukan Bentuk Permusuhan

Pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab. Hal ini secara tegas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dengan demikian, mendidik bukan sekadar memastikan anak memperoleh nilai akademik yang baik. Mendidik juga berarti membangun kebiasaan menghargai waktu, menaati aturan, menghormati orang lain, dan berani mengakui kesalahan.

Dalam proses tersebut, teguran memiliki fungsi penting. Teguran yang disampaikan secara proporsional, santun, dan mendidik merupakan bentuk perhatian terhadap perkembangan karakter anak. Melalui teguran, peserta didik belajar memahami batas antara perilaku yang benar dan yang keliru.

Namun, persoalannya muncul ketika setiap teguran dianggap sebagai bentuk penghinaan atau ancaman terhadap harga diri anak. Bahkan, tidak jarang guru menjadi ragu untuk bersikap tegas karena khawatir menghadapi protes orang tua.

Jika kondisi ini terus berlangsung, sekolah berisiko kehilangan salah satu fungsi pentingnya, yaitu membangun kedisiplinan dan tanggung jawab. Anak akhirnya tumbuh dengan pemahaman bahwa setiap kesalahan dapat dibenarkan selama ada pihak yang membelanya.

Tentu saja, ketegasan tidak boleh disamakan dengan kekerasan. Guru tidak dibenarkan menghina, mempermalukan, melakukan kekerasan fisik, atau merendahkan martabat peserta didik. Akan tetapi, perlindungan terhadap anak juga tidak seharusnya menghilangkan hak guru untuk melakukan pembinaan secara profesional.

Ketika Kasih Sayang Berubah Menjadi Pembelaan Berlebihan

Orang tua yang membela anaknya sebenarnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Naluri melindungi anak adalah bagian dari tanggung jawab keluarga. Apalagi, kekhawatiran terhadap tindakan guru yang mungkin berlebihan atau tidak proporsional memang perlu mendapat perhatian.

Namun, ada perbedaan mendasar antara melindungi anak dan membenarkan seluruh perilakunya.

Sering kali orang tua hanya mendengar cerita dari satu sisi, yaitu cerita anaknya sendiri. Tanpa mencari penjelasan dari guru, mereka langsung mengambil kesimpulan dan menunjukkan ketidaksetujuan di hadapan anak. Akibatnya, persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berkembang menjadi konflik.

Di era media sosial, situasi ini semakin kompleks. Potongan video atau cerita perselisihan antara guru dan murid dapat dengan cepat menyebar dan memancing reaksi publik. Tanpa mengetahui kronologi secara utuh, masyarakat terkadang langsung menghakimi salah satu pihak.

Orang tua perlu menyadari bahwa membela anak bukan berarti membenarkan kesalahannya. Justru salah satu bentuk kasih sayang terbesar adalah mengajarkan anak untuk berani bertanggung jawab atas perbuatannya.

Anak yang selalu dibenarkan, bahkan ketika melakukan kesalahan, berpotensi tumbuh dengan sikap kurang menghargai aturan dan sulit menerima kritik.

Rumah dan Sekolah Tidak Boleh Berjalan Sendiri

Ki Hajar Dewantara telah memperkenalkan konsep Tri Pusat Pendidikan yang menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga lingkungan utama pembentukan karakter anak.

Ketiganya memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Sekolah mengajarkan kedisiplinan dan pengetahuan, keluarga membangun fondasi nilai dan keteladanan, sedangkan masyarakat menjadi lingkungan tempat anak mempraktikkan nilai-nilai tersebut.

Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal juga menegaskan pentingnya penguatan nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas melalui keterlibatan berbagai lingkungan pendidikan.

Sayangnya, konsep tersebut terkadang lebih mudah diucapkan daripada diterapkan.

Pertemuan antara guru dan orang tua sering kali baru dilakukan ketika muncul masalah. Komunikasi yang seharusnya berlangsung secara rutin justru hanya aktif ketika anak mendapatkan teguran atau menghadapi persoalan di sekolah.

Padahal, hubungan yang sehat antara sekolah dan keluarga harus dibangun sebelum konflik terjadi. Orang tua perlu mengetahui perkembangan anak, sementara guru perlu memahami kondisi dan latar belakang peserta didik.

Ketika kedua pihak memiliki komunikasi yang baik, persoalan kedisiplinan tidak akan mudah berubah menjadi pertentangan.

Guru Harus Menjadi Teladan, Orang Tua Harus Menjadi Contoh

Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya dibebankan kepada guru. Guru memang memiliki tanggung jawab profesional untuk membimbing peserta didik, tetapi orang tua juga mempunyai tanggung jawab yang tidak kalah besar.

Guru harus mampu menunjukkan keteladanan melalui sikap adil, sabar, konsisten, dan bijaksana. Teguran hendaknya diarahkan pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi anak. Jika memungkinkan, teguran disampaikan secara pribadi agar tidak mempermalukan peserta didik di hadapan teman-temannya.

Sebaliknya, orang tua juga harus memberikan contoh bagaimana menghormati orang lain, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan menerima kritik.

Bayangkan jika seorang anak diajarkan menghormati guru di sekolah, tetapi di rumah justru mendengar orang tuanya mencela guru tanpa terlebih dahulu mengetahui persoalan sebenarnya. Anak akan menerima dua pesan yang bertentangan.

Dalam kondisi seperti itu, pendidikan karakter kehilangan konsistensinya.

Orang tua tentu memiliki hak untuk mengkritik dan meminta penjelasan. Guru juga tidak kebal terhadap evaluasi. Namun, kritik seharusnya disampaikan melalui komunikasi yang santun, berdasarkan fakta, dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Mengembalikan Kemitraan Guru dan Orang Tua

Sudah saatnya sekolah dan keluarga membangun kembali kemitraan dalam pendidikan karakter. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, sekolah perlu menyosialisasikan tata tertib dan tahapan pembinaan peserta didik sejak awal tahun ajaran. Dengan demikian, orang tua memahami batasan perilaku dan konsekuensi yang berlaku di sekolah.

Kedua, komunikasi antara guru dan orang tua harus dibangun secara rutin, bukan hanya ketika anak melakukan pelanggaran. Informasi mengenai prestasi, perkembangan, dan perilaku positif anak juga perlu disampaikan.

Ketiga, sekolah perlu meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan disiplin positif. Ketegasan harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak dan martabat peserta didik.

Keempat, orang tua perlu membiasakan diri melakukan klarifikasi sebelum bereaksi. Dengarkan penjelasan anak, tetapi berikan pula kesempatan kepada guru untuk menyampaikan fakta dari sudut pandangnya.

Kepala sekolah juga memiliki peran strategis sebagai pemimpin yang membangun budaya komunikasi dan kolaborasi. Sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat penyelesaian konflik, tetapi harus menjadi ruang tumbuhnya kepercayaan antara seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan.

Anak Membutuhkan Kerja Sama, Bukan Pertentangan

Pada akhirnya, pendidikan karakter tidak terletak pada siapa yang menang dalam perdebatan antara guru dan orang tua. Pendidikan karakter justru hadir ketika keduanya mampu menempatkan kepentingan dan masa depan anak di atas ego masing-masing.

Anak tidak membutuhkan guru yang selalu dianggap benar, sebagaimana mereka juga tidak membutuhkan orang tua yang selalu membenarkan setiap tindakannya. Anak membutuhkan orang dewasa yang mampu memberikan keteladanan, menetapkan batasan, mengajarkan tanggung jawab, serta menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.

Kita perlu mengubah cara pandang bahwa teguran guru adalah ancaman bagi anak. Selama dilakukan secara proporsional dan tidak melanggar hak peserta didik, teguran justru dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

Demikian pula, orang tua harus memahami bahwa kasih sayang bukan berarti membebaskan anak dari konsekuensi atas kesalahannya.

Sebab, sekolah bukan tempat anak sekadar memperoleh nilai, dan rumah bukan tempat anak selalu mendapatkan pembenaran. Keduanya merupakan ruang pendidikan yang harus saling menguatkan.

Jika guru menegur dengan niat mendidik dan orang tua merespons dengan kebijaksanaan, anak akan belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus selalu dibela, melainkan sesuatu yang harus diakui dan diperbaiki. Di sanalah pendidikan karakter menemukan maknanya. []

Editor/Publisher: Hamdani

*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Dasar (PENDAS), Pascasarjana Universitas Almuslim
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Guru Menegur, Orang Tua Membela: Di Mana Letak Pendidikan Karakter?

Terkini

Topik Populer

Iklan