Oleh: Nurul Hikmah, S.Pd., Gr., Martini, S.Pd., Gr., Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag., dan Dr. Aminah, M.Pd.*)
Guru, Orang Tua, dan Tantangan Membangun Karakter Generasi Masa Kini
Ada satu pertanyaan yang mungkin semakin sering muncul dalam benak seorang guru sebelum menegur muridnya: "Kalau saya tegur, nanti bagaimana?"
Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya menggambarkan dilema yang sedang dihadapi dunia pendidikan. Guru memiliki tanggung jawab mendidik, membimbing, dan membentuk karakter peserta didik. Namun, dalam praktiknya, menjalankan tanggung jawab tersebut tidak selalu mudah. Teguran yang dimaksudkan untuk memperbaiki perilaku anak terkadang justru menimbulkan persoalan baru ketika dipahami secara berbeda oleh orang tua.
Di tengah perubahan zaman, sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga merupakan ruang pembentukan karakter, tempat anak belajar menghargai orang lain, memahami aturan, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya.
Sayangnya, pendidikan karakter sering kali menghadapi tantangan ketika makna perlindungan anak dipahami secara sempit. Ada kecenderungan bahwa setiap teguran terhadap anak dianggap sebagai bentuk perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal, tidak semua teguran merupakan tindakan yang salah. Ada kalanya teguran justru menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Kita tentu tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa masih ada peserta didik yang sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, kurang santun dalam berbicara, mengabaikan tugas, atau mengganggu teman. Ketika guru berusaha mengingatkan, respons yang muncul terkadang berupa penolakan. Bahkan, persoalan dapat berkembang ketika orang tua langsung membela anak tanpa terlebih dahulu mengetahui kejadian secara utuh.
Akibatnya, guru berada dalam posisi serba salah. Jika perilaku anak dibiarkan, dikhawatirkan kebiasaan yang kurang baik akan terus berulang. Sebaliknya, jika guru memberikan teguran, muncul kekhawatiran bahwa tindakannya akan dipersoalkan.
Melindungi Anak Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan
Kita perlu membedakan secara tegas antara perlindungan anak dan pembenaran terhadap perilaku anak. Keduanya bukanlah hal yang sama.
Melindungi anak berarti memastikan mereka terbebas dari kekerasan fisik, penghinaan, diskriminasi, ancaman, dan perlakuan yang merendahkan martabat. Namun, perlindungan juga harus memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengenali kesalahan, memahami konsekuensi, memperbaiki perilaku, dan bertanggung jawab.
Anak yang melakukan kesalahan tidak selalu membutuhkan pembelaan tanpa syarat. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan, menjelaskan, memberikan teladan, dan membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Justru ketika anak selalu dibenarkan, sekalipun melakukan kesalahan, kita berisiko membentuk generasi yang sulit menerima kritik, tidak terbiasa mengakui kekeliruan, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab.
Pendidikan bukan sekadar membuat anak merasa nyaman, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kenyataan kehidupan. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki hak, tetapi juga mempunyai kewajiban untuk menghormati hak orang lain.
Karena itu, anak perlu memahami bahwa kebebasan bukan berarti boleh melakukan apa saja. Ada aturan yang harus dihormati dan konsekuensi yang harus diterima ketika seseorang melanggarnya.
Disiplin Bukan Kekerasan
Persoalan lain yang perlu diluruskan adalah pemahaman tentang disiplin di lingkungan sekolah. Teguran yang disampaikan secara santun dan konsekuensi yang bersifat mendidik terkadang disamakan dengan tindakan menghukum.
Padahal, disiplin tidak identik dengan kekerasan atau upaya menakut-nakuti anak agar patuh. Disiplin merupakan proses pembelajaran untuk membantu anak memahami alasan di balik suatu aturan dan membangun kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.
Tentu, tidak ada pembenaran bagi tindakan kekerasan fisik, bentakan, ancaman, pelabelan negatif, maupun penghinaan dengan alasan mendidik. Guru tetap harus menjaga profesionalitas, menggunakan pendekatan yang manusiawi, serta menghormati martabat setiap peserta didik.
Namun, kehati-hatian dalam mendidik jangan sampai membuat guru kehilangan keberanian untuk menjalankan fungsi pembinaan. Sebab, ketika setiap koreksi dianggap sebagai serangan terhadap anak, kesempatan peserta didik untuk belajar dari kesalahan justru semakin terbatas.
Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik. Dalam konteks ini, keberanian menegur secara tepat, santun, dan proporsional merupakan bagian dari tanggung jawab profesional seorang pendidik.
Guru dan Orang Tua Harus Menjadi Mitra, Bukan Lawan
Di sisi lain, orang tua juga tidak sepatutnya ditempatkan sebagai pihak yang selalu salah. Keinginan melindungi anak merupakan naluri yang wajar. Namun, perlindungan tersebut perlu disertai sikap objektif dan kesediaan mendengarkan penjelasan dari berbagai pihak.
Ketika anak mengeluhkan teguran guru, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan. Perlu ada pertanyaan mendasar: Apa yang sebenarnya terjadi? Aturan apa yang dilanggar? Bagaimana respons anak? Apakah teguran guru sudah disampaikan secara tepat? Dan apa yang perlu diperbaiki?
Guru pun harus bersedia membuka ruang komunikasi yang sehat, menyampaikan fakta secara objektif, serta menghindari bahasa yang menyudutkan anak maupun keluarganya.
Prinsip keadilan sebagaimana terkandung dalam QS. An-Nisa' ayat 135 mengingatkan kita untuk menegakkan keadilan dan berkata benar. Nilai ini seharusnya menjadi pegangan bagi guru dan orang tua ketika menghadapi persoalan yang melibatkan peserta didik.
Jangan sampai persoalan sederhana di sekolah berkembang menjadi konflik berkepanjangan hanya karena masing-masing pihak merasa paling benar.
Sekolah dan keluarga sesungguhnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan anak menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bertanggung jawab.
Membangun Disiplin Positif dan Tanggung Jawab
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan kemitraan yang nyata antara sekolah dan keluarga. Sekolah perlu memiliki aturan perilaku serta prosedur pembinaan yang jelas dan disosialisasikan kepada orang tua maupun peserta didik.
Guru dapat menerapkan disiplin positif melalui dialog, penguatan perilaku baik, refleksi, pemulihan hubungan, serta konsekuensi edukatif yang proporsional.
Misalnya, ketika seorang anak mengganggu atau merugikan temannya, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan meminta anak mengucapkan kata maaf. Anak juga perlu memahami dampak perbuatannya dan melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan.
Orang tua memiliki peran penting untuk melanjutkan pembiasaan tersebut di rumah. Anak perlu dibiasakan menghargai orang lain, menyelesaikan tanggung jawab, meminta maaf ketika bersalah, dan menerima konsekuensi dari tindakannya.
Dalam proses pembinaan, suara anak juga harus tetap didengar. Anak perlu diberikan kesempatan menjelaskan apa yang dirasakan dan alasan di balik perilakunya. Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua tindakan anak. Sebaliknya, meminta anak bertanggung jawab bukan berarti mengabaikan perasaannya.
Pendekatan yang adil adalah pendekatan yang berusaha memahami latar belakang perilaku tanpa menghilangkan tanggung jawab atas dampaknya.
Nilai tanggung jawab ini juga sejalan dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pesan tersebut mengingatkan bahwa mendidik dan mengasuh anak merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Kasih Sayang Juga Berarti Berani Mengingatkan
Pada akhirnya, pendidikan bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling benar antara guru dan orang tua. Pendidikan merupakan kerja bersama untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan.
Kita tidak boleh hanya sibuk membicarakan hak anak untuk dilindungi, tetapi melupakan tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik mereka agar memahami kewajiban dan konsekuensi dari setiap tindakan.
Anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang selalu membelanya, tetapi juga membutuhkan orang dewasa yang berani membimbingnya. Mereka membutuhkan kasih sayang, tetapi juga membutuhkan aturan. Mereka membutuhkan penghargaan, tetapi juga perlu belajar menerima koreksi.
QS. At-Tahrim ayat 6 mengingatkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga. Pesan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan tidak boleh diabaikan.
Sudah saatnya guru dan orang tua membangun kembali kepercayaan serta komunikasi yang sehat. Jangan biarkan guru takut mendidik dan jangan biarkan orang tua keliru memahami perlindungan anak.
Sebab, membela anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Kasih sayang yang sesungguhnya bukanlah membiarkan anak melakukan apa saja, melainkan membimbingnya agar mampu membedakan yang benar dan salah, berani mengakui kesalahan, menghormati sesama, serta bertanggung jawab atas pilihannya.
Pendidikan yang baik bukan hanya melindungi anak dari kekerasan, tetapi juga membimbingnya menjadi pribadi yang berkarakter dan bertanggung jawab. []
Editor/Publisher: Hamdani
*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dasar (PENDAS), Universitas Almuslim, Bireuen

