Iklan

terkini

[Opini] Jangan Biarkan Duka Aceh Berulang Tanpa Perubahan: Saatnya Membangun Integritas dan Kesadaran Ekologis

Redaksi
Kamis, November 05, 2026, 15:36 WIB Last Updated 2026-11-05T08:36:31Z
Ilustrasi 

Oleh: Khaira Amalia, S.Pd., Nuraini, S.Pd., Gr., Dr. Muhammad Iqbal, M.Pd., dan Dr. Aminah, M.Pd.*)

Tanah Rencong seolah tidak pernah benar-benar selesai dengan duka. Setelah gempa dan tsunami dahsyat yang mengguncang Aceh dua dekade silam, masyarakat kembali dihadapkan pada rangkaian bencana alam, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor yang berulang kali melanda sejumlah wilayah, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan.

Di balik ketegaran masyarakat Aceh yang selama ini dikenal tangguh menghadapi berbagai cobaan, ada pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: mengapa bencana seolah menjadi peristiwa yang terus berulang, sementara perubahan mendasar dalam cara kita memperlakukan alam dan membangun karakter masyarakat belum terlihat cukup kuat?

Setiap kali bencana datang, solidaritas masyarakat biasanya tumbuh luar biasa. Posko bantuan didirikan, donasi mengalir, relawan berdatangan, dan media sosial dipenuhi ungkapan kepedulian. Namun, ketika air mulai surut, lumpur dibersihkan, dan perhatian media beralih ke isu lain, kepedulian itu perlahan meredup.

Kita seolah terbiasa merespons bencana dengan air mata, tetapi belum sepenuhnya menjadikannya momentum untuk melakukan perubahan.

Padahal, bencana seharusnya tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam atau takdir yang harus diterima. Bencana juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kebijakan pembangunan, perilaku manusia terhadap lingkungan, serta kualitas pendidikan karakter yang selama ini kita tanamkan kepada generasi muda.

Pendidikan Karakter Tidak Cukup Berhenti di Ruang Kelas

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah bagaimana pendidikan karakter diterapkan dalam kehidupan nyata.

Selama ini, nilai-nilai seperti gotong royong, empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sering kali diajarkan melalui teori, buku pelajaran, serta hafalan di ruang kelas. Padahal, karakter tidak cukup dibentuk melalui apa yang didengar dan dihafalkan, tetapi harus tumbuh melalui pengalaman dan tindakan nyata.

Ketika sekolah rusak akibat banjir, fasilitas pendidikan terendam, dan anak-anak harus belajar di tenda pengungsian, sesungguhnya terdapat ruang pembelajaran yang sangat berharga.

Di tengah keterbatasan tersebut, anak-anak dapat belajar tentang arti kepedulian, ketangguhan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Mereka menyaksikan bagaimana guru, relawan, dan masyarakat saling membantu untuk membangun kembali kehidupan yang sempat porak-poranda.

Pengalaman semacam ini dapat menjadi pembelajaran karakter yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar menyampaikan nasihat moral di dalam kelas.

Karena itu, pendidikan pascabencana perlu diarahkan pada pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan nyata. Misalnya, membersihkan lingkungan sekolah, membantu pemulihan fasilitas umum, menjaga kebersihan saluran air, merehabilitasi sumber air yang tercemar, serta mengampanyekan pelestarian hutan dan lingkungan.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang memiliki kepekaan sosial dan kepedulian ekologis.

Integritas Ekologis: Jangan Terus Menyalahkan Cuaca

Persoalan lain yang tidak boleh diabaikan adalah hubungan antara aktivitas manusia dan kerusakan lingkungan.

Kita tidak bisa terus-menerus berlindung di balik alasan cuaca ekstrem ketika banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan permukiman masyarakat. Faktor alam memang berpengaruh, tetapi kondisi lingkungan yang mengalami kerusakan juga perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi.

Alih fungsi hutan, pembalakan liar, perubahan kawasan resapan air, serta lemahnya pengawasan tata ruang merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian serius.

Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan merupakan penyangga kehidupan yang menjaga keseimbangan ekosistem, mengatur tata air, dan melindungi masyarakat dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan.

Ketika hutan dikorbankan demi keuntungan ekonomi jangka pendek, masyarakat luas berpotensi menanggung dampak yang jauh lebih besar.

Di sinilah makna integritas perlu diperluas. Integritas bukan hanya tentang kejujuran dalam administrasi, tidak melakukan korupsi, atau menjalankan tanggung jawab sesuai aturan. Integritas juga menyangkut kejujuran ekologis, yakni keberanian untuk bersikap adil terhadap alam dan tidak menggadaikan keselamatan generasi mendatang demi kepentingan segelintir pihak.

Generasi muda Aceh harus dibekali kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Mereka perlu memiliki keberanian sipil (civic courage) untuk mempertanyakan kebijakan pembangunan yang berpotensi merusak kawasan hutan, daerah resapan air, dan ekosistem.

Pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keselamatan manusia serta keberlanjutan lingkungan.

Solidaritas Jangan Hanya Hadir Ketika Bencana

Aceh memiliki modal sosial yang sangat kuat. Nilai-nilai keagamaan dan tradisi lokal telah lama mengajarkan pentingnya kebersamaan, kepedulian, serta tolong-menolong.

Tradisi meuripee, kenduri, dan berbagai bentuk gotong royong merupakan bukti bahwa masyarakat Aceh memiliki akar solidaritas yang kuat.

Namun, tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana memastikan kepedulian tersebut tidak hanya muncul ketika bencana terjadi.

Memberikan bantuan makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok kepada korban tentu merupakan tindakan mulia. Akan tetapi, kepedulian tidak boleh berhenti pada bantuan darurat. Korban bencana membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, baik dalam pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan psikososial, maupun kehidupan sosial mereka.

Kita perlu membangun jaringan komunitas tangguh yang melibatkan sekolah, pemuda, lembaga adat, pemerintah desa, dan berbagai organisasi masyarakat.

Program seperti pembentukan posko siaga bencana berbasis desa, pendampingan psikososial bagi anak-anak korban bencana, penguatan kapasitas masyarakat menghadapi keadaan darurat, hingga gerakan menjaga daerah aliran sungai perlu menjadi agenda bersama.

Lebih dari itu, solidaritas harus melampaui batas wilayah administratif dan kepentingan kelompok. Ketika satu daerah di Aceh mengalami bencana, penderitaan masyarakatnya merupakan tanggung jawab bersama.

Jangan sampai keluarga korban merasa ditinggalkan setelah bantuan darurat berhenti dan sorotan media menghilang.

Kepedulian sejati bukan hanya hadir ketika seseorang kehilangan rumah, tetapi juga ketika ia berjuang membangun kembali kehidupannya.

Dari Air Mata Menuju Gerakan Perubahan

Bencana alam di Aceh merupakan babak duka yang berulang. Namun, peristiwa tersebut sekaligus menjadi alarm keras agar kita berani mengevaluasi berbagai kelalaian yang selama ini mungkin dianggap biasa.

Rumah boleh roboh, jembatan boleh terputus, dan harta benda boleh hanyut disapu banjir. Namun, jangan sampai integritas moral, kepedulian sosial, dan kecintaan kita terhadap lingkungan ikut terkubur bersama lumpur bencana.

Sudah saatnya air mata duka di Tanah Rencong ditransformasikan menjadi energi perubahan.

Pemerintah harus memperkuat tata kelola lingkungan dan pengawasan pemanfaatan ruang. Lembaga pendidikan perlu menghadirkan pendidikan karakter yang berorientasi pada pengalaman dan aksi nyata. Sementara itu, masyarakat harus menjaga tradisi solidaritas agar tidak berhenti sebagai gerakan bantuan sesaat.

Kita juga perlu membangun kesadaran bahwa keselamatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam. Merawat hutan, menjaga sungai, melindungi kawasan resapan air, dan membangun budaya peduli lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita dalam menghadapi bencana bukan semata-mata seberapa cepat membangun kembali rumah dan infrastruktur yang rusak. Lebih penting dari itu adalah seberapa besar kemampuan kita memperbaiki pola pikir, membangun integritas, memperkuat solidaritas, dan mencegah kerusakan serupa terulang.

Aceh membutuhkan generasi yang bukan hanya tangguh menghadapi bencana, tetapi juga berani mencegah penyebab kerusakan lingkungan. Generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kepedulian, tetapi mampu mewujudkannya dalam tindakan.

Jangan biarkan duka menjadi rutinitas yang terus diwariskan. Jadikan setiap bencana sebagai pelajaran, setiap kepedulian sebagai gerakan, dan setiap air mata sebagai awal perubahan menuju Aceh yang lebih berintegritas, tangguh, dan berkelanjutan. []

Editor/Publisher : Hamdani

*) Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Dasar (PENDAS), Universitas Almuslim, Bireuen
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Jangan Biarkan Duka Aceh Berulang Tanpa Perubahan: Saatnya Membangun Integritas dan Kesadaran Ekologis

Terkini

Topik Populer

Iklan