Iklan

terkini

Dentuman Meriam Bambu, Gema Warisan Leluhur: DKA Bireuen Hidupkan Tradisi Toet Beude Trieng

Redaksi
Sabtu, Oktober 10, 2026, 19:29 WIB Last Updated 2026-10-10T12:30:03Z
Bupati Bireuen H. Mukhlis, ST (jongkok), sedang mencoba meriam bambu sebagai tanda pembukaan kegiatan Festival Toet Budee Trieng. (Foto/Hamdani)

Laporan: Hamdani

Dentuman keras yang menggema dari meriam bambu bukan sekadar suara yang memecah kesunyian. Di balik bunyinya yang menggelegar, tersimpan jejak sejarah, semangat kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Aceh yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semangat itulah yang kembali dihidupkan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen melalui Festival Toet Beude Trieng dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen. Kegiatan yang berlangsung di Stadion Paya Kareung, Sabtu 10 Oktober 2026, menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi leluhur sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Sebanyak 17 tim dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen ambil bagian dalam festival tersebut. Para peserta  adalah para guru yang merupakan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Madrasah (MKKM). Mereka para guru telah memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi gerakan bersama yang melintasi lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, festival ini menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.

Menjaga Tradisi, Merawat Identitas

Tokoh adat Bireuen dari Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Bireuen, H. Yusri, S.Sos., dalam sambutannya pada pembukaan festival menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan semata-mata perlombaan untuk memperebutkan hadiah. Lebih dari itu, festival menjadi bagian dari upaya melestarikan kebudayaan Aceh, khususnya tradisi Toet Beude Trieng.

“Ini adalah dalam rangka melestarikan budaya Aceh. Kemudian dalam kegiatan ini tidak diperkenankan menggunakan bahan kimia seperti karbit,” kata Yusri.

Penegasan tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga nilai tradisi dengan tetap memperhatikan keselamatan. Meriam bambu memang dikenal melalui suara dentumannya yang khas, tetapi pelaksanaannya perlu diarahkan agar berlangsung secara aman dan tidak mengabaikan aturan yang telah ditetapkan panitia.

Dalam festival ini, penilaian tidak hanya berfokus pada kerasnya suara dentuman. Aspek teknis turut menjadi perhatian, mulai dari konsep penampilan, kostum, hingga suara yang dihasilkan.

Dengan demikian, setiap tim dituntut menghadirkan penampilan yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerminkan kreativitas, kekompakan, dan penghargaan terhadap warisan budaya.

Panitia menyediakan Piala Bupati Bireuen serta hadiah uang tunai dengan total Rp26 juta. Selain itu, setiap tim juga memperoleh uang pembinaan sebesar Rp1 juta.

Yusri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, termasuk panitia dan para peserta.

“Terima kasih kepada semua pihak, panitia dan juga peserta yang telah berpartisipasi. Serta mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang dalam pelaksanaan kegiatan ini,” ujarnya.

Pesan Bupati: Budaya Lama Jangan Sampai Hilang

Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Toet Beude Trieng merupakan tradisi lama yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

Menurutnya, kebudayaan daerah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang tidak boleh terputus hanya karena perubahan zaman.

“Mudah-mudahan budaya lama kita harus terus kita lestarikan dan kita selamatkan. Ke depan, budaya kita di Bireuen akan terus kita kembangkan,” ungkap Mukhlis.

Ia juga menegaskan bahwa mekanisme penilaian dalam festival diserahkan kepada dewan juri yang bertugas secara independen.

“Juri sangat independen dan tidak ada keberpihakan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa festival tidak hanya mengutamakan kemeriahan, tetapi juga menjunjung sportivitas dan keadilan dalam kompetisi.

Bagi masyarakat, kegiatan seperti ini dapat menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antarkecamatan. Di saat yang sama, festival memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal tradisi yang mungkin selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua.

Jejak Sejarah di Balik Dentuman Bambu

Dalam bahasa Aceh, kata toet berarti menyalakan atau membakar, sedangkan beude trieng merujuk pada meriam bambu. Tradisi ini dikenal sebagai salah satu bentuk permainan rakyat yang berkembang di berbagai wilayah Aceh, dengan Kabupaten Pidie dikenal sebagai salah satu daerah yang kuat mempertahankannya.

Masyarakat biasanya memainkan meriam bambu untuk memeriahkan momen tertentu, terutama selama Ramadan dan menjelang atau saat Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha.

Asal-usul tradisi ini kerap dikaitkan dengan pengenalan meriam dalam sejarah peperangan di Nusantara, termasuk pada masa kedatangan bangsa Portugis. Namun, hubungan historis tersebut perlu ditelusuri melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memastikan kronologi dan perkembangannya.

Dalam ingatan kolektif masyarakat, dentuman meriam bambu juga kerap dihubungkan dengan semangat perjuangan pada masa lalu. Suaranya yang menggelegar menjadi simbol keberanian, kebersamaan, dan daya cipta masyarakat dalam menghadirkan bentuk tiruan meriam menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Seiring waktu, fungsi tradisi tersebut berkembang. Apa yang dahulu dikenal sebagai permainan rakyat kini juga menjadi bagian dari ekspresi budaya dan ruang pertemuan sosial bagi masyarakat.

Di sejumlah daerah, tradisi meriam bambu tetap hidup dalam suasana perayaan keagamaan dan hari-hari besar. Dentumannya menjadi penanda kegembiraan sekaligus pengingat akan kebiasaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu.

Dari Warisan Leluhur Menuju Generasi Mendatang

Festival Toet Beude Trieng di Bireuen menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui cerita atau dokumentasi semata. Tradisi membutuhkan ruang untuk dipraktikkan, diperkenalkan, dan diwariskan secara berkelanjutan.

Kehadiran 17 tim dari seluruh kecamatan menjadi gambaran bahwa kebudayaan dapat menyatukan berbagai unsur masyarakat dalam satu kegiatan. Keterlibatan K3S dan MKKM juga membuka peluang agar nilai-nilai budaya lokal semakin dekat dengan lingkungan pendidikan.

Namun, menjaga tradisi bukan berarti mempertahankan seluruh praktik lama tanpa penyesuaian. Pelestarian harus berjalan beriringan dengan keselamatan, kepatuhan terhadap ketentuan, dan pemahaman sejarah yang benar. Dalam konteks permainan meriam bambu, aspek keamanan menjadi sangat penting mengingat risiko yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan bahan pemicu dan tekanan di dalam tabung bambu.

Karena itu, keberlanjutan tradisi memerlukan dukungan pemerintah daerah, komunitas seni dan budaya, tokoh adat, lembaga pendidikan, serta masyarakat luas.

Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen pun dapat dimaknai lebih dari sekadar perayaan usia daerah. Momentum ini menjadi kesempatan untuk meneguhkan identitas lokal dan memastikan warisan leluhur tetap mendapat tempat di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, dentuman Toet Beude Trieng bukan hanya tentang seberapa keras suara yang terdengar di Stadion Paya Kareung. Lebih jauh, dentuman itu membawa pesan bahwa sebuah daerah akan tetap memiliki jati diri selama masyarakatnya bersedia mengenal, menghargai, dan merawat warisan budayanya.

Sebab, ketika tradisi dijaga bersama, yang diwariskan bukan hanya sebuah permainan, melainkan juga ingatan sejarah, semangat kebersamaan, dan kebanggaan menjadi bagian dari masyarakat Aceh. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dentuman Meriam Bambu, Gema Warisan Leluhur: DKA Bireuen Hidupkan Tradisi Toet Beude Trieng

Terkini

Topik Populer

Iklan