Iklan

terkini

[Opini] 39 Tahun PNL: Sepucuk Surat Cinta dari Buketrata

Redaksi
Senin, Oktober 05, 2026, 07:38 WIB Last Updated 2026-10-05T00:38:25Z

Oleh: Dr. Hilmi, S.E., M.M., CBA., CTAM., CRP.*)

Jika Buketrata bisa bercerita, ia akan bercerita tentang sepi...

Tahun 1987, di Km 280,3 jalan Banda Aceh-Medan itu tidak ada apa-apa. Hanya ilalang setinggi dada, angin yang lewat tanpa menyapa, dan debu yang beterbangan setiap truk melintas.

Tidak ada seorang pun yang percaya, di tanah sesepi itu, akan tumbuh sebuah harapan.

Hari ini, 39 tahun kemudian, harapan itu telah menjadi cahaya. Cahaya yang menerangi ribuan rumah di Aceh. Namanya Politeknik Negeri Lhokseumawe disingkat PNL.

Saya datang tahun 1999. Waktu itu papan di pintu kami masih bertuliskan Jurusan Tata Niaga. Papan tulis kami masih dari kapur yang membuat batuk. Mahasiswa saya datang dengan sepatu berlumpur, seragamnya basah oleh hujan yang turun sejak dari Matangkuli.

Tapi mata mereka, ya Allah, mata mereka bening sekali. Mereka menunduk dan berbisik dengan suara gemetar, Pak, saya cuma ingin hidup saya sedikit lebih baik dari hidup ayah saya.

Saya tidak pernah bisa melupakan bisikan itu. 27 tahun saya simpan bisikan itu di dalam dada saya, seperti menyimpan sebuah amanah suci.

Dan 27 tahun pula saya melihat amanah itu Allah tunaikan, satu per satu, dengan cara yang paling indah.

Saya melihat anak kampung yang dulu tidak berani menatap dosen, hari ini ia sudah memimpin rapat direksi dengan jas rapi, dengan suara yang tegas dan penuh wibawa.

Saya melihat, dengan mata yang berkaca-kaca, dulu mahasiswa yang pernah saya bimbing dengan ketegasan dan kasih sayang di ruang kelas, hari ini ia telah kembali sebagai dosen di kampusnya sendiri. Ia berdiri sejajar dengan kami, orang-orang yang pernah membimbingnya.

Sungguh pemandangan yang paling mengharukan. Kini kami tidak lagi berdiri sebagai dosen dan mahasiswa, kami berdiri sebagai kolega, sebagai mitra sejawat, menjaga mimbar keilmuan yang sama, dengan cinta yang sama.

Saya melihat gadis pemalu dari desa yang dulu suaranya hampir tak terdengar saat presentasi, hari ini dengan percaya diri ia mengirim produk UMKM-nya hingga ke mancanegara.

Apalagi yang bisa membuat seorang guru lebih bahagia dari ini?

Lihatlah apa yang telah kita bangun bersama dari sepi itu, dari nol itu.

Dari yang dulu hanya 3 jurusan, kini berdiri tegak 6 jurusan yang kokoh. Dari yang dulu hanya beberapa program studi, kini mekar menjadi 30 program studi yang harum. Dari bengkel sederhana yang atapnya bocor, kini berdiri megah lebih dari 90 laboratorium modern yang lampunya tidak pernah padam, karena di dalamnya ada mimpi anak-anak Aceh yang dijaga semalaman.

Dan yang paling membuat dada saya sesak oleh bangga, hari ini tangga itu telah utuh. Tangga yang dulu kita bangun anak tangganya satu per satu dengan susah payah. Kini tangga itu telah sempurna, dari D3 sampai Magister Terapan. Dulu kita hanya berani memimpikannya, hari ini Magister Terapan itu sudah ada di pelukan kita. Dan semoga, dengan izin Allah, kelak kita akan menghadirkan Doktor Terapan. Insya Allah.

Jika hari ini orang-orang di Jakarta menyebut PNL pernah sebagai kampus vokasi terbaik nomor dua  di Indonesia, percayalah, itu bukan karena gedung kami yang tinggi.

Itu karena hati orang-orang di dalamnya yang tidak pernah tinggi hati.

Itu karena tangan laboran yang hitam oleh oli, tapi tulus memutar kunci pas setiap pagi. Itu karena mata tenaga kependidikan yang lelah menatap angka, tapi tidak pernah lelah melayani. Itu karena sapu lidi para petugas kebersihan kita yang setiap pagi-pagi sekali sudah menyapu halaman, agar anak-anak kita bisa belajar dalam keadaan bersih dan nyaman.

Kita pernah dihina, pernah dipandang sebelah mata sebagai kampus kelas dua, kampus pinggiran. Kita tidak pernah membalas dengan kata-kata kasar. Kita hanya saling menggenggam tangan lebih erat, dan bekerja lebih keras lagi, sambil memeluk satu nilai yang menjadi jiwa kita bersama: Berakhlak, Inovatif, Unggul, Berdaya Saing Global.

Maka di hari yang penuh air mata bahagia ini, izinkan saya yang telah menghabiskan separuh usia saya di kampus ini untuk bersimpuh dan mengucapkan terima kasih.

Terima kasih untuk para perintis 5 Oktober 1987. Bapak-bapak yang berani menanam benih di tanah Buketrata yang tandus dengan tangan kosong, saat semua orang menertawakan mimpi kalian. Tanpa keberanian kalian, tidak ada kami hari ini.

Terima kasih untuk setiap Direktur dari masa ke masa, yang dengan sabar dan dengan cinta menjaga pelita kecil ini agar tidak pernah padam, meski dihantam krisis moneter, diterjang tsunami yang meluluhlantakkan, dan diuji pandemi yang mencekam. Nama kalian tertulis abadi di setiap hembusan angin Buketrata.

Terima kasih untuk para dosen, teman sejawatku, sahabat seperjuanganku. Terima kasih karena telah menjadi keluarga, telah saling menguatkan saat lelah, telah saling menjaga saat jatuh, dan telah bersama-sama merawat rumah ini dengan cinta yang tidak pernah habis.

Dan terima kasih yang tak terhingga untuk nahkoda kita hari ini, sosok teduh yang membawa PNL terbang tinggi, Dr. Ir. Rizal Syahyadi, S.T., M.Eng.Sc., IPM., ASEAN.Eng., yang kami sapa dengan penuh hormat sebagai Pak Didi. Terima kasih Pak Didi, di tangan Bapak, kapal besar yang penuh kenangan ini tidak hanya berlayar. Ia melesat, gagah, membelah ombak, membawa nama Aceh ke panggung dunia.

Wahai PNL-ku.

39 tahun bukan usia untuk berpuas diri. 39 tahun adalah usia untuk bermimpi lebih besar lagi.

Sudah cukup lama kita menjadi kebanggaan Lhokseumawe. Sudah saatnya kita menjadi dekapan dan kebanggaan untuk seluruh Aceh.

Maka dari panggung Dies Natalis ke-39 ini, dengan suara yang bergetar dan dengan mata yang berkaca-kaca, izinkan saya menitipkan satu titipan harapan terakhir saya:

Wahai PNL-ku, rumah jiwaku, bermetamorfosalah menjadi Universitas Politeknik Aceh.

Bentangkan payungmu lebih luas lagi. Biar semua anak Aceh, dari Simeulue sampai Tamiang, bisa berteduh dan bermimpi besar di bawahnya. Jadilah jembatan emas yang menghubungkan kilang-kilang raksasa dengan koperasi kecil di pesisir. Jadilah rahim suci yang melahirkan ekonomi syariah terapan dan kemandirian bangsa.

Biarlah kelak, 20 tahun dari sekarang, cucu kita tidak lagi berkata dengan suara pelan, saya kuliah di Lhokseumawe.

Tapi ia akan berkata dengan dada membusung dan mata berbinar bangga, Saya ditempa dengan cinta di Universitas Politeknik Aceh!

Terima kasih, PNL. Terima kasih untuk 27 tahun terbaik dalam hidup saya. Engkau bukan hanya tempat saya mengajar. Engkau adalah rumah tempat saya pulang. Engkau adalah keluarga tempat saya menangis dan tertawa. Engkau adalah cinta pertama dan terakhir saya.

Selamat ulang tahun ke-39, belahan jiwaku.

Tetaplah menyala. Teruslah menjadi cahaya. Dari Buketrata untuk Dunia. []

Editor: Hamdani

*) Penulis adalah Dosen Jurusan Bisnis yang sudah 27 Tahun Mengabdi di Rumah yang Bernama PNL
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] 39 Tahun PNL: Sepucuk Surat Cinta dari Buketrata

Terkini

Topik Populer

Iklan