Ilistrasi (Sumber: Kompasiana)
Oleh: Hamdani SE., MSM & Nanda Ameliany, M.Si*)
Indonesia telah menetapkan visi besar: Indonesia Emas 2045. Sebuah cita-cita kolektif untuk menjadikan negeri ini maju, sejahtera, dan berdaya saing tinggi ketika memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Namun, visi besar tersebut hanya dapat terwujud bila satu faktor utama benar-benar diperkuat: kualitas sumber daya manusia (SDM). Pembangunan infrastruktur, teknologi, dan reformasi regulasi penting, tetapi tanpa SDM unggul semuanya tidak akan maksimal.
Pendahuluan
Tak bisa dipungkiri, Sumber Saya Manusia (SDM) adalah penentu utama kemajuan sebuah bangsa. Hal ini sudah dibuktikan oleh banyak negara-negara maju di dunia. Indonesia pun dapat mencapai lompatan serupa jika mampu memperkuat SDM secara sistematis.
Perjalanan negara-negara maju menunjukkan bahwa kunci keberhasilan mereka bukan semata kekayaan alam, melainkan kualitas manusianya. Jepang tidak memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi unggul pada SDM. Korea Selatan berangkat dari kemiskinan, namun kini menjadi negara industri berkat pendidikan dan inovasi.
Pada 2045, Indonesia diprediksi masih menikmati bonus demografi, di mana penduduk usia produktif mendominasi. Tetapi bonus ini dapat berubah menjadi bencana demografi apabila masyarakat usia produktif tidak memiliki keterampilan, kesehatan, etos kerja, dan integritas yang dibutuhkan industri masa depan.
Kiat-Kiat Meningkatkan SDM Menuju Indonesia Emas
Ada beberapa kita untuk meningkatkan SDM, yang pertama adalah dengan melakukan reformasi pendidikan yang berorientasi masa depan.
Pendidikan Indonesia harus bergeser dari sekadar fokus akademik menjadi pendidikan yang membangun kompetensi abad 21: critical thinking, creativity, digital literacy, problem solving, dan kolaborasi.
Kurikulum harus lebih fleksibel, mendukung pembelajaran berbasis proyek, riset kecil-kecilan, dan pengalaman lapangan. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat kolaborasi dengan industri agar lulusan siap kerja dan siap berinovasi.
Kemudian yang kedua, adalah peningkatan kualitas guru dan dosen. SDM unggul tidak mungkin lahir tanpa pendidik yang unggul. Maka yang dibutuhkan adalah: pelatihan berkelanjutan, insentif berbasis kinerja, penguasaan teknologi pembelajaran, peningkatan kesejahteraan, serta penyederhanaan birokrasi agar pendidik fokus pada mengajar, bukan administrasi.
Selanjutnya yang ketiga, penguatan karakter dan integritas. Indonesia tidak hanya membutuhkan warga yang pintar, tetapi juga berkarakter. Tantangan korupsi, intoleransi, dan lemahnya budaya disiplin harus diatasi melalui: pendidikan karakter sejak dini, keteladanan dari pemimpin, serta budaya kerja yang profesional dan akuntabel. Karakter mulia menjadi pondasi bagi kemajuan bangsa.
Yang ke empat, pengembangan kompetensi figital. Era digital menuntut masyarakat menguasai teknologi, bukan justru tenggelam olehnya. Pemerintah perlu memperluas akses internet berkualitas, literasi digital, pelatihan daring, serta mendorong generasi muda terlibat dalam coding, AI, desain digital, hingga entrepreneur berbasis tech-startup.
Ke lima, investasi kesehatan masyarakat. SDM yang sehat lebih produktif. Oleh karena itu: gizi anak harus diprioritaskan untuk mencegah stunting, layanan primer diperkuat, tenaga kesehatan ditingkatkan kemampuannya, dan kampanye pola hidup sehat harus diperluas.
Generasi emas tidak boleh tumbuh dalam kondisi gizi dan kesehatan yang lemah.
Lalu yang ke enam, mendorong ekosistem riset dan inovasi. Negara maju adalah negara yang risetnya kuat. Untuk itu Indonesia harus: meningkatkan anggaran riset, memperkuat kolaborasi kampus-industri-pemerintah, memberikan insentif inovasi, serta melahirkan lebih banyak penemu, teknopreneur, dan inovator muda.
Tanpa inovasi, sulit Indonesia bersaing dalam ekonomi global.
Terakhir, penguatan dunia kerja dan pelatihan vokasi. Pelatihan vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK) perlu dioptimalkan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Industri harus terlibat langsung dalam perencanaan pelatihan agar kompetensi sesuai kebutuhan pasar.
Kendala-Kendala yang Dihadapi Indonesia
Meski banyak peluang, terdapat sejumlah tantangan besar yang masih perlu diselesaikan.
Pertama, ketimpangan kualitas pendidikan. Sekolah di kota besar berbeda jauh dengan sekolah di pedalaman. Akses guru berkualitas, teknologi, dan sarana yang belum merata menyebabkan kualitas SDM ikut timpang.
Kedua, tingginya angka stunting dan masalah kesehatan. Stunting menghambat kecerdasan dan produktivitas jangka panjang. Meski sudah menurun, angkanya masih menjadi ancaman bagi generasi 2045.
Tiga, minimnya keterampilan digital. Sebagian besar tenaga kerja masih tergolong low skill dan rentan tergilas otomatisasi. Ketidaksiapan digital dapat menjadi hambatan besar ketika industri global bergerak ke arah AI dan otomasi.
Empat, budaya kerja yang lemah. Inibterksit masalah disiplin, rendahnya etos kerja, dan minimnya integritas masih menjadi persoalan struktural yang menghambat produktivitas nasional.
Lima, korupsi dan tata kelola yang belum bersih. Korupsi membuat anggaran pembangunan SDM tidak optimal. Tanpa sistem birokrasi yang bersih dan efisien, Indonesia akan berjalan lambat.
Terakhir, kurangnya lolaborasi antara kampus dan industri. Banyak lulusan perguruan tinggi tidak sesuai kebutuhan pasar kerja. Kesenjangan ini membuat tingkat pengangguran terdidik tetap tinggi.
Penutup: Saatnya Melompat, Bukan Lagi Berjalan
Indonesia memiliki peluang luar biasa untuk menjadi negara besar pada 2045. Bonus demografi, kekayaan alam, stabilitas politik, serta pertumbuhan ekonomi merupakan modal kuat. Namun semua itu hanya akan berdampak bila didukung SDM yang unggul, produktif, sehat, dan berkarakter.
Meningkatkan SDM bukan tugas pemerintah semata, tetapi tugas semua elemen bangsa: keluarga, sekolah, kampus, pelaku usaha, media, hingga komunitas. Jika kita bersatu memperkuat pendidikan, karakter, teknologi, dan kesehatan, maka visi Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan—melainkan kenyataan.
Bangsa yang hebat dibangun oleh manusianya. Kini saatnya Indonesia membangun manusia Indonesia yang hebat. []
*) Penulis adalah dosen di Politeknik Negeri Lhokseumawe dan dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara


