Iklan

terkini

Ratusan Tokoh Masyarakat Peusangan Raya Hadir di MBP, Ini yang Dibahas

Redaksi
Kamis, April 27, 2023, 00:53 WIB Last Updated 2023-04-26T17:57:02Z
Imum Syiek Masjid Besar Peusangan Tgk. Hafidz (kanan) disaksikan Ketua Pembangunan  MBP H. Mukhlis, A.Md.,SH menerima sumbangan berupa infaq dari Forum Komunikasi Masyarakat Peusangan Raya Kota Lhokseumawe yang berjumlah Rp 21.5 juta untuk pembangunan masjid (Foto/Hamdani)

Bireuen - Seratusan tokoh Peusangan Raya yang terdiri dari Kecamatan Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng dan Jangka hadir ke Masjid Besar Peusangan (MBP)  pada Rabu malam, (26/04/2023). 

Ternyata kehadiran ratusan tokoh tersebut adalah dalam rangka Temu Ramah dan Halal Bihalal Masyarakat Peusangan Raya, juga untuk membahas kelanjutan pembangunan MBP yang saat ini sudah memasuki tahun ke-4 pembangunannya.

Disebutkan oleh Ketua Panitia, H. Mukhlis Amus, M.Si, bahwa  kegiatan dengan motto, "Mempererat Tali Persaudaraan, untuk Pembangunan Peusangan Raya di Masa Mendatang" ini dibuat dengan tujuan kegiatan adalah dalam rangka silaturahmi Masyarakat Peusangan Raya, yang diinisiasi oleh empat camat di Peusangan Raya.

"Dasar pelaksanaan kegiatan ini atas inisiasi empat camat yang berada di wilayah Peusangan Raya. Tujuan pertemuan untuk memperkuat silaturahmi tokoh masyarakat di wilayah Peusangan Raya, maupun tokoh Peusangan Raya yang berada di wilayah di luar Kabupaten Bireuen," ungkap Mukhlis Amus.

Tambah Mukhlis, terkait dengan kegiatan mempersatukan tokoh tersebut, karena peran mereka sangat diharapkan saat ini.

"Undangan yang kami edar dari berbagai unsur mencapai ratusan orang. Pembiayaan kegiatan ini berasal dari camat empat kecamatan dan para donatur lainnya," pungkas Mukhlis Amus.

Ketua Pembangunan Masjid Besar Peusangan, H. Mukhlis, A.Md.,SH atau lebih dikenal dengan panggilan Mukhlis Takabeya ini dalam sambutannya memaparkan tentang rencana awal dibangun kembali MBP yang baru.

"Saya ingin menceritakan sedikit tentang MBP ini, saat almarhum H. Saifannur masih hidup, mengajak saya untuk jadi ketua pembangunan MBP. Walau pada saat itu, saya tak berada di tempat, saya menyetujui rencana mulia tersebut," papar Mukhlis Takabeya.

Lanjut Mukhlis Takabeya, dasar awal rencana membangun MBP yang baru, karena usia MBP sudah mencapai 51 tahun, dibangun tahun 1972 silam. Sehingga kondisinya sudah tak bisa dipertahankan lagi.

"MBP pada awal tahun 80 an merupakan masjid terbaik, setelah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh," ujar Mukhlis.

"Sebelumnya saat rencana awal pembangunan masjid baru, banyak sekali tantangan, karena banyak pihak yang menolak masjid lama dirobohkan. Tapi karena pertimbangan dan masukan-masukan dari banyak pihak, termasuk almarhum Abu Tumin Blang Bladeh yang menyetujui dirobohkan masjid lama, karena sudah tak layak lagi, maka akhirnya pembangunan MBP yang baru dilanjutkan. Bismillah," ujar pria lulusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Lhokseumawe ini.

Mukhlis Takabeya di hadapan tokoh masyarakat Peusangan Raya juga memaparkan tentang kondisi pembangunan masjid yang baru. Dia menceritakan bahwa, masjid baru nantinya kubahnya adalah masjid dengan kubah terbesar di Aceh. 

"Ini akan menjadi kubah terbesar di Aceh. Sebelumnya setelah melakukan studi banding pada beberapa masid lain yang umumnya bocor, maka kubah ini dibuat dengan bahan Enamel, yang anti bocor," terang lulusan  Sarjana  Hukum Uniki ini.

"Sengaja tak kami cor, karena mempertimbangkan Aceh rentan terhadap gempa.
Kubah ini kita adopsi dari kubah Taj Mahal di India," lanjut pria yang disebut-sebut bakal mencalonkan diri sebagai Bupati Bireuen untuk periode mendatang ini.

Mukhlis Takabeya juga mengatakan, kegiatan pembangunan MBP yang  sudah berjalan empat tahun. Belum siap karena masih terkendala dana.

"Sampai saat ini masih belum siap, karena kekurangan dana. Rencana awal diperkirakan mencapai Rp 100 miliar, tapi melihat kondisi sekarang, mungkin perkiraan awal bisa saja meleset jauh, karena terjadi eskalasi, akibat terjadinya kenaikan harga barang," terangnya.

"Saat ini kalau kita hitung secara fisik, sudah mencapai 42 persen lebih pembangunannya. Dana yang sudah terpakai Rp 37 miliar, dan saat ini terhutang satu miliar," sambungnya.

Mukhlis juga mengatakan alasan membangun kubah besar dengan tinggi kubah mencapai 17 meter, karena disesuaikan dengan bangunan masjid. Seraya mengajak para tokoh untuk sama-sama membantu pembangunan MBP.

"Mari sama-sama kita membangun MBP, untuk kita selesaikan masjid ini. Modal awal saat membangun masjid baru ini hanya Rp400 juta dari kas masjid. Sehingga untuk memancing, saya bersama keluarga menyumbang satu miliar," terang Mukhlis 

"Saya berharap mari sama-sama kita berpikir supaya masjid ini cepat selesai. Jangan tinggalkan saya sendiri, jadi mari sama-sama. Jangan sampai pembangunannya berhenti, karena selama ini belum pernah berhenti," pungkasnya.

Usai memberi sambutan, Mukhlis Takabeya menerima infaq dari Forum Komunikasi Masyarakat Peusangan Raya Kota Lhokseumawe yang berjumlah Rp 21.5 juta.

Selanjutnya mewakili tokoh masyarakat Peusangan Raya H. Yusri, S.Sos, memaparkan tentang kejayaan Peusangan yaitu era tahun 1930 yang dipelopori oleh Ampon Chiek Peusangan, kemudian era 1980 yaitu kepala wilayah, yaitu Camat MA Jangka.

"Saya selalu mengingatkan untuk membangun masjid harus ada tiga syarat, pertama kompak, kedua transparan, ketiga kejujuran panitia pelaksana," ujar Yusri.

"Ada problem lain akibat kita membangun masjid, yaitu terganggunya proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Matang Glumpang Dua, sehingga harus direlokasi," lanjutnya.

Kemudian masalah kedua di Peusangan Raya, ungkap Yusri, adalah masalah rumah sakit umum daerah yang belum selesai proses.

Kemudian masalah ketiga adalah masalah RS Regional yang sudah menelan biaya Rp40 miliar yang saat ini sudah mangkrak.

Tokoh Peusangan Raya lainnya yang memberikan sambutan adalah Prof. Yusni Saby, MA. Menurut dosen Universitas Islam Negeri Ar-Ranniry Banda Aceh ini, bahwa ini adalah pertemuan luar biasa, yang menjadi ciri khas masyarakat Peusangan Raya.

"Ini merupakan hal yang luar biasa dalam rangka menjalin silaturahim. Setiap persoalan yang sudah disampaikan sebelumnya ini akan kita pikirkan bersama," ujarnya.

"Kita berkumpul di sini adalah dalam rangka memupuk kekompakan, sehingga kita menyadari titik lemah yang kemudian kita pikirkan untuk dicari solusi," lanjutnya.

Menurut Prof. Yusni Saby, di luar Banda Aceh, maka Peusangan adalah yang utama dalam hal pendidikan. Ada Umuslim ada IAI. Juga ada lain-lain yang segera tumbuh.

"Maka dari itu, penting sekali persatuan. Oleh sebab itu, masing-masing kita wajib berkontribusi agar terciptanya silaturahim antara kita. Untuk itu, kita harus saling peduli. Makanya, kalau kita sadar akan pentingnya pendidikan, maka siapkan anak-anak kita untuk melanjutkan pendidikan, bukan hanya di Bireuen, di Banda Aceh, atau provinsi lain. Bahkan di mancanegara," pesannya.

Menurut Yusni Saby, tahun 1950 an sampai 1980 an, yang kuliah di Banda Aceh umumnya adalah dari Peusangan. Sehingga anak-anak Peusangan menjadi guru dimana-mana.

Kemudian terkait pembangunan masjid, menurut Yusni Saby, hal ini akan terwujud, "jika semua  kompak. Ini tergantung kita, saat ini sudah mencapai empat tahun, tahun depan lima tahun, apakah akan mencapai tujuh tahun? Ini tergantung kita," ujar putra asli Bugak Krung Mate, Kecamatan Jangka ini.

"Mari sama-sama kita mengatasi masalah. Terakhir harapan saya, kita hanya akan berjaya kalau bersama-sama kalau kita bersatu, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalau bersama-sama, kita akan kuat dan disegani, paling kurang di Aceh ini," pungkasnya.

Terakhir Imum Syiek MBP, Muhammad Hafidz, S.Sos.I, mengatakan, apa yang sudah disampaikan oleh guru-guru kita sebelumnya rasanya sudah lengkap.

Terutama apa yang disampaikan oleh Prof. Yusni Saby tentang rasa cinta tanah air, karena dalam Islam sangat dianjurkan.

"Maka silaturahmi adalah suatu wadah untuk mempersatukan ummat. Dari serangkaian fase kegemilangan Peusangan yang telah dilalui sebelumnya, maka fase sekarang ada masalah-masalah, mungkin karena banyak faktor. Tapi walau demikian, kita tetap optimis. Kita kalau tidak kompak, maka akan mena azab," pungkasnya.

Pantauan media ini yang ikut menghadiri kegiatan tersebut, hadir dalam kegiatan tersebut para tokoh Peusangan Raya, selain Mukhlis Takabeya, dan Prof. Husni Saby, terlihat hadir juga Rektor IAI Almuslim Peusangan Bireuen, Dr. Nazaruddin, MA, Rektor Universitas Almuslim Dr. Marwan Hamid, M.Pd para anggota DPRK Bireuen dapil II Munazir Nurdin, S.Sos, Fahmi, ST.,MT, Murdani, dan Jasman Rani.

Juga hadir juga empat camat dari empat kecamatan yang berada di wilayah Peusangan Raya, yaitu Kecamatan Peusangan, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kecamatan Peusangan Selatan. Serta ratusan tokoh Peusangan Raya lainnya. [Hamdani]
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ratusan Tokoh Masyarakat Peusangan Raya Hadir di MBP, Ini yang Dibahas

Terkini

Iklan