Iklan

terkini

Dari Abu Terbang Menjadi Memimpin Kampus, Meneliti di Sunyi Malam: Kisah Doktor Rizal Syahyadi

Redaksi
Selasa, Maret 03, 2026, 13:53 WIB Last Updated 2026-03-03T06:53:51Z
Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe Dr. Ir. Rizal Syahyadi, S.T., M.Eng.Sc., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng. (Foto/ Ist)

Laporan: Hamdani

Langkah Rizal Syahyadi tampak tenang, tetapi matanya menyimpan perjalanan panjang yang tidak sederhana. Di Ruang Teleconference Lantai II Gedung A Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh  pada Selasa pagi, 3 Maret 2026, ia berdiri bukan hanya sebagai seorang mahasiswa doktoral, melainkan sebagai pemimpin kampus vokasi yang membawa mimpi tentang masa depan konstruksi yang lebih hijau.

Hari ini, Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Teknik, ia merupakan lulusan ke-123 di lingkungan USK. Namun, angka itu hanyalah penanda administratif. Yang lebih bermakna adalah gagasan yang ia perjuangkan: bagaimana abu sisa pembakaran batubara, yang selama ini dipandang limbah, dapat berubah menjadi bagian dari solusi pembangunan berkelanjutan.

Ketika Limbah Menjadi Harapan

Disertasinya berjudul “Studi Penggunaan Fly Ash Nagan Raya sebagai Pengganti Sebagian Semen dalam Campuran Mortar dan Beton.” Di balik judul akademik yang terdengar teknis itu, tersimpan kegelisahan yang sangat manusiawi.

Industri semen dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Setiap bangunan megah, jalan raya, dan jembatan yang berdiri kokoh, diam-diam menyimpan jejak karbon yang tidak kecil. Rizal memilih untuk tidak sekadar menerima kenyataan itu. Ia mencari celah perubahan.

Fly ash (abu terbang hasil pembakaran batubara) di kawasan Nagan Raya selama ini menumpuk sebagai residu industri. Melalui penelitian komprehensif terhadap sifat fisik, kimia, dan mekanik material tersebut, Rizal membuktikan bahwa sebagian semen dalam mortar dan beton dapat digantikan oleh fly ash tanpa mengorbankan kualitas struktural.

Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar eksperimen laboratorium. Namun bagi Aceh, itu adalah peluang, karena bisa mengurangi limbah industri, menekan emisi karbon, sekaligus menciptakan standar konstruksi yang lebih ramah lingkungan.

Menjadi Mahasiswa di Tengah Amanah Kepemimpinan

Rizal memulai studi doktoralnya pada 2023. Di saat yang sama, ia mengemban amanah sebagai Direktur PNL untuk periode kedua (2019–2023 dan 2023–sekarang). Jadwalnya padat, tanggung jawabnya besar, dan ekspektasi publik terhadap kepemimpinannya tidak pernah ringan.

Di sela rapat-rapat institusi, agenda kementerian, dan urusan akademik kampus, ia tetap menyisihkan waktu untuk membaca jurnal, menganalisis data laboratorium, serta menulis artikel ilmiah.

Tidak banyak yang melihat proses sunyi itu, malam-malam panjang, revisi naskah, hingga diskusi intens dengan promotor.

Ketika artikelnya berjudul “Comprehensive Characterization of Fly Ash as a Sustainable Supplementary Cementitious Material” diterima di Civil Engineering Journal (Scopus Q1), Desember 2025, itu bukan sekadar capaian akademik. Itu adalah validasi global bahwa riset dari Aceh mampu berbicara di panggung internasional.

Publikasi tersebut bahkan membuatnya dibebaskan dari ujian terbuka dan langsung memperoleh nilai A, sesuai ketentuan akademik USK bagi mahasiswa doktor yang berhasil menembus jurnal bereputasi sebagai penulis pertama.

Ilmu, Kepemimpinan, dan Tanggung Jawab Sosial

Rizal bukan sosok baru dalam dunia teknik sipil. Ia menempuh pendidikan Sarjana Teknik di USK dan Magister di University of Malaya. Ia juga dua periode menjabat sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kota Lhokseumawe.

Namun gelar doktor ini menghadirkan dimensi baru: integrasi antara kepakaran akademik dan kepemimpinan institusi. Ia menunjukkan bahwa seorang pimpinan perguruan tinggi vokasi tidak cukup hanya piawai mengelola birokrasi. Ia harus tetap hidup dalam tradisi ilmiah, produktif dalam riset, dan relevan dengan tantangan zaman.

Di tengah isu perubahan iklim dan tuntutan sustainable development, penelitian fly ash Nagan Raya menjadi simbol bahwa solusi tidak selalu datang dari luar negeri. Ia bisa lahir dari tanah sendiri, dari limbah sendiri, dari kegigihan anak daerah sendiri.

Lebih dari Sekadar Gelar
Di akhir sidang promosi doktor itu, tepuk tangan bergema. Namun yang paling terasa bukanlah euforia, melainkan rasa syukur yang tenang. Gelar Doktor Ilmu Teknik bukan sekadar tambahan tiga huruf di depan nama. Ia adalah pernyataan komitmen.

Komitmen bahwa pendidikan vokasi di Aceh harus berbasis riset.

Komitmen bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan lingkungan.
Komitmen bahwa kepemimpinan kampus harus bertumpu pada keilmuan yang kokoh.

Kini, sebagai Doktor Ilmu Teknik ke-123 di USK, Rizal Syahyadi membawa pesan sederhana namun kuat: bahkan dari abu terbang, harapan bisa dibangun. Dan dari ruang laboratorium yang sunyi, masa depan konstruksi yang lebih hijau dapat dirancang, untuk Aceh, untuk Indonesia, dan untuk dunia. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Abu Terbang Menjadi Memimpin Kampus, Meneliti di Sunyi Malam: Kisah Doktor Rizal Syahyadi

Terkini

Topik Populer

Iklan