Iklan

terkini

[Opini] Ramadan: Obat dan Penawar dalam Satu Tahun

Redaksi
Sabtu, Februari 28, 2026, 21:52 WIB Last Updated 2026-02-28T14:52:54Z
Oleh: Dr. (C) Ns. Alhuda., S.Kep., M.Kes., M.Pd., WOC., (ET)N., CHtN*)

"...Ramadan adalah obat dan penawar dalam satu tahun, menyembuhkan yang tampak dan yang tak tampak, membersihkan yang lahir dan yang batin.."

Ramadan bukan sekadar perintah ritual tahunan, melainkan momentum pemulihan menyeluruh bagi manusia, jasad dan jiwa. Dalam sabda Rasulullah, “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim). Perisai dari dosa, perisai dari api neraka,sebelumnya dalam makna yang lebih luas adalah perisai dari kerusakan fisik dan spiritual yang menumpuk selama sebelas bulan sebelumnya.

Dalam perspektif kesehatan modern, puasa menghadirkan mekanisme biologis yang menakjubkan. Tubuh memasuki fase autolisis, yakni proses alami penghancuran sel-sel rusak untuk kemudian diregenerasi. Ia bekerja seperti sistem detoksifikasi internal yang sunyi namun efektif. 

Sistem imun menjadi lebih adaptif, metabolisme lebih terkendali, dan hormon-hormon yang berkaitan dengan stres menunjukkan keseimbangan yang lebih stabil. Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga; ia mengatur ulang sistem tubuh.

Sabda Nabi yang populer, “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), meski dipahami dalam konteks spiritual, memiliki relevansi medis yang nyata. Sejumlah kajian kontemporer menunjukkan bahwa puasa berkontribusi pada peningkatan sensitivitas insulin, salah satunya melalui peningkatan hormon adiponektin yang berperan dalam metabolisme lemak dan regulasi inflamasi. Risiko diabetes tipe 2 dapat ditekan, tekanan darah cenderung lebih stabil, profil kolesterol membaik, LDL menurun dan HDL meningkat, serta berat badan lebih terkontrol. Dengan demikian, puasa menjadi intervensi preventif terhadap hipertensi, penyakit jantung, obesitas, bahkan gangguan metabolik lainnya.

Namun, Ramadan tidak hanya menyembuhkan tubuh; ia merawat “hati”. Imam Al-Ghazali menekankan bahwa puasa adalah sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Kesombongan diluruhkan oleh rasa lapar yang menyadarkan keterbatasan diri. Iri hati digantikan syukur. Amarah dilatih dalam kesabaran. Kelalaian (ghaflah) dikikis oleh intensitas dzikir dan tilawah. Jika tubuh menjalani detoksifikasi biologis, maka jiwa menjalani detoksifikasi moral.

Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menyebut puasa sebagai terapi yang menyeimbangkan kelebihan cairan dan beban tubuh, sekaligus menenangkan gejolak batin. Dengan kata lain, Ramadhan menghadirkan keseimbangan: antara fisik dan ruhani, antara disiplin biologis dan ketaatan spiritual.

Tentu, manfaat ini tidak hadir secara otomatis tanpa ikhtiar. Sahur dengan gizi seimbang, cukup hidrasi saat berbuka hingga sahur, olahraga ringan, serta istirahat yang memadai adalah bagian dari adab menjaga amanah tubuh. Ramadhan bukan ajang pembalasan lapar di malam hari, tetapi ruang pendidikan pengendalian diri.

Pada akhirnya, Ramadan adalah klinik ilahiah tahunan. Ia mengajarkan bahwa kesehatan bukan hanya urusan laboratorium dan resep medis, tetapi juga urusan niat, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah SWT. Jika dijalani dengan kesadaran, puasa bukan sekadar kewajiban, melainkan terapi komprehensif: mencegah penyakit metabolik, menstabilkan emosi, dan menumbuhkan ketakwaan.

Maka benarlah, Ramadan adalah obat dan penawar dalam satu tahun, menyembuhkan yang tampak dan yang tak tampak, membersihkan yang lahir dan yang batin. []

Publisher: Hamdani

*) Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Ramadan: Obat dan Penawar dalam Satu Tahun

Terkini

Topik Populer

Iklan