Iklan

terkini

Terror Sales

Redaksi
Minggu, September 19, 2021, 19:17 WIB Last Updated 2021-09-19T12:17:05Z
Oleh: Hamdani, SE.,MSM
Staff Pengajar Jurusan Tata Niaga, Politeknik Negeri Lhokseumawe
Email: hamdani@pnl.ac.id

Suatu pagi saat sedang nyetir mobil dengan tujuan ke kampus tempat saya mengabdi sebagai staf pengajar, masuk sebuah panggilan dari nomor asing ke ponsel saya.

"Halo, benarkah ini dengan Bapak Hamdani?" sapa ramah seorang wanita.

"Iya benar jawab saya penasaran, dengan siapa ya?" tanya saya.

"Perkenalkan, saya dari...(menyebut sebuah nama bank, yang kebetulan saya adalah nasabah bank tersebut)," kata wanita bersuara lembut dari seberang.

Belum selesai dia memperkenalkan diri, dengan nada kesal saya langsung menjawab, "Oh, maaf, saya tak ada waktu..." dengus saya.

Tak menyerah, dia menawarkan lagi, "Boleh saya hubungi lagi nanti?" tanyanya.

"Tidak boleh! Jangan pernah hubungi saya lagi," jawab saya jengkel.

Lah, kenapa saya seketus itu? Karena saya merasa kesal sudah berkali-kali dihubungi oleh sales produk jasa yang mengaku dari bank itu menawarkan program asuransi, yang kami para nasabah tidak pernah tahu apa dan bagaimana bentuknya.

Usai kejadian itu, saya pikir mereka sudah menyerah. Eh, sekira pukul 15.40 WIB nomor asing  kembali menghubungi ponsel saya. Sudah tahu, ini pasti dari bank itu lagi, menawarkan asuransi lagi.

Baru saja dia memberi salam dan memperkenalkan diri, dengan suara bergetar menahan kesal langsung saya marahi wanita yang menghubungi saya itu. Tak ada kesempatan sedikitpun dia berbicara.

Pola-pola agresif yang dilakukan bank dengan menghubungi nasabah, apalagi menurut iniformasi yang saya dengar, asuransi ini adalah pihak ke-3, bukan bank secara langsung. Mereka hanya terikat kerjasama, sementara mereka memberikan data nasabah (nama dan nomor kontak). Menurut saya ini salah, karena sangat menganggu kenyamanan nasabah.

Seharusnya bank dan pihak asuransi bersikap profesional dong. Kalau sudah pernah dihubungi sekali tidak berminat, kenapa pula dihubungi lagi dan lagi. Jujur, ini sangat menganganggu. Meraka harusnya punya sistem atau semacam data base, bahwa jika orang yang sudah pernah ditawar menolak, berarti tak usah menawarkan lagi. Bukan malah menawarkan berkali-kali.

Juga seharusnya ada regulasi dari pemerintah atau yang berwenang mengatur tentang kinerja bank untuk memperingatkan bank-bank supaya tak menganggu atau lebih tepatnya "meneror" nasabahnya dengan segala program yang tak pernah diinginkannya.

Memang negara ini makin aneh saja, semua bertindak suka-suka. Kesal saya. Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti itu?

Oya, dalam sebuah pertemuan, saya juga pernah berkeluh kesah terkait gangguan teror telpon dari sales marketing asuransi kepada pihak Bank Indonesia. Ternyata oh ternyata sama mereka juga tak ada solusi.

Mereka hanya menyarankan pada saya, "kalau ditelpon, katakan saja tak berminat,"

Lah, kalau hanya sekali is okey pak, ini udah berpuluh-puluh kali dihubungi. Lagian sekelas orang Bank Indonesia masaka jawabnya begitu? Alamak! []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Terror Sales

Terkini

Topik Populer

Iklan