Iklan

terkini

Di Balik Duka di Perantauan, Azhari Cage Bantu Pulangkan Jenazah Pemuda Aceh dari Malaysia

Redaksi
Kamis, Oktober 22, 2026, 20:50 WIB Last Updated 2026-10-22T13:50:36Z

Laporan: Hamdani

Jarak ribuan kilometer dari kampung halaman tak jarang menjadi ujian berat bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta di negeri orang. Di tengah duka yang menyelimuti keluarga Sufrijal, pemuda berusia 26 tahun asal Alue Lhok, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, kepulangan jenazahnya dari Malaysia menjadi harapan yang berupaya diwujudkan melalui bantuan Senator DPD RI asal Aceh, Azhari Cage.

Sufrijal mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pulau Pinang, Malaysia, pada Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 07.05 waktu setempat. Sebelumnya, ia menjalani perawatan akibat gangguan paru-paru.

Kabar duka tersebut bukan hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga di kampung halaman, tetapi juga menghadirkan persoalan lain yang tidak ringan: bagaimana membawa pulang jenazah dari luar negeri agar dapat dimakamkan di tanah kelahirannya.

Di tengah situasi itu, keluarga menghubungi Azhari Cage untuk meminta bantuan.

“Saya ditelepon oleh abang almarhum bernama Hendra dan ayah almarhum untuk meminta bantu memulangkan anaknya yang telah meninggal,” ujar Azhari Cage kepada wartawan, Rabu malam, 21 Oktober 2026.

Permintaan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan membantu proses pemulangan jenazah Sufrijal dari Malaysia ke Aceh. Seluruh biaya pemulangan, menurut Azhari, ditanggungnya secara pribadi, dengan perkiraan kebutuhan dana mencapai Rp22 juta.

Bantuan itu mencakup proses pemulangan dari Pulau Pinang, Malaysia, hingga ke kawasan Paya Naden, Madat, Aceh Timur, sebelum jenazah diantarkan menuju rumah duka di Aceh.

Perjalanan Pulang Terakhir ke Tanah Kelahiran

Berdasarkan rencana perjalanan yang disampaikan, jenazah Sufrijal dijadwalkan diberangkatkan melalui Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 14.55 waktu Malaysia. Jenazah diperkirakan tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara, pada Kamis sore, sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Aceh.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, perjalanan tersebut bukan sekadar proses pemulangan jenazah. Ada harapan agar anggota keluarga yang meninggal jauh dari rumah dapat kembali ke tanah kelahirannya, sehingga keluarga bisa memberikan penghormatan terakhir dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Dalam keadaan berduka, dukungan seperti ini memiliki arti tersendiri. Selain membantu meringankan beban biaya, kepedulian tersebut juga menjadi penguat bagi keluarga yang harus menghadapi kehilangan dalam situasi yang tidak mudah.

Azhari Cage berharap keluarga Sufrijal diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.

“Kita berharap keluarga yang ditinggalkan dapat tabah dan melalui ujian hidup ini dengan lapang dada,” katanya.

Solidaritas Warga Aceh di Perantauan

Di balik proses pemulangan Sufrijal, terdapat pula cerita tentang solidaritas warga Aceh yang berada di Malaysia. Bagi para perantau, ikatan dengan kampung halaman tidak selalu terputus oleh batas negara. Dalam keadaan sulit, kebersamaan dan kepedulian menjadi kekuatan untuk saling membantu.

Azhari menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah membantu Sufrijal selama berada di Malaysia, terutama warga asal Aceh yang turut memberikan perhatian kepada almarhum semasa hidupnya.

“Terima kasih juga kepada para pihak, terutama warga asal Aceh di Malaysia, yang telah membantu almarhum semasa hidup. Ini menunjukkan persatuan kita masih sangat kuat,” ujarnya.

Kepedulian tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan di perantauan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bertahan secara ekonomi. Jaringan persaudaraan dan rasa senasib juga berperan penting, terutama ketika seseorang menghadapi kesulitan, sakit, atau bahkan meninggal dunia jauh dari keluarga.

Bagi masyarakat Aceh yang bekerja dan menetap di Malaysia, solidaritas semacam ini menjadi bagian penting dari ikatan sosial yang terus terpelihara.

Doa Mengiringi Kepulangan

Kini, keluarga menanti kepulangan Sufrijal untuk terakhir kalinya. Di tengah kesedihan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata, doa menjadi pengharapan yang mengiringi perjalanan almarhum menuju kampung halaman.

Azhari Cage turut mendoakan agar almarhum mendapatkan ampunan dan diterima seluruh amal kebaikannya.

“Kita doakan juga almarhum diampuni segala dosanya dan diterima segala amalannya. Amin,” tuturnya.

Kisah pemulangan Sufrijal memperlihatkan bahwa di tengah kehilangan, kepedulian dapat menjadi jembatan bagi keluarga untuk melewati masa sulit. Bantuan yang diberikan bukan hanya tentang biaya perjalanan, tetapi juga tentang memastikan seorang warga Aceh yang meninggal di negeri orang dapat kembali ke tanah kelahirannya.

Di ujung perjalanan itu, keluarga akan menyambut kepulangan bukan dengan sukacita, melainkan dengan doa dan air mata. Sebuah kepulangan terakhir yang diharapkan membawa ketenangan bagi keluarga, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya persaudaraan bagi warga Aceh, di mana pun mereka berada. []

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Di Balik Duka di Perantauan, Azhari Cage Bantu Pulangkan Jenazah Pemuda Aceh dari Malaysia

Terkini

Topik Populer

Iklan