Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, ST., (tengah) saat menjenguk Munawir, S.Pd., guru SD Negeri 4 Gandapura yang merupakan korban Festival Toet Budee Trieng. (Foto/Ist)
Laporan: Hamdani
Bireuen— Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, ST dan Wakil Bupati Bireuen Ir. Razuardi, ST., MT menjenguk Munawir, S.Pd., guru SD Negeri 4 Gandapura yang menjadi korban insiden dalam kegiatan Toet Beude Trieng (meriam bambu), di RSUD Fauziah Bireuen, Selasa (13/10/2026).
Munawir diketahui merupakan anggota tim Beude Trieng perwakilan MKKS/K3S Kecamatan Gandapura. Ia mengalami kecelakaan saat mengikuti rangkaian kegiatan Festival Toet Beude Trieng yang digelar pada Sabtu (10/10/2026) lalu.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Mukhlis menyampaikan harapan agar Munawir segera pulih, kembali sehat, dan dapat beraktivitas seperti sediakala. Ia juga memberikan dukungan moril kepada korban agar tetap kuat menjalani proses pemulihan.
“Semoga cepat sembuh dan tetap semangat, sehingga secepatnya bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” harap Mukhlis.
Selain memberikan semangat kepada korban, Mukhlis mengingatkan panitia penyelenggara agar menjadikan insiden tersebut sebagai bahan evaluasi, khususnya dalam penerapan standar keselamatan pada setiap kegiatan yang memiliki risiko tinggi.
“Harapan saya, ke depan setiap pelaksanaan kegiatan, apalagi yang berisiko, supaya lebih berhati-hati,” tegas Mukhlis.
Panitia Pastikan Prosedur Keselamatan Telah Disiapkan
Festival Toet Beude Trieng diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bireuen ke-27. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dewan Kesenian Aceh (DKA), serta Majelis Adat Aceh (MAA).
Menanggapi insiden yang menimpa Munawir, Ketua Harian DKA Bireuen, Mulyadi, S.Pd., yang akrab disapa Syeh Muly, menjelaskan kepada media ini, Rabu (14/10/2026), bahwa panitia telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk mendukung keselamatan peserta selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, langkah tersebut meliputi penyediaan alat pemadam api ringan (APAR), ambulans, tenaga medis, serta pengaturan mekanisme pengamanan peserta.
“Panitia dalam proses pelaksanaan telah menyiapkan antisipasi untuk menghindari serta responsif bila terjadi hal-hal yang mencederai peserta, dengan menyediakan APAR, ambulans, tenaga medis, serta mengatur regulasi untuk pengamanan peserta,” jelas Syeh Muly.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran RSUD Fauziah Bireuen yang telah memberikan penanganan medis secara cepat kepada Munawir setelah mengalami insiden saat pemanasan permainan tradisional tersebut.
“Panitia mengucapkan terima kasih kepada pihak RSUD Fauziah Bireuen yang telah menangani dengan cepat Bapak Munawir, S.Pd., guru SDN 4 Gandapura yang tersambar api saat pemanasan permainan Toet Beude Trieng,” ungkapnya.
Evaluasi SOP untuk Mencegah Insiden Serupa
Lebih lanjut, Syeh Muly menegaskan bahwa panitia terus memantau penanganan medis terhadap korban. Pihaknya juga berkomitmen melakukan evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengamanan, terutama untuk kegiatan permainan tradisional yang melibatkan penggunaan api.
Evaluasi tersebut dinilai penting agar pelaksanaan kegiatan budaya tetap dapat berlangsung dengan baik tanpa mengabaikan aspek keselamatan peserta.
“Panitia memastikan kondisi peserta saat ini dalam penanganan medis. Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap SOP pengamanan permainan tradisional yang menggunakan media api agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Syeh Muly.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa pelestarian tradisi dan kemeriahan perayaan daerah perlu berjalan beriringan dengan penerapan prosedur keselamatan yang ketat. Dengan demikian, permainan tradisional seperti Toet Beude Trieng dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Aceh, sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh peserta.[]

