Iklan

terkini

Di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Bireuen

Redaksi
Senin, Mei 04, 2026, 07:06 WIB Last Updated 2026-05-04T00:06:21Z
Senator DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, SIP. (Foto/Ist)

Jakarta – Minggu dini hari, 3 Mei 2026 kemarin, suasana di sekitar Rumah Sakit Cibitung, Bekasi, tidak seramai biasanya. Sebagian orang masih terlelap, sebagian lain baru memulai aktivitas. Namun di salah satu ruang rumah sakit, sebuah kabar duka baru saja datang: seorang pemuda Aceh bernama Khaidir (32) telah mengembuskan napas terakhirnya.

Khaidir, warga Cot Tufah, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh,  sebelumnya menjalani perawatan sejak 20 April 2026. Diagnosis awal menyebutkan ia mengalami tetanus, penyakit yang bisa menggerogoti tubuh secara perlahan namun pasti. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya ia tak mampu bertahan.

Di tengah kesedihan keluarga yang jauh dari kampung halaman, hadir sosok yang kembali menjadi harapan, Senator DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, SIP.

Bukan untuk pertama kalinya, Azhari Cage membantu warga Aceh yang mengalami musibah di tanah rantau. Kali ini, ia kembali turun tangan mengurus pemulangan jenazah Khaidir dari Bekasi menuju Aceh.

Bagi keluarga, bantuan ini bukan sekadar logistik. Ini tentang menjaga martabat seorang anak negeri yang ingin kembali ke tanah kelahiran, meski dalam keadaan tak bernyawa.

Diminta Tolong Keluarga dan Geuchik, Azhari Langsung Bergerak

Kepada media ini Azhari Minggu, 3 Mei 2026 kemarin  mengungkapkan, dirinya dihubungi keluarga korban serta Geuchik Cot Tufah untuk membantu proses pemulangan Khaidir yang saat itu masih menjalani perawatan.

“Saya dihubungi oleh keluarga dan Geusyik Cot Tufah untuk membantu membawakan pulang Khaidir yang sedang dirawat di Rumah Sakit Cibitung Bekasi. Kita dan Badan Penghubung Aceh di Jakarta langsung ke rumah sakit dan berkoordinasi dengan dokter,” ujar Azhari Cage.

Namun harapan untuk memulangkan Khaidir dalam kondisi hidup harus pupus. Setelah berkoordinasi dengan pihak medis, diketahui kondisi Khaidir sudah sangat parah dan tidak memungkinkan untuk diterbangkan.

“Ternyata sakit almarhum sangat parah dan tidak layak untuk diterbangkan sehingga harus terus dirawat,” katanya.
Di titik itulah, keluarga hanya bisa menggantungkan doa. Menunggu keajaiban. Menunggu kabar baik. Namun takdir berkata lain.

Pukul 01.00 WIB, Kabar Duka Itu Datang

Sekitar pukul 01.00 WIB, Minggu dini hari, kabar yang paling ditakuti akhirnya datang. Khaidir dinyatakan meninggal dunia.

Di saat banyak orang masih tertidur, proses yang melelahkan justru dimulai, mengurus pemulasaraan, administrasi, hingga pemulangan jenazah.

“Kemudian tadi malam atau Minggu dini hari, sekitar pukul 01 WIB, kita mendapat khabar bahwa almarhum telah kembali ke rahmatullah dan langsung kita proses untuk pemulangan ke Cot Tufah Gandapura melalui Bandara Kualanamu,” tutur Azhari.

Bagi perantau Aceh, meninggal jauh dari kampung halaman adalah luka ganda. Luka kehilangan, sekaligus luka karena jarak yang memisahkan keluarga dengan jenazah.

Tak semua keluarga mampu menanggung biaya pemulangan. Banyak yang akhirnya terpaksa dimakamkan di tanah rantau, bukan karena tidak cinta kampung halaman, tetapi karena keadaan yang tak memberi pilihan.

Namun Khaidir beruntung. Masih ada tangan-tangan kemanusiaan yang bergerak cepat.

Rp22 Juta dari Uang Pribadi untuk Pulangkan Jenazah

Azhari Cage memastikan seluruh proses pemulangan dilakukan dengan cepat dan layak. Untuk itu, ia menggunakan dana pribadi sebesar Rp22 juta.

Biaya tersebut mencakup berbagai kebutuhan yang tidak kecil, mulai dari peti jenazah, tiket, kargo, formalin, sewa gudang, gate away, hingga pengurusan dokumen lainnya.
Beberapa item yang ditanggung dalam pemulangan tersebut.

“Termasuk untuk tiket pendamping kita tanggung,” ujar Azhari.

Jenazah direncanakan dipulangkan menggunakan pesawat Citilink, dengan jadwal keberangkatan pukul 18.45 WIB dan diperkirakan tiba di Bandara Kualanamu sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah itu, jenazah akan dibawa melalui jalur darat menuju Cot Tufah, Gandapura, Bireuen.

Di balik angka Rp22 juta, ada pesan kemanusiaan yang jauh lebih besar: bahwa membantu orang pulang ke kampung halaman, bahkan setelah meninggal, adalah bentuk penghormatan terakhir.

Kepedulian yang Tak Banyak Bicara, Tapi Terasa Nyata

Azhari Cage tidak banyak mengumbar narasi tentang dirinya. Namun bagi masyarakat Aceh, khususnya para perantau, nama Azhari sudah beberapa kali muncul dalam berbagai aksi kemanusiaan serupa.

Saat musibah datang jauh dari rumah, birokrasi dan biaya sering menjadi tembok tinggi. Di sinilah kehadiran figur publik yang benar-benar peduli menjadi sangat berarti.

Di tengah kesibukan tugas negara sebagai senator, Azhari memilih hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat di ruang sidang, tetapi juga sebagai wakil rakyat di ruang duka, bagi Rakyat Aceh.

“Saya berharap proses pemulangan ini berjalan dengan lancar dan almarhum dapat dikebumikan di kampung halaman dengan baik. Mohon doa dari seluruh warga di Aceh,” katanya.

Jenazah Khaidir  Disambut Tangis di Kampung Halaman

Khaidir kini bukan lagi seorang perantau yang berjuang mencari nafkah. Ia akan pulang sebagai jenazah, dibawa dalam peti, menempuh perjalanan panjang dari Bekasi menuju Aceh.

Namun meski ia pulang dalam diam, di kampung halamannya nanti akan ada tangis keluarga, pelukan saudara, doa warga gampong, serta liang lahat yang disiapkan sebagai tempat peristirahatan terakhir.

Di Cot Tufah, nama Khaidir akan disebut dalam tahlil, dalam doa-doa selepas salat, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya, dan di balik proses kepulangan itu, masyarakat Aceh kembali menyaksikan bahwa masih ada kepedulian yang tidak dibangun oleh pencitraan, tetapi oleh tindakan nyata. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Bireuen

Terkini

Topik Populer

Iklan