Laporan Hamdani
Pagi di Uteunkoet, Kota Lhokseumawe, Sabtu 14 Februari 2026, semula berjalan seperti biasa. Matahari belum terlalu tinggi ketika sebuah rumah di kawasan itu mendadak terasa berbeda. Bukan karena pintu yang terbuka, atau jendela yang tak tertutup rapat, melainkan karena keheningan yang tertinggal, dan sepucuk surat yang ditinggalkan.
Surat itu ditulis tangan. Rapi, panjang, dan sarat perasaan.
Pemilik rumah baru menyadari kepergian putri mereka, Munazilla Rahmi (21), sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Saat itu, rumah dalam keadaan kosong. Tak ada yang melihat ia melangkah keluar. Tak ada yang tahu baju terakhir yang dikenakannya. Ia pergi tanpa suara, meninggalkan rumah dan orang-orang yang mencintainya.
Yang tersisa hanyalah tulisan yang menyayat hati.
Dalam surat itu, yang juga dikirimkan ke redaksi media ini oleh keluarganya, Munazilla menyampaikan kegelisahan dan beban batin yang selama ini dipendam. Ia menulis tentang rasa kecewa, tentang luka yang tak terlihat, tentang perasaan tak dianggap, dan tentang pergulatan batin yang membuatnya merasa lelah menjalani hidup. Ia bahkan menegaskan bahwa kepergiannya adalah keputusan pribadi, tanpa paksaan siapa pun.
Kalimat-kalimatnya tidak ditulis dengan amarah. Justru terasa seperti jeritan yang terlalu lama ditahan. Seperti seseorang yang ingin dimengerti, tetapi tak pernah benar-benar menemukan ruang untuk didengar.
“Kalau nanti aku pergi, tolong jangan salahkan siapa-siapa,” tulisnya dalam bagian akhir surat tersebut.
Keluarga yang membaca surat itu diliputi campuran perasaan: terkejut, terpukul, dan dilanda kekhawatiran yang tak terlukiskan. Di ruang tamu yang sama, tempat mereka biasa bercengkerama, kini hanya ada kertas yang menjadi saksi bisu kegundahan seorang anak.
Sejak pagi tadi, Munazilla tak lagi terlihat di sekitar rumahnya di kawasan Uteunkoet, Lhokseumawe. Ia memiliki ciri-ciri berkulit putih. Namun pakaian terakhir yang dikenakan tidak diketahui, karena ia keluar rumah saat tidak ada seorang pun melihat kepergiannya.
Keluarga berharap Munazilla dalam keadaan selamat.
“Kalau pun ada masalah, mari kita selesaikan bersama. Rumah ini tetap rumahnya,” ujar salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar.
Di luar sana, kota tetap berjalan. Kendaraan lalu lalang. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi bagi keluarga Munazilla, waktu terasa berjalan lambat. Setiap dering telepon menjadi harapan. Setiap pesan masuk menjadi kemungkinan.
Kepergian seorang anak bukan hanya tentang hilangnya sosok secara fisik, tetapi juga tentang ruang kosong yang tiba-tiba tercipta di hati keluarga. Tentang kursi makan yang tak lagi terisi. Tentang kamar yang pintunya kini lebih sering terbuka, seolah menunggu ia kembali.
Kisah Munazilla adalah pengingat bahwa di balik senyum anak-anak kita, bisa saja tersimpan pergulatan yang tak pernah mereka ceritakan sepenuhnya. Bahwa komunikasi dalam keluarga bukan sekadar bertukar kata, tetapi tentang menghadirkan telinga dan hati yang benar-benar siap mendengar.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga masih terus berupaya mencari keberadaan Munazilla Rahmi. Bagi siapa pun yang melihat atau mengetahui keberadaannya, keluarga memohon bantuan untuk segera menghubungi:
Zainal (keluarga) HP. 082273070219.
Di sebuah rumah di Uteunkoet, ada doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan sejak pagi 14 Februari itu. Doa agar langkah yang pergi menemukan jalan pulang. Doa agar sepucuk surat itu bukan menjadi penutup cerita, melainkan awal dari kepulangan yang dirindukan.[]


