Masyarakat terlihat menggunakan getek sebagai jalur penyeberangan di Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. (Foto/Ist)
Laporan Hamdani
Senja, Sabtu, 14 Februari 2026, semburat merah menggantung di atas aliran sungai yang membelah kawasan Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. Air Krueng Peusangan mengalir tenang, seolah tak pernah tahu bahwa ia kini menjadi satu-satunya jalur yang memisahkan harapan dan keterpaksaan.
Di tepi sungai, beberapa lelaki sibuk menahan seutas tali tambang yang terikat pada rakit kayu sederhana, getek yang dirakit seadanya. Papan-papan kayu disusun, diikat dengan drum bekas sebagai pelampung. Itulah “pelabuhan penyeberangan darurat” warga Pante Lhong dan sekitarnya hari ini.
Aceh memang belum pulih.
Pasca bencana yang merusak berbagai infrastruktur, wajah provinsi paling barat Indonesia ini masih menyimpan luka. Jalan raya terbelah, bangunan retak dan roboh, jembatan yang dulu menjadi nadi penghubung antar-gampong kini tinggal cerita. Di banyak tempat, aktivitas ekonomi tersendat. Anak-anak sekolah harus berangkat lebih pagi. Petani dan pedagang memutar otak agar tetap bisa menyeberang.
Di Pante Lhong, jembatan yang putus bukan sekadar bangunan beton yang runtuh. Ia adalah simbol terputusnya kemudahan hidup. Dulu, kendaraan roda dua dan empat melintas tanpa pikir panjang. Kini, untuk sampai ke seberang, warga harus berdiri di atas getek yang bergoyang, menahan cemas setiap kali arus sungai menguat.
Seorang ibu menggenggam erat tangan anaknya saat menaiki rakit. Wajahnya tegang, tapi matanya menyiratkan tekad. “Tidak ada pilihan,” katanya pelan. Di seberang sana ada pasar, sekolah, dan ladang. Hidup tak bisa berhenti hanya karena jembatan roboh.
Secara keamanan, kondisi ini jelas berisiko. Getek yang mereka gunakan jauh dari standar keselamatan. Tanpa pelampung, tanpa pagar pengaman yang layak, hanya seutas tali dan kekuatan tangan yang menjadi sandaran. Namun kebutuhan lebih kuat dari rasa takut. Setiap hari, warga rela mempertaruhkan keselamatan demi menjalankan rutinitas.
Anak-anak belajar menyeimbangkan tubuh sebelum mereka benar-benar belajar tentang keseimbangan hidup. Orangtua mengajarkan keberanian sebelum mereka sempat mengajarkan rasa aman. Begitulah Aceh hari ini, bertahan dalam keterbatasan.
Bencana mungkin telah berlalu, tetapi dampaknya masih terasa. Infrastruktur yang hancur bukan sekadar persoalan fisik; ia merambat ke psikologis masyarakat. Rasa waswas, lelah, dan ketidakpastian perlahan menggerogoti semangat.
Karena itu, membangun kembali Aceh tak cukup hanya dengan mendirikan jembatan dan mengaspal jalan. Pemerintah harus benar-benar hadir, bukan sekadar dalam janji, tetapi dalam kerja nyata. Infrastruktur harus segera dibenahi, akses dipulihkan, dan rasa aman dikembalikan. Di saat yang sama, mental masyarakat Aceh juga perlu dirawat, dipulihkan, dan dikuatkan.
Aceh sudah terlalu sering diuji oleh waktu dan keadaan. Namun di setiap ujian, selalu ada ketangguhan yang lahir dari rakyatnya. Di atas getek sederhana yang mengapung di sungai Pante Lhong itu, ada keberanian, ada keteguhan, ada harapan yang tak mau karam.
Semoga jembatan itu segera berdiri kembali, bukan hanya sebagai penghubung dua tepi sungai, tetapi sebagai penanda bahwa Aceh benar-benar bangkit, dan tak lagi berjalan sendirian. []


