Iklan

terkini

[Opini] Menenun Kembali Benang-Benang Kebersamaan: Refleksi Akhir Tahun

Redaksi
Rabu, Desember 31, 2025, 13:54 WIB Last Updated 2025-12-31T06:54:16Z

Oleh : Ir. Muhammad Hatta, SST. MT

Menutup tahun ini, saya sampai pada satu kesadaran sederhana namun mendalam, bahwa ketahanan sebuah masyarakat tidak hanya diuji oleh seberapa besar tantangan yang dihadapi, melainkan oleh seberapa kuat ia menjaga kebersamaan di tengah ujian tersebut. 

Refleksi ini lahir dari kegelisahan menyaksikan bagaimana dinamika sosial, ketegangan kepentingan, dan krisis empati kerap berjalan beriringan dengan berbagai peristiwa yang kita alami sepanjang tahun.

Tahun yang hampir berlalu menghadirkan banyak pelajaran berharga. Kita dihadapkan pada perubahan sosial yang cepat, tekanan ekonomi yang tidak ringan, serta bencana yang silih berganti, baik yang tampak di permukaan maupun yang berlangsung secara laten. 

Dalam situasi seperti ini, kebersamaan seharusnya tidak berhenti sebagai jargon moral, tetapi menjadi energi sosial yang menggerakkan tindakan kolektif dan memperkuat daya tahan bersama.

Bencana, meski kerap dipahami sebagai peristiwa alam, sejatinya tidak pernah sepenuhnya terlepas dari tindakan manusia. Kerusakan lingkungan, tata kelola ruang yang abai, serta keputusan sosial dan ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan telah memperbesar risiko bencana itu sendiri. 

Namun ketika bencana terjadi, besarnya penderitaan tidak lagi ditentukan oleh faktor alam semata, melainkan oleh kualitas hubungan antarmanusia. Di sinilah kepercayaan, solidaritas, dan kemampuan bekerja bersama menjadi penentu, apakah krisis dapat dikelola secara bermartabat, atau justru berubah menjadi penderitaan sosial yang berkepanjangan.

Dalam konteks Aceh maupun Indonesia secara lebih luas, pengalaman ini bukanlah hal baru. Modal sosial yang kuat berupa kepercayaan, gotong royong, dan kepedulian sering kali terbukti menjadi penyangga utama ketika sistem formal belum sepenuhnya bekerja optimal. Sebaliknya, ketika ruang hidup bersama dipenuhi kecurigaan, fragmentasi, dan sikap saling menyalahkan, maka persoalan yang seharusnya dapat diatasi bersama justru menjadi semakin rumit.

Dari sudut pandang keislaman, realitas ini selaras dengan prinsip bahwa kerusakan tidak muncul tanpa sebab, dan kebaikan sosial tidak hadir tanpa ikhtiar sadar. Hubungan manusia dengan alam menuntut amanah, sementara hubungan manusia dengan sesama menuntut keadilan dan kasih sayang. Ketika dua relasi ini diabaikan, maka yang lahir bukan sekadar krisis ekologis, melainkan juga krisis kemanusiaan.

Karena itu, menenun kembali benang-benang kebersamaan harus dimaknai sebagai kerja jangka panjang. Ia menuntut konsistensi kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan, penguatan institusi sosial, serta pendidikan nilai yang menumbuhkan empati dan tanggung jawab kolektif. Solidaritas tidak boleh hadir hanya saat musibah, tetapi harus hidup dalam keseharian, baik dalam cara kita berdialog, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.

Di penghujung tahun ini, harapan kita tidak cukup diletakkan pada pergantian kalender semata. Harapan harus diwujudkan melalui ikhtiar yang tidak setengah hati untuk merawat persatuan, memperbaiki relasi sosial, dan meneguhkan kembali bahwa kebersamaan adalah fondasi utama kemaslahatan. Jika benang-benang itu kembali dirajut dengan kesadaran dan ketulusan, maka masa depan, seberat apa pun tantangannya, akan selalu memiliki ruang untuk dihadapi bersama. []

Editor: Hamdani

*) Penulis adalah Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Menenun Kembali Benang-Benang Kebersamaan: Refleksi Akhir Tahun

Terkini

Iklan