Iklan

terkini

Kelas Tangguh di Tengah Bencana: Universitas Almuslim Menyalakan Asa Pendidikan di Samuti Aman

Redaksi
Rabu, Desember 31, 2025, 15:14 WIB Last Updated 2025-12-31T08:15:09Z
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Almuslim sedang mengajar anak-anak pengungsi. (Foto/ Ist)

Hamdani | Liputan Bireuen

Di tengah hamparan puing dan lumpur sisa banjir bandang, sebuah tenda putih berdiri di Desa Samuti Aman, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Tenda itu bukan sekadar pelindung dari panas dan hujan, melainkan ruang kelas darurat tempat harapan kembali tumbuh. Di sanalah, tawa anak-anak pengungsi perlahan menggantikan duka yang sempat menyelimuti desa.

Senin, 22 Desember 2025 lalu, suasana berbeda terasa ketika Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Almuslim tiba. Dipimpin Dr. Silvi Listia Dewi, M.Pd., tim dosen dan mahasiswa membawa lebih dari sekadar bantuan. Meja lipat, tas sekolah, alat tulis, sepatu boots, tikar besar, tablet pembelajaran, hingga genset diturunkan satu per satu, disambut mata berbinar anak-anak yang rindu suasana belajar.

Banjir bandang hidrometeorologi yang melanda wilayah ini pada akhir November 2025 lalu bukan hanya merusak rumah dan sekolah, tetapi juga merenggut rutinitas pendidikan. Ruang kelas tertimbun lumpur, buku hanyut terbawa arus, dan semangat anak-anak sempat terhenti bersama derasnya air. 

Namun pagi itu, di bawah tenda sederhana, pelajaran kembali dimulai, sederhana, tetapi penuh makna.

Geuchiek Muhammad Wali, Kepala Desa Samuti Aman, tak mampu menyembunyikan rasa haru.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Anak-anak di desa ini membutuhkan dukungan agar tetap bisa belajar meski dalam kondisi darurat. Kehadiran tim PkM menjadi semangat baru bagi kami,” ucapnya.

Di hadapan anak-anak, Dr. Silvi Listia Dewi menegaskan bahwa pendidikan tak boleh berhenti oleh bencana.

“Kami hadir untuk memastikan bahwa anak-anak tetap memiliki ruang belajar, meski dalam keterbatasan. Pendidikan darurat bukan hanya soal fasilitas, tetapi tentang menjaga semangat belajar dan memberikan harapan,” tuturnya penuh keyakinan.

Program pendidikan darurat ini bukan langkah pertama. Sebelumnya, pendampingan serupa telah dilakukan di Desa Raya Dagang dan Blang Mee. 

Pendekatan yang dibangun tak berhenti pada pemberian alat belajar, tetapi juga menghidupkan motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak-anak yang tengah pulih dari trauma bencana.
Didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat ilmu, tetapi juga penjaga harapan masyarakat di masa krisis.

“Kami ingin anak-anak tetap merasa bahwa mereka tidak sendirian. Ada banyak pihak yang peduli dan siap mendukung mereka. Pendidikan adalah jembatan menuju masa depan, dan kami berkomitmen untuk menjaga jembatan itu tetap kokoh,” tutup Dr. Silvi.

Di bawah tenda belajar itu, anak-anak kembali tersenyum, bercengkerama, dan berani bermimpi. Pendidikan darurat bukan sekadar buku dan meja, melainkan ruang aman tempat masa depan disemai kembali.
Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tetapi semangat belajar di Samuti Aman tetap berdiri tegak. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kelas Tangguh di Tengah Bencana: Universitas Almuslim Menyalakan Asa Pendidikan di Samuti Aman

Terkini

Iklan