Iklan

terkini

[Sudut Pandang] KRITIK

Redaksi
Jumat, Januari 19, 2024, 09:15 WIB Last Updated 2024-01-19T02:29:46Z
Oleh: Hamdani, SE.,M.S.M*)

"Kalau tanpa membuka ruang kritik, saya takut saya akan jadi seperti "Fir'aun" dalam dimensi yang berbeda, karena tanpa kritik, tanpa evaluasi orang lain, saya akan merasa sombong, merasa hebat sendiri dan akhirnya jumawa."

Kritik orang lain pada kita ibarat jamu, terasa pahit dia, tapi akan bermanfaat buat kita, tetimbang pujian nan melenakan, padahal itu adalah racun berbisa yang membinasakan.

Maka, terkadang kita harus memberi ruang pada orang lain untuk memberi kritik pada kita. Walau terkadang, karena posisi kita, jabatan kita, orang akan merasa enggan memberi kritik. Justru ini akan sangat berbahaya buat kita.

Karena terkadang, ketika kita berada di posisi puncak, yang banyak adalah penjilat yang bermulut manis, puja puji kerap dilontarkan oleh orang di sekeliling kita, sehingga diri kita terbuai dan terlena. Padahal, saat kita terjatuh, mereka pun pergi dari kita. Karena sesungguhnya, mereka adalah sekumpulan para pecundang.

Nah, apapun profesi Anda, beri ruang pada orang lain, buat mengkritik Anda, dan jangan marah. Seorang dosen juga harus memberi peluang pada mahasiswa untuk mengevaluasi dosen, memberikan masukan pada dosen, dan sebagainya. 

Tapi tentunya, mahasiswa harus menyampaikan dengan bahasa yang sopan dan elegan. Harus beradab, karena adab di atas ilmu.

Saya pribadi atas inisiatif sendiri, selalu membuat semacam angket evaluasi diri yang selalu saya suruh isi di akhir pertemuan ujung semester dengan mahasiswa. Tujuan saya, supaya saya bisa tahu bagaimana pandangan mereka kepada saya dari sudut pandang mahasiswa.

Saya selalu bilang, jangan takut kritik saya, karena ini juga tidak mempengaruhi nilai saya ke Anda, apalagi angket ini juga tanpa mencantumkan identitas mereka. Jadi buat apa takut, justru ini menjadi kesempatan mereka melepas uneg-uneg di hati mereka, mana tau kan ada yang kesal sama kita, tapi mereka takut protes secara terbuka. Nah, melalui angket ini ada kesempatan buat mereka, jadi ini sangat adil saya rasa.

Kalau tanpa membuka ruang kritik, saya takut saya akan jadi seperti "Fir'aun" dalam dimensi yang berbeda, karena tanpa kritik, tanpa evaluasi orang lain, saya akan merasa sombong, merasa hebat sendiri dan akhirnya jumawa.

Padahal tidak benar seperti itu, karena manusia adalah tempatnya kekurangan, justru karena itulah, Allah menciptakan neraka, tempat menghukum manusia-manusia yang sombong, karena yang berhak sombong adalah Allah, karena pemilik semesta dan segala isinya. Manusia hanya ibarat debu yang tiada bermakna di hadapan Yang Maha Kuasa.

Tidak ada yang sempurna, memang demikian, justru kita manusia harus selalu introspeksi diri, supaya bisa berbenah menjadi pribadi yang makin baik. Juga seiring bertambahnya usia, karena kematian adalah nyata adanya. Demikian. []

*) Penulis adalah seorang dosen dan juga jurnalis 

Disclaimer: Semua tulisan pada Rubrik SUDUT PANDANG bukanlah lah produk jurnalistik, juga tidak mewakili pandangan Redaksi Juang News. Untuk itu, setiap tulisan yang dimuat di rubrik SUDUT PANDANG itu menjadi tanggung jawab pribadi si penulis. Karena sesuai nama rubrik, semua konten dari tulisan tersebut, merupakan opini pribadi dari sudut pandang personal penulis. Demikian. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Sudut Pandang] KRITIK

Terkini

Iklan