Iklan

terkini

[Opini] Srikandi Aceh Itu Bernama Cut Nyak Dhien

Redaksi
Jumat, November 10, 2023, 14:10 WIB Last Updated 2023-11-10T07:11:09Z
Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si*)

Cut Nyak Dhien dijuluki sebagai Srikandi Aceh karena keberanian dan kecerdasan yang dimilikinya. 

Sifat dan karakter Cut Nyak Dhien telah meruntuhkan persepsi yang memandang perempuan sebagai makhluk lemah dan tidak berdaya, maka tidak berlebihan bila Cut Nyak Dien menjadi ikon keberanian perempuan Aceh. Ia berhasil keluar dari ranah domestik menuju ranah publik dengan keterlibatannya dalam menyusun strategi perang dan terjun ke medan pertempuran. 

Cut Nyak Dhien dilahirkan pada tahun 1848  di Lampadang, Cut Nyak Dien lahir  sebagai  anak dari hulubalang yaitu penguasa Enam Moekim bernama Teuku Nanta Setia. 

Diusianya yang ke empat belas, Cut Nyak Dhien dinikahkan dengan seorang bangsawan yang juga merupakan pemimpin perjuangan melawan penjajah yaitu Teuku Ibrahim Lamnga.Ibrahim Lamnga tewas dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1878.  

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menerima lamaran Teuku Umar, seorang panglima perang yang pandai dalam mengatur siasat, namun Teuku Umar juga tegas di tangan penjajah pada tahun 1899. Sejak saat itu Cut Nyak Dien meneruskan perjuangan menggantikan almarhum suaminya Teuku Umar sebagai pemimpin perang (lihat: acehinfo.id).

Sebagaimana ditulis Rusdi Sufi dalam buku Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, keperkasaan Cut Nyak Dhien juga diungkapkan oleh sejarawan Belanda lainnya, M H Szkely Lulafs dalam buku “Tjoet Nja’ Dhien” Ia menilai jiwa kepahlawanan yang menggerakkan semangat juang dalam dada Teuku Umar adalah dorongan halus Cut Nyak Dhien. Sifat kepahlawanan Cut Nyak Dhien diwarisi dari ayahnya yang merupakan salah seorang pejuang penentang kolonialis Belanda. 

Cut Nyak Dhien sangat berpengaruh dan handal dalam mengatur strategi perang. Ia turun ke medan perang dan berhasil memimpin pasukannya untuk menyerang markas-markas Belanda. Tak hanya itu, Cut Nyak Dhien juga selalu memotivasi rakyatnya untuk tetap teguh pada perjuangan. Keberhasil Cut Nyak Dhien dalam memimpin pasukan menjadikannya sebagai orang yang ditakuti dan dicari oleh Belanda.
 
Kisah perjalanan hidup Cut Nyak Dhien sebagai seorang pejuang tanah kelahirannya berakhir saat ia berhasil ditangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Sumedang (Jawa Barat), tempat yang begitu jauh dari tanah kelahirannya, tempat yang jauh dari keluarga, kerabat, dan rakyat yang dicintai dan mencintainya. Namun ditempat yang baru, tempat dimana tak seorangpun yang ia kenal.
 
Proses pengasingan Cut Nyak Dhien ke Sumedang dilakukan selama hampir setengah tahun sejak dikeluarkannya surat keputusan pengasingan nomor 23 (Colonial Verslag 1907: 12) dikarenakan lamanya proses pemilihan lokasi pengasingan dan jarak lokasi pengasingan. Sumedang menjadi tempat pilihan pengasingan Cut Nyak Dhien karena dinilai wilayah Sumedang terbilang aman secara politik dan sosial.  

Pada tahun 1907 M Cut Nyak Dhien tiba di tempat pengasingannya Sumedang, setelah sebelumnya dibawa terlebih dahulu ke Batavia. Selama menjalani pengasingan di Sumedang, masyarakat tidak mengetahui identitas Cut Nyak Dhien sebagai pejuang Aceh dan identitasnya sebagai pejuang perang Aceh baru diketahui 50 tahun setelah wafatnya pada tahun 1958 M atas permintaan Gurbenur Aceh saat itu, Ali Hasan. Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan dari sejumlah dokumen Belanda.
 
Menebar Manfaat 

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang melekat pada diri Cut Nyak Dhien. Sebagai sosok yang taat pada beragama, Cut Nyak Dhien paham betul setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun. 

Dari sejarah perjalanan hidup Cut Nyak Dhien, kita dapat merasakan betapa setiap langkahnya menebar manfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Bahkan, diperasingan pun Cut Nyak Dhien tidak hanya berpangku tangan, tidak meratapi nasibnya yang jauh dari keluarga dan saudaranya, namun Cut Nyak Dhien yang pada saat itu yang sudah mulai renta dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil, namun tetap terus menebar manfaat bagi orang-orang sekelilingnya.
 
Cut Nyak Dhien mengisi hari-harinya di Sumedang dengan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Kefasihan dan kepandaian Cut Nyak Dhien dalam mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama menjadikan masyarakat Sumedang menaruh hormat padanya, sehingga tidak berlebihan jika masyarakat menyematkan gelar Ibu Perbu atau Ibu Ratu kepada Cut Nyak Dhien, seorang bangsawan dari tanah seberang yang pandai agama. 
 
Motivator di Era Milenial
 
Cut Nyak Dhien  telah memotivasi kita untuk terus menebarkan manfaat. Ia lambang emansipasi wanita, perjuangannya adalah perilaku terpuji yang dapat diteladani oleh kaum milenial saat ini. Cut Nyak Dhien juga spirit bagi hati yang teguh pada kebenaran, perjuangan wanita tangguh yang lahir dipedalaman Aceh Besar itu bukan hanya untuk membebaskan Aceh dari penjajah Belanda, tapi juga untuk menegakkan harga diri Bangsa. 

Cut Nyak Dhien menjadi contoh emansipasi perempuan dimasa lalu. Masalah gender sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk tampil di medan tempur. Bagi Cut Nyak Dhien, gender adalah kodrat, sedangkan perjuangan dan kepemimpinan adalah hak semua orang.
 
Saat ini, kita tidak perlu lagi memegang senjata untuk menjadi tangguh, di era millenial perempuan memiliki kesempatan yang luas dalam mengaktualisasikan dirinya melalui berbagai karya produktif dan hal-hal yang positif. Kesempatan ini didukung dengan perkembangan teknologi yang bisa diakses setiap orang. 
 
Karena itu, melalui literasi, generasi millenial dapat memiliki banyak ide dan pemikiran brilian, sehingga mampu terus berkarya di bidang yang ditekuni, serta bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Dalam mengaktualisasikan diri, perempuan dapat menjadikan sosok Cut Nyak Dhien sebagai role mode dan agen of change. []

Editor: Sayed M. Husen

*) Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Bireuen
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Srikandi Aceh Itu Bernama Cut Nyak Dhien

Terkini

Topik Populer

Iklan