Iklan

terkini

[Opini] Kemakmuran Indonesia dan Dunia Mungkinkah?

Redaksi
Minggu, Oktober 29, 2023, 07:04 WIB Last Updated 2023-10-29T00:04:59Z
Oleh: Nuim Hidayat*) 

Indonesia makin ke sini bukan makin makmur. Hutang lebih 7000 triliun. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Jumlah orang miskin menurut Bank Dunia sekitar 60 juta orang.

Tapi apakah para pejabat peduli dengan kemiskinan? Tidak. Presiden terus memperkaya diri sendiri dan anak-anaknya. Ratusan miliar uang menggelontor untuk anaknya. Presiden dan pejabatnya di istana makan bermewah-mewah, sedangkan orang-orang miskin makan telur saja banyak yang tidak mampu.

Menteri, anggota DPR, para jenderal, para pejabat BUMN, walikota, gubernur, anggota DPRD dan lain-lain banyak juga yang bermewah-mewah. Anggota DPR terus mengeruk duit rakyat dengan menerima penghasilan lebih dari 100 juta sebulan, sedangkan rakyat yang diwakilinya banyak hidup susah. Membayar uang kontrakan bulanan susah, membayar uang sekolah anak empot-empotan dan berbagai  kesusahan lainnya.

Pedulikah anggota DPR? Kebanyakan tidak. Paling mereka membagikan uang  dari negara 100 ribu bagi konstituen yang memilihnya setahun sekali ataupun setahun dua kali. Uang yang dibaginya itu bukan dari kantong dia. Uang yang dibaginya itu dari kesekretariatan DPR, alias uang negara. Maka jangan heran anggota DPR rumahnya mewah-mewah dan mobilnya pun berderet. Uang sidang, uang kunjungan ke luar daerah atau ke luar negeri yang jumlahnya ratusan juta masuk ke kantong tanpa rasa bersalah.

Menjadi anggota DPR adalah menjadi karyawan yang  terenak di dunia. Bayangkan dia punya asisten yang digaji negara. Dia bisa sebulan absen gak masuk dan penghasilannya utuh. Paling hanya dipotong uang sidang.

Seorang “wakil menteri” pernah cerita, bahwa ia harus membawa uang “sekardus indomie” ke anggota DPR agar anggaran yang ia ajukan cepat ditandatangani. 

Bagaimana dengan para pejabat BUMN? Kalau anda jadi direksi dan komisaris BUMN selamat bermewah-mewah. Penghasilan ratusan juta tiap bulan di tangan. Belum nanti akhir dapat pembagian “bonus tantim”. Setali tiga uang dengan anggota DPR, mobilnya pun ratusan juta atau miliar harganya. Rumahnya pun mentereng.

Presiden, para menteri dan pejabat di seputar istana, jangan ditanya lagi kemewahannya. “Ratusan juta’ diperoleh tiap bulan, belum nanti uang siluman yang masuk kas menteri. Kalau presiden jangan ditanya pendapatannya. Karena tidak ada yang berani periksa pemasukan uang ke presiden, presiden “bebas saja mengatur” peredaran uang ke kroni dan keluarganya. Kongkalikong pengusaha dan importir dengan istana bukan lagi rahasia umum.

Para jenderal mungkin gajinya tidak begitu besar, tapi jangan lupa pengusaha-pengusaha di negeri ini sudah tahu bagaimana agar bisnisnya lancar harus baik-baik dengan para jenderal. Entah ada atau tidak di negeri ini jenderal yang hidupnya sederhana, kebanyakan bermewah-mewah sebagaimana para pejabat lainnya.

Begitulah negeri ini diatur. Uang negara dijadikan bancakan dulu para pejabat, baru sisanya untuk rakyat. Selama para pejabat bermewah-mewah, rakus harta, jangan harap kemakmuran akan ada di negeri ini. Lima tahunan pemilu hanya pesta saja. Aturan dan kerakusan tidak berubah. 

Ekonomi Dunia

Ekonomi dunia hampir sama pengaturannya dengan ekonomi di negeri kita. Dunia diatur oleh orang-orang yang rakus. Sistem ekonomi internasional dibuat agar negara yang kaya terus kaya, dan yang miskin terus berhutang.

Lihatlah bagaimana dolar dan poundsterling terus dikendalikan agar nilainya selalu tinggi di dunia, sedangkan rupiah terus anjlok. Perbankan internasional dipermainkan agar orang-orang kaya di dunia terus makin kaya dengan bunga bank yang ia tarik tiap bulan. Sementara orang-orang miskin tercekik dengan bunga bank yang kadang tidak masuk akal.

Memang kerakusan atau ketamakan penyakit laten di Indonesia dan dunia. Selama negara dan dunia dipimpin orang-orang yang rakus harta, maka jangan harap ada kemakmuran di dunia. Yang kaya terus kaya, dan yang miskin jumlahnya terus membengkak.

Selain akhlak, kerakusan yang dimiliki para pemimpin dunia, sistem ekonomi dunia pun rusak. Selama sistemnya menggunakan riba dan pajak, dunia  tidak akan makmur. Ekonomi, saham, mata uang dan lain-lain dimainkan negara-negara besar.

Untuk mengatasi kerusakan Indonesia dan dunia ini, maka Islam harus tampil. Sistem ekonomi Alquran harus diterapkan.

Pertama-tama, Alquran menyeru kepada para pemimpin untuk tidak rakus. Lihatlah berapa banyak ayat Alquran yang menyeru setelah shalat harus infak. Maknanya setelah  kamu perbaiki hubungan kamu dengan Allah, perbaiki hubungan kamu dengan manusia  sekelilingmu. Bagaimana kamu bisa mengeruk uang rakyat 150 juta sebulan, sedangkan 60 juta rakyat di sekitarmu masih miskin. Rakyat di sekitarmu untuk mendapatkan Rp 2 juta sebulan saja susahnya bukan main.

Makanya dari sini presiden atau orang pertama di negeri ini harus menghilangkan sifat rakus dulu. Presiden harus zuhud. Presiden misalnya menetapkan penghasilan paling tinggi di negeri ini Rp 30 juta sebulan. Bila ditetapkan gaji maksimal pejabat negara segitu, saya yakin triliunan uang negara bisa dihemat. Bila presidennya rakus, bawahannya, menteri, DPR, para jenderal semua ikut rakus. Bila presidennya zuhud, hidup sederhana, para pejabat lain juga insya Allah akan mengikuti.

Korupsi harus ditindak tegas. Tidak peduli yang korupsi presiden, menteri, polisi dan lainnya. Kini, penindakan korupsi tebang pilih. KPK tidak berani menindak korupsi yang dilakukan polisi dan presiden.

Korupsi tidak cukup dipenjara. Korupsi harus dipotong tangan. Lihatlah bagaimana para koruptor tidak kapok dengan hukum penjara. Hukum penjara bisa dipermainkan. Bila anda punya uang, mungkin tiap minggu bisa keluar menginap di hotel. Kongkalikong dengan petugas penjara sering terjadi di negeri ini.

Coba kalau hukum potong diperlakukan. Satu saja yang dipotongtangannya, kita yakin orang akan takut dipotongtangannya. Pejabat akan berfikir seribu kali, korupsi 100 miliar atau kehilangan tangan.  Kehilangan tangan maknanya cacat seumur hidup dan tentu orang akan berfikir seribu kali untuk menjalani kehidupan terhina selama, hidupnya: “itu mantan koruptor, lihat tuh hilang tangannya”.

Itulah hebatnya hukum Alquran, mendidik manusia bersikap dermawan dan memberikan efek jera bagi para penjahat.

Bila sistem ekonomi internasional dasarnya adalah riba dan pajak, maka sistem ekonomi Islam dasarnya adalah zakat, infak dan wakaf. Apa bedanya? Riba menjadikan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Bayangkan orang miskin pinjam, dikenakan bunga lagi, ini kan namanya memiskinkan orang miskin. Orang kaya triliunan uangnya. Cukup uangnya nangkring di bank, ia pesta pora tiap hari dengan teman-temannya, karena menerima miliaran dari bunga bank. Bunga bank yang dibagikan kepada orang kaya itu, adalah hasil dari perasan bunga bank kembalian orang miskin.

Pajak juga jadi permainan di negeri ini. Sistem pajak menjadikan banyak perusahaan tidak jujur. Petugas atau mafia pajak bisa kongkalikong dengan perusahaan yang harusnya bayar Rp 1 miliar hanya bayar Rp 1 juta. Pajak kini hampir dikenakan  di semua sektor kehidupan, sehingga masyarakat makin berat beban hidupnya.

Bagaimana dengan  zakat dan infak? Zakat ada unsur ibadahnya. Orang akan ikhlas mengeluarkannya. Jarang orang atau perusahaan yang menipu penghitungan zakat. Bila zakat atau infak dikeluarkan dengan ikhlas, maka pajak dikeluarkan dengan terpaksa. Itulah bedanya.

Bila para pejabatnya zuhud atau hidup sederhana, maka rakyat  akan berbondong-bondong berzakat atau berinfak untuk membantu keuangan negara. Rakyat akan bergotong royong saling membantu satu sama lain. Yang kaya makin dermawan, yang miskin mau bekerja keras membantu atau menjadi pekerja kaum kaya.

Walhasil, Indonesia dan dunia akan makmur (dan adil), kalau landasannya Alquran. Kalau landasannya akal dan hawa nafsu sampai kiamat dunia tidak akan makmur. Yang ada adalah keserakahan dan keserakahan.

Alquran adalah solusi, Alquran adalah obat yang memecahkan  problematika manusia.  Allah berfirman, “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS an Nahl: 89)

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penyembuh (solusi) bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS Fushshilat 44).

Kemakmuran dunia bulanlah sebuah utopia. Hal ini pernah terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz.  

Di masa Umar bin Khattab, pejabat-pejabat yang hidupnya mewah ditegur keras dan “dikenai sanksi”. Umar sendiri hidupnya sederhana. Ia bahkan pernah menolak makanan mewah dari tamu negara, karena memikirkan rakyatnya yang makannya sederhana. 

Ketika Umar memerintah, ia menasihati keluarganya agar tidak mengambil harta dari Baitul Mal, alias agar tidak korupsi. Umar pernah menghukum anaknya gubernur yang semena-mena  terhadap anak rakyat, karena merasa kedudukan bapaknya yang mentereng.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz “lebih hebat lagi”. Ia hidup sangat sederhana. Ia tidak mau menggunakan fasilitas negara dalam kehidupan pribadinya. Ia  sangat perhatian terhadap orang miskin. Di masanya masyarakat hidup adil makmur dan masyarakat menolak  pembagian zakat. Zakat saat itu akhirnya dibagikan ke wilayah Afrika.

Begitulah kehidupan masyarakat yang adil makmur di dua Umar ini. Para pemimpinnya hidup sederhana, rakyatnya makmur dan Baitul Mal (kas negara) kaya raya. Para pemimpin yang menjadi teladan itulah yang menyebabkan Islam berkembang sangat pesat ketika itu ke wilayah-wilayah lain. Sangat kontras dengan kehidupan Indonesia (dan dunia) sekarang. Para pejabatnya bermewah-mewah, jutaan rakyatnya miskin dan kas negara minus, alias hutang.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka, sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra’: 16). Wallahu azizun hakim. []

Editor: Sayed M. Husen

*Penulis adalah Direktur Forum Studi Sosial Politik
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Kemakmuran Indonesia dan Dunia Mungkinkah?

Terkini

Topik Populer

Iklan