Iklan

terkini

Video Game Dapat Kembangkan Kemampuan Sosialisasi Anak, Benarkah?

Fauzi Motty
14/09/2021, 23:52 WIB Last Updated 2021-09-14T16:54:46Z
Ilustrasi bermain game online di smartphone (Dok. Shutterstock/Dean Drobot)

Video game sering dicap buruk bagi anak, seperti dapat merusak mata atau membuat anak lupa waktu. Karena itulah, tak sedikit orangtua yang berusaha menjauhkan video game dari anak-anak mereka. Sebaliknya, perusahaan pembuat video game selalu mempromosikan bahwa game yang mereka buat dapat mengurangi stres, membangun kemampuan berpikir kritis, serta mempererat ikatan antar-anggota keluarga. 

Memang kenyataannya, video game memiliki beberapa manfaat bagi anak. Bahkan, ada penelitian yang mengatakan bahwa video game dapat membantu mengembangkan kemampuan anak dalam bersosialisasi. Penelitian tersebut berawal dari sebuah survei yang digelar oleh penyedia jasa internet Frontier yang baru-baru ini menggunakan Amazon MTurk untuk menyurvei sekitar 1.000 orangtua terkait pendapat mereka tentang video game. Hasilnya, hampir dua dari tiga orangtua mengatakan bahwa video game menolong anak mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis.

Bergantung dari jenis game yang dimainkan, kemampuan ini bisa datang dari strategi dalam game, atau melalui pemecahan puzzle yang kompleks, atau permainan yang sedikit rumit. Beberapa orangtua juga menyebut bahwa video game meningkatkan kreativitas dan waktu reaksi anak-anak mereka, sekaligus memberikan perasaan bahagia dan baik bagi kesehatan mental. Namun, bukan itu saja manfaat yang dirasakan oleh orangtua. Pasalnya, menurut data, lebih dari 40 persen orangtua menyakini bahwa video games membantu meningkatkan kemampuan sosial anak. Kemampuan bersosialisasi ini biasanya datang ketika anak bermain secara daring bersama teman-teman atau orang asing, meski terkadang bisa didapatkan melalui bermain bersama keluarga.

Faktanya, 37.4 persen orangtua yang mengikuti survei menyatakan bahwa mereka memperbolehkan anak untuk bermain daring bersama siapa saja, sedangkan 50,6 persen membiarkan anak bermain daring bersama teman-temannya. Terlepas dari masalah dengan siapakah mereka bermain, anak akan belajar bagaimana cara berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain saat mereka bermain secara kooperatif. Kemampuan inilah yang akan menolong anak belajar bagaimana menjadi bagian dari sebuah tim dan membagi tugas untuk mencapai suatu tujuan. Semua kemampuan bersosialisasi itu akan berguna saat mereka tumbuh dewasa dan bekerja. 

Mungkin itulah yang menyebabkan orangtua mengizinkan anak bermain game selama 2-3 jam per harinya. Penelitian ini juga didukung oleh sebuah penelitian lain yang diterbitkan di American Psychological Association. Penelitian tersebut membuktikan bahwa ada lebih dari 70 persen anak dan remaja yang bermain video game dengan teman atau orang lain yang berada dalam komunitas yang sama secara rutin. Memang, beberapa game terpopuler saat ini, seperti Minecraft dan Fortnite, mendorong adanya kerja sama di mana setiap anggota tim akan membantu satu sama lain dalam mengerjakan misi dan tugas. Menurut penelitian, hal inilah yang mendorong anak untuk menolong satu sama lain dan membangun rasa empati di luar dunia game. The Institute of Games juga mengatakan bahwa bermain daring akan menolong anak mengembangkan kemampuan kerjasama dan komunikasi interpersonal saat bekerja bersama para gamer lainnya.

Dalam beberapa kasus, anak-anak akan mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan belajar bagaimana cara mengelola seuah kelompok karena terbiasa membantu rekan satu timnnya untuk mencapai tujuan mereka dalam game. Anak-anak juga bisa belajar banyak tentang kolaborasi, mendengarkan secara aktif, dan membuat keputusan saat memainkan game favorit mereka bersama teman dan orang lain. Selain itu, anak juga akan merasa terhubung bersama teman-teman mereka melalui game meski tak bisa ke luar rumah selama pandemi Covid-19. Karena seperti yang diungkapkan Caroline Knorr dalam sebuah artikel di National Georgraphic, video game dapat membuat mereka bermain dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa harus berada di satu gedung yang sama. Bahkan sebelum pandemi, sudah ada beberapa anak dan remaja yang berpikir bahwa bermain game lebih aman dan lebih menjaga privasi mereka. 

Selain itu, menurut artikel yang ditulis oleh Andrew Fishman dalam Psychology Today, anak dengan autisme dan anak yang menderita gangguan kecemasan akan merasa lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang melalui game dibandingkan dengan orang di dunia nyata. Tentu, game tidak bisa dijadikan pengganti interaksi dunia nyata. Namun, beberapa anak akan terbantu dan dapat belajar berkomunikasi dengan orang lain untuk membangun rasa kepercayaan dan kenyamanan. Kendati demikian, orangtua tetap harus mengawasi seberapa banyak screen time anak per harinya dan menjaga anak saat berkomunikasi dengan orang asing di dunia maya agar tidak menimbulkan kejadian yang tak diinginkan.(Kompas.com)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Video Game Dapat Kembangkan Kemampuan Sosialisasi Anak, Benarkah?

Terkini

Iklan