Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. menyerahkan penghargaan kepada Tgk Banta Khairullah, Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara Bidang Adat Istiadat, yang menerima Penghargaan Kehormatan sebagai Tokoh Adat Aceh Utara. (Foto/Ist)
Aceh Utara — Dedikasi panjang dalam merawat adat, seni, dan kebudayaan Aceh mengantarkan Tgk Banta Khairullah, Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara Bidang Adat Istiadat, menerima Penghargaan Kehormatan sebagai Tokoh Adat Aceh Utara.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., pada malam penutupan Milad ke-800 Bumoe Samudera Pasai Kabupaten Aceh Utara dan Piasan Pase, Minggu malam (13/9/2026).
Penganugerahan tersebut menjadi apresiasi atas konsistensi Tgk Banta dalam menjaga kearifan lokal, mengembangkan kesenian tradisional, serta mewariskan nilai-nilai adat dan budaya kepada generasi muda.
Selain aktif di MAA Aceh Utara, Tgk Banta saat ini mengemban amanah sebagai Geuchik Gampong Paloh Igeuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. Sebelum dipercaya memimpin pemerintahan gampong sebagai geuchik, ia juga pernah mengabdi sebagai Imum Gampong.
Lintasan pengabdian tersebut membuat kiprahnya dalam adat tidak hanya berada pada tataran seni dan kebudayaan. Ia bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat gampong, nilai-nilai keagamaan, penyelesaian persoalan sosial, serta praktik adat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Pengalaman sebagai Imum Gampong, Geuchik, pengurus MAA, sekaligus pelaku seni budaya mempertemukan beberapa ruang pengabdian dalam dirinya: agama menjaga nilai, adat merawat identitas, seni menjadi media pewarisan, sementara gampong menjadi ruang tempat semuanya hidup dan dipraktikkan.
Tgk Banta selama ini juga dikenal sebagai praktisi dan penggiat seni budaya Aceh yang aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, adat, dan kebudayaan. Kiprahnya tidak hanya berlangsung di atas panggung, tetapi juga melalui pembinaan, edukasi, serta transfer pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebagai seniman tradisional Aceh, kompetensinya turut diperkuat dengan sertifikasi profesional di bidang seni budaya melalui sertifikasi resmi yang berkaitan dengan Kemendikbudristek. Pengakuan kompetensi tersebut melengkapi pengalaman panjangnya sebagai pelaku budaya yang tumbuh dan berkarya langsung di tengah masyarakat.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Tgk Banta menaruh perhatian terhadap pembinaan kesenian tradisional, seni tutur, edukasi adat, serta penguatan pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan warisan indatu.
Baginya, pelestarian budaya tidak cukup dengan mempertahankan bentuk kesenian yang diwariskan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan nilai, pengetahuan, filosofi, dan pesan yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya global, generasi muda Aceh menghadapi tantangan untuk tetap terbuka terhadap kemajuan tanpa kehilangan identitas.
Pada titik itulah adat dan seni memiliki peran strategis: menjadi jembatan yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Kiprah Tgk Banta di MAA, pemerintahan gampong, serta berbagai forum kebudayaan turut memberi ruang bagi upaya tersebut. Ia konsisten mendorong agar kekayaan seni dan tradisi Aceh tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi tetap hidup, dipraktikkan, dipahami maknanya, dan mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Posisinya sebagai Geuchik juga menempatkannya pada ruang yang strategis dalam menjaga keberlanjutan adat di tingkat paling dekat dengan masyarakat. Sebab gampong bukan semata wilayah administratif, tetapi juga ruang sosial tempat agama, adat, budaya, musyawarah, dan nilai-nilai kebersamaan diwariskan dari generasi ke generasi.
Atas penghargaan yang diterimanya, Tgk Banta menyampaikan rasa syukur. Ia memandang anugerah tersebut bukan semata sebagai penghargaan pribadi, tetapi juga penghormatan terhadap para pelaku seni, tokoh adat, aparatur gampong, dan masyarakat yang selama ini bersama-sama menjaga warisan budaya Aceh.
Penghargaan tersebut sekaligus menjadi motivasi baginya untuk terus berkarya, melakukan pembinaan, serta mendedikasikan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki bagi pemajuan adat, seni, dan kebudayaan Aceh.
Penganugerahan Tokoh Adat Aceh Utara memiliki makna tersendiri karena diberikan pada momentum Milad ke-800 Bumoe Samudera Pasai, ketika masyarakat Aceh Utara kembali menengok perjalanan panjang sejarah dan peradaban yang diwariskan para pendahulu.
Delapan abad perjalanan Samudera Pasai mengingatkan bahwa kebesaran sebuah peradaban tidak hanya diukur dari apa yang pernah dibangun pada masanya, tetapi juga dari nilai-nilai yang sanggup bertahan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks itulah kerja para tokoh adat dan pelaku budaya menemukan arti pentingnya. Mereka menjaga ingatan kolektif agar tidak terputus. Mereka merawat adat, bahasa, seni, tradisi, dan pengetahuan lokal agar tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Penghargaan kepada Tgk Banta Khairullah diharapkan turut memperkuat sinergi antara pemerintah, MAA, pemerintahan gampong, komunitas seni, pelaku budaya, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga serta mengembangkan kekayaan adat dan budaya Aceh Utara.
Lebih dari itu, penganugerahan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda agar tidak memandang adat dan budaya sebagai sesuatu yang tertinggal oleh zaman.
Sebab kemajuan tidak harus membuat sebuah generasi meninggalkan masa lalunya. Generasi yang kuat justru adalah mereka yang mampu menatap jauh ke depan tanpa kehilangan akar tempat mereka berpijak.
Dan selama adat masih dijaga, seni masih dituturkan, serta nilai-nilai indatu terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, warisan peradaban Bumoe Samudera Pasai akan tetap hidup di tengah denyut zaman. [Hamdani]

