Iklan

terkini

Delapan Bulan Terjebak di Kamboja, Sukardi Akhirnya Dijemput Pulang: Dibiayai Senator Azhari Cage

Redaksi
Selasa, Agustus 11, 2026, 08:58 WIB Last Updated 2026-08-11T01:58:34Z
Azhari Cafe (kiri), saat menjemput Sukardi (kanan). (Foto/Ist)

Laporan: Hamdani

Delapan bulan berada di negeri orang tanpa kepastian hidup membuat Sukardi, 33 tahun, warga Gampong Baroeh, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh, nyaris kehilangan harapan untuk bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.

Ia berangkat dari Langsa pada Desember lalu dengan keyakinan akan mendapatkan pekerjaan di Selangor, Malaysia. Namun, perjalanan yang awalnya dibayangkan sebagai jalan mencari penghidupan justru berujung di Phnom Penh, Kamboja.

Sukardi mengaku semula dijanjikan pekerjaan sebagai tenaga pangkas rambut di Selangor. Tiket perjalanan bahkan disebut telah disiapkan oleh orang yang menawarkan pekerjaan tersebut. Karena percaya, ia mengikuti arahan untuk naik pesawat dengan penerbangan transit.

Namun, ada yang janggal. Pesawat yang ditumpanginya bukan membawa Sukardi ke Malaysia, melainkan mendaratkannya di Phnom Penh, Kamboja.

Di negeri yang asing itu, Sukardi kemudian menjadi korban scammer. Selama sekitar empat bulan ia bekerja, tetapi tidak mendapatkan upah sebagaimana yang dijanjikan.

Dalam kondisi tertekan, Sukardi akhirnya memilih melarikan diri. Ia berupaya mencari pertolongan dan mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.

Sejak Mei, Sukardi kemudian berada di tempat penampungan KBRI Phnom Penh sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia.

Harapan itu akhirnya datang ketika informasi mengenai keberadaan Sukardi sampai kepada Senator Aceh, Azhari Cage.

“Saya dihubungi oleh saudara Sukardi untuk meminta bantuan agar dipulangkan ke Aceh dari Kamboja,” kata Azhari Cage menceritakan kembali kepada media ini Selasa, 11 Agustus 2026.

Namun, Azhari tidak serta-merta mengambil keputusan. Ia terlebih dahulu memastikan informasi tersebut kepada pihak KBRI di Kamboja karena tidak ingin bantuan yang diberikan justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Azhari kemudian menghubungi pihak KBRI Phnom Penh, termasuk Pak Dadang, untuk memastikan apakah benar terdapat warga Langsa, Aceh, bernama Sukardi yang sedang berada di penampungan KBRI.

Setelah dilakukan pengecekan, informasi tersebut dinyatakan benar.

Dari situlah proses pemulangan Sukardi mulai dilakukan.

Azhari meminta agar berbagai kebutuhan administrasi pemulangan Sukardi diurus dan tiket perjalanan disiapkan. Seluruh biaya tersebut ditanggung dan ditransfer sepenuhnya untuk memastikan Sukardi dapat segera kembali ke Indonesia.

Pada 10 Agustus 2026, Sukardi akhirnya meninggalkan Phnom Penh menuju Jakarta menggunakan penerbangan AirAsia QZ-475. Pesawat dijadwalkan tiba di Jakarta pada pukul 19.10 WIB.

Setibanya di Jakarta, Sukardi tidak dibiarkan sendirian. Ia dijemput dan kemudian dibantu untuk mendapatkan tempat menginap melalui Kantor Perwakilan Aceh di Jakarta.

Rencananya, setelah beristirahat semalam di Jakarta, Sukardi akan melanjutkan perjalanan menuju Aceh menggunakan bus. Biaya perjalanan tersebut juga dibantu Azhari Cage.

Perjalanan pulang Sukardi menjadi penutup sementara dari kisah panjang yang bermula dari sebuah tawaran pekerjaan.

Bagi Sukardi, janji pekerjaan di negeri tetangga ternyata berubah menjadi pengalaman pahit yang harus dibayar dengan berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.

Bagi Azhari Cage, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat Aceh harus semakin waspada terhadap berbagai tawaran pekerjaan yang beredar melalui media sosial.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang datang melalui WhatsApp, Facebook maupun platform media sosial lainnya, terlebih jika menawarkan pekerjaan dengan iming-iming penghasilan besar dan proses keberangkatan yang tidak jelas.

“Saya ingin mengingatkan masyarakat Aceh agar berhati-hati bila ada WhatsApp atau Facebook yang menjanjikan pekerjaan, agar tidak menjadi korban seperti saudara Sukardi,” ujar Azhari.

Kasus Sukardi memperlihatkan bagaimana satu klik, satu pesan, atau satu tawaran pekerjaan di media sosial dapat menjadi pintu masuk menuju persoalan serius ketika informasi tersebut tidak diverifikasi.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, tawaran bekerja ke luar negeri memang dapat menjadi harapan bagi banyak orang. Tetapi kisah Sukardi menunjukkan bahwa harapan tersebut harus dibarengi kehati-hatian.

Sebelum berangkat, calon pekerja perlu memastikan identitas perekrut, alamat dan legalitas perusahaan, jenis pekerjaan, negara tujuan, dokumen perjalanan, serta memastikan bahwa seluruh proses keberangkatan dilakukan melalui jalur resmi.

Sukardi kini dalam perjalanan kembali ke tanah kelahirannya.

Delapan bulan di Kamboja meninggalkan pelajaran panjang: mencari pekerjaan adalah ikhtiar, tetapi memastikan pekerjaan itu benar-benar aman dan legal adalah kewajiban. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Delapan Bulan Terjebak di Kamboja, Sukardi Akhirnya Dijemput Pulang: Dibiayai Senator Azhari Cage

Terkini

Topik Populer

Iklan