Petugas dari tim pengabdian Umuslim sedang memasang panel surya di dusun Bivak Juli Kabupaten Bireuen.(Foto/Ist).
Bireuen - Siang itu cahaya dari Langit kawasan pengunungan Bivak Juli Kabupaten Bireuen begitu bercahaya, seperti cahaya impian dan harapan seluruh warga yang menghuni kawasan tersebut.
Warna air sungai yang melintas desa tersebut seakan berbanding terbalik dengan warna harapan seluruh warga.
Air yang biasa begitu jernih, siang itu seperti aba-aba bahwa di hulu sedang ada curahan air dari langit dengan dan lumpur di tanah.
Harapan itu juga seakan akan kembali gelap untuk malam hari, tetapi hari itu telah datang sekelompok pelaksana pengabdian untuk membawa harapan Baru di Dusun Bivak.
Di bawah langit kawasan Bivak yang sempat muram, karena terputusnya jaringan listrik, sempat melahirkan sebuah cerita tentang lentera yang tak lagi padam mulai dituliskan.
Dusun Bivak Desa Krueng Simpo kabupaten Bireuen adalah saksi bisu mengamuknya alam pada malam Rabu akhir November 2025 lalu.
Sehingga amukan tersebut menjadi torehan luka yang mendalam karena telah menghanyutkan senyum warga, meninggalkan mereka dalam sunyi dan kegelapan yang mencekam.
Lebih dari sebulan, malam di sana terasa begitu panjang. Suara mesin genset yang terengah-engah karena tipisnya bahan bakar menjadi satu-satunya pelipur lara yang seringkali gagal menjalankan tugasnya.
Namun, di tengah keterisolasian itu, langkah-langkah kaki pengabdi dari Universitas Almuslim hadir penuh kepedulian datang membawa seberkas cahaya.
Putaran otak kaum Akademisi, dengan nadi kemanusiaan dalam misi pengabdian masyarakat dari Universitas Almuslim, yang dipimpin Prof. Dr. Halus Satriawan bersama Dr. Imam Muslem, Dr. Muhammad Yanis, dan Khairunnisak, hadir seakan membawa lentera cahaya.
Mereka berkolaborasi dengan napas kemanusiaan bersama Meutuah Project, mereka hadir bukan sekadar membawa kabel dan panel, melainkan membawa kedaulatan energibagi warga
Melalui skema tanggap darurat bencana yang didukung oleh Kemdiktisaintek, mereka panjarkan cahaya dengan membangun sebuah sistem PLTS Hibrid yang ditegakkan di atap sebuah banggunan di tanah Bivak.
Sebuah teknologi yang memanen peluk hangat matahari di siang hari, menyimpannya dalam dekap baterai, untuk kemudian melepaskannya menjadi cahaya saat sang surya untuk menerangi semesta dusun Bivak.
Pada Rabu, 10 Januari 2026, program instalasi PLTS itu rampung, sehingga mereka meneken prasasti sebagai bukti sejarah kecil bagi warga.
Melalui peluh cahaya yang terpancar didukung semangat gotongroyong bersama, instalasi itu rampung.
Suara pebgeras suara mic meunasah kembali bergema, suara mik yang jernih memanggil warga untuk bersujud.
Lampu-lampu berpijar, mengusir rasa takut yang sempat betah bersarang di sudut-sudut rumah.
Saat serah terima perangkat dilakukan, senyum warga kembali merekah, menyadari bahwa mereka tidak lagi sendirian dalam kegelapan.
"Kami merasa merdeka dari keterbatasan. Kini, energi bersih dari langit telah menjadi milik kami secara berkelanjutan," ungkap sang Kepala Dusun Bivak dengan nada haru.
Bercahayanya kembali dusun Bivak berkat program yang dilakukan dosen Universitas Almuslim dengan melakukan pengabdian masyarakat dengan memasang paket Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid dusun Bivak, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen.
Menurut Halus Satriawan inisiatif melakukan pengabdian di desa tersebut setelah melihat kondisi
masyarakat pasca banjir, mereka sangat terisolir dan pada malam hari sangat mencekam, cerita Prof. Dr. Halus Satriawan, SP.
Kami bergerak dengan berkerjasama dengan relawan Meutuah Project dan melihat secara langsung kondisi masyarakat pasca banjir.
Sudah lebih sebulan mereka terisolir tidak ada aliran arus listrik, untuk aktivitas penerangan malam hari mereka hanya mengandalkan genset dengan kapasitas kecil, tetapi sering terhalang terbatasnya bahan bakar, sehingga membuat pasokan listrik sering terhenti dan tidak dapat digunakan secara berkelanjutan, jelas Halus Satriawan didampinggi anggota tim lainnya.
“Itulah kami tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Almuslim yang didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, didanai program melalui skema pengabdian kepada masyarakat tanggap darurat bencana, jelas Prof. Dr. Halus Satriawan, SP.
Menurut Prof. Dr. Halus Satriawan, SP., M.Si, didampingi Dr. Imam Muslem R., M.Kom, sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid, merupakan satu sistim yang menggabungkan panel surya dengan sumber energi lain seperti baterai, atau generator (genset), hal ini untuk menciptakan pasokan listrik yang lebih stabil, andal, dan efisien dengan memanfaatkan energi surya di siang hari.
Sedangkan tim Meutuah Project sendiri merupakan relawan pertama yang turun ke dusun Bivak sejak musibah banjir terjadi, jadi kami bekerjasama dengan relawan Meutuah Project dan masyarakat dalam membangun fasilitas penerangan ini, jelas Dr. Imam Muslem R.,M.Kom lagi.
'”Alhamdulillah pada Rabu (10/1/2026) masyarakat sudah bisa menikmati penerangan dengan sistem PLTS tersebut, masyarakat bisa memanfaatkan sistim PLTS untuk keperluan kebutuhan dasar masyarakat, seperti penerangan dan aktivitas sosial warga lainnya, ungkap Prof. Dr. Halus Satriawan, SP terharu.
Menurut ketua tim pengabdian masyarakat Umuslim Prof. Dr. Halus Satriawan, SP., M.Si, didampingi Dr. Imam Muslem R., M.Kom program pengabdian kepada masyarakat tanggap darurat bencana pasca banjir ini turut didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, paparnya
Dengan terpasangnya PLTS hibrid tersebut, warga Dusun Bivak kini mulai menikmati kembali akses listrik berbasis energi bersih dan terbarukan. Kehadiran teknologi ini diharapkan tidak hanya mendukung pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi langkah awal menuju kemandirian energi masyarakat desa di wilayah yang infrastrukturnya sempat luluh lantak.
Ia bukan hanya alat penerangan, tapi adalah nyawa bagi aktivitas sosial dan langkah awal bagi Dusun Bivak untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan energi.
Kini, ketika malam turun memeluk Krueng Simpo, Dusun Bivak tak lagi nampak mencekam. Ada cahaya yang berkedip dari kejauhan sebuah bukti bahwa ilmu pengetahuan, jika dipadukan dengan kasih sayang, mampu menembus kegelapan sedalam apa pun.[Zulkifli].


