Penherahan bantuan ADAKSI kepada Kepala Desa Pante Lhong Murizal (atas) dan penyerahan bantuan kepada relawan PMI Ikhwani, SE (bawah) untuk Desa Pante Baro. (Foto/Ist)
Laporan Hamdani dari Bireuen
Siang itu, Sabtu, 10 Januari 2026, halaman rumah saya di Desa Matang Glumpang Dua Meunasah Dayah, Kecamatan Peusangan, tampak lebih hidup dari biasanya. Sebuah mobil Kijang berhenti di halaman untuk membawa bukan sekadar muatan beras, tetapi juga harapan.
Di tengah jejak lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan rumah-rumah warga yang masih berjuang memulihkan diri dari banjir di Aceh, Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI) kembali hadir di Aceh, menyerahkan bantuan pangan berupa 500 kilogram beras untuk dua desa yang paling terdampak banjir di Kabupaten Bireuen, yakni Desa Pante Lhong yang dihuni lebih dari seribu jiwa, serta Desa Pante Baro dengan hampir seribu penduduk.
Bantuan tersebut saya serahkan langsung dalam kapasitas sebagai Ketua ADAKSI DPW Aceh, yang selama ini juga kerap turun sendiri ke lokasi bencana.
Bantuan untuk Desa Pante Lhong, diterima oleh Kepala Desa (Keuchik) Murizal, sementara untuk Desa Pante Baro, bantuan diserahkan kepada Ikhwani, SE, seorang relawan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat.
Murizal, dengan mata yang masih menyimpan letih bencana, menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan tersebut.
“Terima kasih dan salam buat rekan-rekan ADAKSI seluruh Indonesia. Bantuan ini sangat berguna buat warga kami,” ujarnya.
“Sekitar 30 persen kampung kami telah hilang dari peta,” tambahnya lirih.
Ungkapan yang sama juga datang dari Ikhwani.
“Saya mewakili warga desa saya mengucapkan terima kasih atas bantuan ini. Ke depan, jika ada bantuan dalam bentuk lain, tentu sangat kami harapkan,” katanya.
Banjir yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera akhir November lalu memang meninggalkan luka yang dalam. Tidak hanya Aceh, tetapi juga Sumatera Utara dan Sumatera Barat turut merasakan dampaknya.
Menyadari besarnya beban yang ditanggung masyarakat, ADAKSI telah berinisiatif sejak awal menggalang donasi dari para dosen dan civitas akademika di seluruh Indonesia.
Hasilnya, dana hampir Rp100 juta berhasil dihimpun dan telah disalurkan ke tiga provinsi terdampak.
Di tengah ketidakpastian, langkah ADAKSI menjadi bukti bahwa solidaritas tak pernah mengenal jarak. Dari ruang-ruang kelas dan kampus di seluruh nusantara, kepedulian itu kini menjelma menjadi butir-butir beras yang menghidupi dapur warga desa.
Di Pante Lhong dan Pante Baro, bantuan itu bukan hanya pangan, melainkan pesan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi bencana ini. []


