Ilustrasi
Oleh: Hamdani, SE , MSM*)
Transformasi digital kini menjadi agenda besar pemerintah hingga ke tingkat desa. Hampir setiap desa telah didorong memiliki website sebagai media transparansi, pelayanan publik, sekaligus sarana komunikasi dengan masyarakat.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kehadiran teknologi secara otomatis mampu meningkatkan kinerja aparatur?
Sebuah penelitian mengenai efektivitas penggunaan Website Desa Kemili, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah memberikan jawaban yang menarik. Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan website desa memang berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja aparatur desa. Akan tetapi, kontribusinya hanya sebesar 21,5 persen, sementara 78,5 persen lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penggunaan website.
Temuan ini menyampaikan pesan penting bahwa teknologi bukanlah faktor dominan dalam meningkatkan kinerja organisasi. Justru yang paling menentukan adalah kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikan teknologi tersebut.
Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), teknologi hanyalah sebuah alat (enabler). Nilai tambah baru akan tercipta ketika organisasi memiliki pegawai yang kompeten, adaptif, memiliki motivasi tinggi, serta budaya kerja yang mendukung inovasi. Sebaliknya, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil optimal apabila SDM belum siap menggunakannya.
Fenomena ini masih sering dijumpai di berbagai instansi pemerintah. Banyak aplikasi dibangun dengan biaya besar, tetapi informasi yang tersedia tidak lengkap, jarang diperbarui, bahkan tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Akibatnya, teknologi hanya menjadi simbol modernisasi tanpa benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Hasil penelitian tersebut bahkan menunjukkan bahwa rendahnya kontribusi website terhadap peningkatan kinerja dipengaruhi oleh informasi yang belum lengkap, kurang akurat, tidak diperbarui secara rutin, serta navigasi yang belum mudah digunakan masyarakat. Kondisi tersebut sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan cerminan dari praktik pengelolaan SDM yang belum optimal.
Di sinilah MSDM memiliki peran strategis. Pengembangan kompetensi digital aparatur tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sesaat. Organisasi perlu membangun sistem yang mencakup rekrutmen berbasis kompetensi, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, penilaian kinerja yang memasukkan indikator digital, pemberian penghargaan atas inovasi, hingga pembentukan budaya organisasi yang mendorong pembelajaran terus-menerus.
Lebih jauh lagi, keberhasilan transformasi digital memerlukan kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan. Aparatur tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memahami bahwa teknologi merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kesadaran inilah yang membedakan antara sekadar menggunakan website dengan memanfaatkan website sebagai instrumen peningkatan kinerja.
Dalam MSDM modern dikenal prinsip bahwa high performance organization dibangun bukan karena memiliki teknologi terbaik, melainkan karena memiliki manusia yang mampu mengoptimalkan teknologi tersebut. Oleh sebab itu, investasi terbesar pemerintah seharusnya tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur digital, tetapi juga pada pembangunan kapasitas manusianya.
Transformasi digital pada akhirnya adalah transformasi manusia. Website desa tidak akan pernah menjadi media pelayanan publik yang efektif apabila aparatur belum memiliki kompetensi, komitmen, dan budaya kerja yang mendukung pengelolaan informasi secara profesional.
Karena itu, ukuran keberhasilan digitalisasi pemerintahan seharusnya tidak berhenti pada banyaknya aplikasi yang dibangun atau website yang diluncurkan. Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana kualitas pelayanan meningkat, kepercayaan masyarakat bertambah, dan aparatur mampu bekerja lebih produktif, responsif, akuntabel, serta berorientasi pada kebutuhan publik.
Teknologi dapat dibeli dalam waktu singkat. Namun, membangun sumber daya manusia yang unggul membutuhkan investasi yang jauh lebih panjang. Dan justru investasi itulah yang akan menentukan keberhasilan transformasi digital di masa depan. []
*) Penulis adalah Dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe, Jurusan Bisnis, Prodi Manajemen Keuangan Sektor Publik


