Iklan

terkini

Dari Dapur Sekolah ke Pasar Lokal: Menguatkan SDM dan Pemasaran UMKM Berbasis Gizi

Redaksi
Jumat, Juni 06, 2025, 20:56 WIB Last Updated 2026-02-10T14:04:25Z
Ilustrasi.

Oleh: Hamdani, SE., MSM*)

Pemberdayaan masyarakat sering kali dipahami sebatas kegiatan sosial sesaat. Namun, ketika sebuah program pengabdian mampu menyentuh pengembangan keterampilan, perubahan pola pikir, serta membuka peluang ekonomi, maka di situlah nilai strategis pembangunan sumber daya manusia bekerja secara nyata. Hal inilah yang tercermin dari pelatihan pembuatan bakso dan nugget bagi wali murid dan guru KB Permata Bunda School di Peudada, Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu, dimana saya ikut andil berkolaborasi dengan akademisi dari kampus lain dan ahli gizi.

Program yang berlangsung pada Februari hingga Maret 2025 ini tidak sekadar mengajarkan teknik memasak, tetapi menghadirkan praktik manajemen sumber daya manusia berbasis komunitas, sekaligus membuka ruang bagi pemasaran produk pangan lokal bernilai gizi dan ekonomi.

Pelatihan sebagai Investasi Sumber Daya Manusia

Dalam perspektif MSDM, pelatihan adalah bentuk investasi jangka panjang. Wali murid dan guru bukan hanya penerima manfaat, tetapi diposisikan sebagai human capital, aset produktif yang dapat dikembangkan. Ketika peserta dilatih membuat bakso dan nugget sehat, sesungguhnya yang dibangun adalah kompetensi kerja, kepercayaan diri, dan etos kemandirian ekonomi.

Program ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak selalu harus melalui jalur formal atau industri besar. Pelatihan berbasis rumah tangga justru lebih kontekstual, karena langsung bersentuhan dengan kebutuhan hidup masyarakat. Dalam konteks Aceh, di mana banyak keluarga menggantungkan ekonomi pada sektor informal, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan.

Lebih jauh, pelibatan guru dalam kegiatan ini memperkuat efek berantai. Guru tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi agen penyebar pengetahuan gizi dan keterampilan produktif. Di sinilah MSDM berfungsi secara sosial: membangun kapasitas kolektif, bukan individu semata.

Kesadaran Gizi dan Produktivitas SDM

Aspek lain yang tak kalah penting adalah peningkatan kesadaran gizi. SDM yang sehat adalah prasyarat produktivitas. Program ini mengaitkan langsung keterampilan produksi pangan dengan pemahaman gizi seimbang—sebuah kombinasi yang sering terpisah dalam kebijakan publik.

Bakso dan nugget, yang selama ini identik dengan makanan instan, diolah ulang dengan pendekatan sehat dan terkontrol. Ini bukan hanya soal menu, tetapi soal perubahan mindset. Ketika wali murid memahami bahwa pangan sehat bisa diproduksi sendiri dan bahkan dijual, maka kualitas hidup keluarga meningkat, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Dari Produksi ke Pasar: Tantangan Manajemen Pemasaran

Namun, keterampilan produksi saja tidak cukup. Di sinilah manajemen pemasaran memainkan peran krusial. Produk olahan seperti bakso dan nugget hasil pelatihan memiliki potensi masuk ke pasar lokal, bahkan regional, jika dikelola dengan pendekatan pemasaran yang tepat.

Program pengabdian ini telah memulai langkah penting melalui pendampingan desain kemasan dan pengenalan nilai jual produk. Namun ke depan, diperlukan penguatan strategi pemasaran: penentuan segmen pasar, penetapan harga yang kompetitif, branding berbasis gizi dan lokalitas Aceh, serta pemanfaatan media sosial dan jaringan komunitas.

UMKM pangan berbasis sekolah dan rumah tangga memiliki keunggulan cerita (story value). Produk bukan sekadar barang, tetapi membawa narasi tentang pemberdayaan perempuan, pendidikan anak, dan ketahanan gizi keluarga. Dalam dunia pemasaran modern, cerita seperti inilah yang justru memiliki daya tarik kuat.

Peran Kebijakan Daerah
Pengalaman di KB Permata Bunda School seharusnya dibaca sebagai model kebijakan mikro yang bisa direplikasi. Pemerintah daerah Aceh memiliki ruang besar untuk mengintegrasikan program serupa dalam kebijakan UMKM, pemberdayaan perempuan, dan penanganan gizi masyarakat.
Dukungan tidak harus selalu berupa anggaran besar.

Fasilitasi perizinan, sertifikasi produk rumah tangga, pelatihan pemasaran digital, hingga kemitraan dengan koperasi dan BUMG (Badan Usaha Milik Gampong) dapat menjadi pengungkit keberlanjutan.
Aceh memiliki kearifan lokal yang kuat dalam gotong royong dan ekonomi berbasis komunitas. Ketika nilai ini dipadukan dengan pendekatan MSDM dan pemasaran modern, maka UMKM lokal tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh.

Penutup: Ikhtiar Kecil, Dampak Besar

Dari dapur sekolah di Peudada, kita belajar bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari gedung megah atau industri besar. Ia bisa bermula dari wajan, adonan, dan semangat belajar bersama. Pelatihan bakso dan nugget ini adalah contoh bagaimana manajemen sumber daya manusia dan manajemen pemasaran bekerja dalam skala kecil, namun berdampak nyata.

Jika Aceh ingin membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, maka program-program seperti ini layak didorong, diperluas, dan dijadikan bagian dari kebijakan daerah. Karena sejatinya, membangun Aceh adalah membangun manusianya. Sehat, terampil, dan berdaya. []

*) Penulis adalah Dosen dengan konsentrasi keahlian Manajemen di Jurusan Bisnis Politeknik Negeri Lhokseumawe. Mengajar di Program Studi Manajemen Keuangan Sektor Publik
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Dari Dapur Sekolah ke Pasar Lokal: Menguatkan SDM dan Pemasaran UMKM Berbasis Gizi

Terkini

Topik Populer

Iklan