Saat kenderaan saya melewati Jembatan Kepala Hiu tadi pagi, Senin, 22 Juni 2026. (Foto/Hamdani)
Laporan: Hamdani
Oleh waktu, kadang manusia dipaksa berdamai dengan pilihan yang tak ideal. Senin pagi, 22 Juni 2026, ketika sebagian orang memulai hari dengan secangkir kopi dan rutinitas biasa, saya justru memulai hari dengan sebuah keputusan yang memacu adrenalin. Demi mengejar waktu agar tidak terlambat tiba di tempat kerja, saya memilih melintasi "Jembatan Kepala Hiu", sebuah jembatan darurat sepanjang sekitar 100 meter yang dibangun dari susunan papan batang kelapa dengan penyangga drum plastik berwarna biru di bawahnya. Pemandangan yang mungkin membuat sebagian orang berpikir dua kali, namun pagi itu, pilihan lain terasa lebih sulit.
Perjalanan melintasi jembatan tersebut benar-benar menjadi uji nyali tanpa garansi. Sebab, bagi setiap kendaraan roda empat yang hendak melintas, pengelola tidak memberikan jaminan atas segala risiko yang mungkin terjadi. Tarifnya pun tidak murah, Rp50 ribu untuk sekali lewat mobil dan Rp5 ribu bagi kendaraan roda dua. Namun, di tengah keterbatasan akses yang ada, banyak orang tetap memilihnya. Waktu yang terus berjalan seolah lebih menakutkan daripada rasa cemas saat melintasi jembatan yang bergoyang di atas air itu. Semua dijalani demi sebuah dedikasi, demi tanggung jawab yang menanti sejak pagi.
Jembatan Kepala Hiu yang dibangun di atas sungai ganas di Aceh, yang bernama Krueng Peusangan melintas dari Desa Pante Lhong di Kecamatan Peusangan, dan Pante Baro Kumbang di Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, lahir dari swadaya masyarakat melalui seorang pengusaha bernama Muzakkir. Selain memiliki nilai bisnis, kehadirannya juga menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak lumpuhnya jalur nasional Medan-Banda Aceh. Sejak jembatan utama di Kuta Blang ambruk diterjang banjir Aceh pada akhir November 2025, aktivitas transportasi menjadi terganggu. Jembatan Bailey yang dibangun pemerintah menerapkan sistem buka-tutup setiap satu jam sehingga antrean kendaraan mengular panjang. Alternatif lain melalui Jembatan Awe Geutah pun mengharuskan pengguna jalan memutar jauh dengan kondisi jalan yang tidak seluruhnya mulus.
Di tengah segala keterbatasan itu, Jembatan Kepala Hiu menjelma menjadi harapan baru. Meski berbayar dan menuntut keberanian ekstra, keberadaannya telah membantu banyak orang mempertahankan denyut kehidupan. Roda perekonomian tetap berputar, aktivitas masyarakat masih dapat berlangsung, dan perjalanan yang sebelumnya memakan waktu panjang dapat sedikit dipangkas. Ada harga yang harus dibayar, ada pula rasa waswas yang harus ditelan, tetapi kebutuhan sering kali lebih besar daripada ketakutan.
Meski ada "jaminan" kekuatan daya tahan jembatan, seperti yang diungkapkan Keuchik Pante Baro Kumbang Marwan yang kebetulan saya jumpai di ujung jembatan, usai melewati jembatan yang memicu andrenalin itu.
"Kuat itu, udah ditambah kayu lagi, banyak mobil yang lewat," kata Marwan kepada saya.
Kini, harapan masyarakat tertuju pada pembangunan jembatan permanen di Kuta Blang yang tengah dikerjakan. Pemerintah menjanjikan penyelesaiannya pada akhir Juli 2026. Namun, melihat perkembangan pekerjaan di lapangan, janji tersebut tampaknya masih jauh dari kenyataan. Padahal, ribuan orang menggantungkan harapan pada jembatan itu. Bukan hanya untuk memperlancar arus kendaraan, tetapi juga untuk menjaga denyut ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat. Sementara jembatan-jembatan darurat terus berjibaku dengan berbagai keterbatasan dan kerusakan yang kerap terjadi, masyarakat hanya bisa menunggu, sembari berharap penantian panjang itu tidak berakhir dengan kata yang paling melelahkan: entahlah. []


