Arus kepadatan kenderaan di Pasar Kuta Blang Kabupaten Bireuen. (Foto/Hamdani)
Laporan: Hamdani
Sore itu, Rabu, 18 Maret 2026 deru kendaraan di kawasan Jembatan Kuta Blang terdengar berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya antrean panjang menjadi pemandangan lazim setiap hari, apalagi pada sore hari, ditambah lagi saat mendekati musim mudik seperti sekarang,. Tapi kini arus lalu lintas tampak lebih teratur, seolah menemukan ritmenya kembali.
Sudah sejak Jumat, 13 Maret 2026 lalu, Satuan Lalu Lintas Polres Bireuen resmi memberlakukan rekayasa lalu lintas. Kendaraan dari arah Medan tidak lagi diarahkan melintasi Jembatan Kuta Blang, melainkan dialihkan menuju Jembatan Awe Geutah melalui jalur alternatif. Sementara itu, kendaraan dari arah Banda Aceh tetap melintas seperti biasa melalui jembatan utama tersebut, yang sedang rusak akibat tergerus banjir pada Nopember 2025 lalu.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Jalur nasional yang menghubungkan Medan-Banda Aceh selama ini menjadi titik krusial pergerakan kendaraan, terlebih menjelang arus mudik Idul Fitri. Kemacetan di kawasan Pasar Kuta Blang kerap tak terhindarkan, panjang, padat, dan melelahkan.
Namun kini, suasana mulai berubah. Sedikit lega.
Di simpang menuju Jalan Paya Nie, petugas tampak sigap. Dengan isyarat tangan dan peluit yang sesekali terdengar nyaring, mereka mengarahkan kendaraan dari arah Medan untuk berbelok ke kiri, menuju jalur alternatif yang akan tembus ke Awe Geutah. Personel Polantas tidak bekerja sendiri. Mereka didukung oleh Dinas Perhubungan dan aparat TNI, membentuk barisan pengamanan yang solid di lapangan.
“Silakan ke kiri, arah Awe Geutah,” ujar seorang petugas sambil memberi aba-aba kepada pengendara.
Meski demikian, tidak semua kendaraan diwajibkan mengikuti pengalihan ini. Dalam edaran resmi tersebut, terdapat sejumlah pengecualian. Ambulance, mobil pemadam kebakaran, serta truk pengangkut sembako dengan tonase maksimal 30 ton tetap diperbolehkan melintasi Jembatan Kuta Blang dari arah Medan. Kebijakan ini menunjukkan adanya pertimbangan terhadap kebutuhan mendesak dan distribusi logistik masyarakat.
Pantauan media ini di lapangan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Antrean panjang yang sebelumnya mengular di kawasan pasar kini berangsur berkurang. Lalu lintas menjadi lebih cair, dan waktu tempuh pun terasa lebih singkat.
Seorang pengendara asal Lhokseumawe mengaku perubahan ini cukup membantu. “Biasanya macet sekali di sini, apalagi dekat pasar. Sekarang lebih lancar, walaupun harus memutar sedikit,” katanya.
Rekayasa lalu lintas ini menjadi bukti bahwa pengaturan yang tepat dapat memberi dampak signifikan, terutama di titik-titik rawan kemacetan. Menjelang puncak arus mudik, langkah ini diharapkan mampu menjaga kelancaran perjalanan masyarakat yang hendak pulang ke kampung halaman.
Di tengah hiruk-pikuk jalan raya, ada satu hal yang kini terasa lebih ringan: perjalanan yang tak lagi tersendat di simpul lama bernama Kuta Blang. []


