Yayasan Riset dan Inovasi Masyarakat Berdaya (RIMB) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Penguatan Literasi Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Hijau Pemuda Desa Balocci Berbasis Edukasi Karst Maros Pangkep. (Foto/Ist)
Laporan: Hamdani
Di tengah bentang alam karst Maros Pangkep yang menjulang megah dan menyimpan jejak geologi ribuan tahun, sekelompok pemuda Desa Balocci berkumpul dengan satu tujuan: belajar merawat alam sambil menyiapkan masa depan ekonomi yang lebih hijau.
Kawasan Geopark Maros Pangkep dikenal sebagai salah satu kawasan karst terluas dan terpenting di Asia Tenggara. Ia bukan hanya lanskap batuan kapur yang indah, tetapi juga sistem ekologis vital penyimpan air tanah, pengendali iklim mikro, serta rumah bagi beragam hayati endemik. Namun, kekayaan itu tak lepas dari ancaman.
Tekanan aktivitas manusia, rendahnya literasi lingkungan, dan terbatasnya kapasitas masyarakat lokal kerap menjadi tantangan nyata bagi keberlanjutan kawasan ini.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Yayasan Riset dan Inovasi Masyarakat Berdaya (RIMB) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Penguatan Literasi Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Hijau Pemuda Desa Balocci Berbasis Edukasi Karst Maros Pangkep.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 2 Januari 2026 di Desa Balocci, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep ini melibatkan 15 pemuda berusia 20–23 tahun sebagai peserta utama.
Program ini dirancang dengan pendekatan edukatif-partisipatif. Tak sekadar menyampaikan materi, para fasilitator mengajak peserta berdiskusi, memetakan potensi desa, hingga merancang gagasan ekonomi hijau berbasis potensi lokal yang non-ekstraktif. Edukasi lingkungan karst dipadukan dengan pemahaman ekonomi berkelanjutan, agar pelestarian alam berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketua Tim PKM, Zulkifli Mappasomba, menegaskan bahwa pemuda adalah aktor strategis dalam pelestarian lingkungan dan pembangunan desa berkelanjutan.
“Literasi lingkungan merupakan fondasi penting agar generasi muda mampu berperan aktif menjaga kawasan karst dan tidak melihat alam semata sebagai objek eksploitasi,” ujar Zulkifli.
Ia menambahkan, kegiatan PKM ini dirancang secara intensif dan aplikatif. Harapannya, peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritik, tetapi juga mampu merumuskan rencana aksi nyata di tingkat komunitas.
Dari perspektif akademik, anggota tim PKM Syahruddin M, Ph.D, menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang kontekstual dan berbasis pengalaman lokal. Menurutnya, pelibatan aktif peserta melalui diskusi dan pemetaan potensi desa menjadi kunci dalam meningkatkan literasi lingkungan yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan Muryani Arsal, Ph.D, yang menyoroti pentingnya integrasi konservasi lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
“Ekonomi hijau memberi kerangka berpikir baru bagi pemuda, bahwa menjaga lingkungan bukan penghambat ekonomi, justru bisa menjadi peluang,” katanya.
Sementara itu, Rosmawati, Ph.D, menilai penguatan kapasitas pemuda sebagai investasi sosial jangka panjang. Pemuda dengan literasi lingkungan dan pemahaman ekonomi hijau dinilai lebih siap menghadapi tantangan pembangunan desa di masa depan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai sesi, mulai dari edukasi lingkungan karst, literasi dan etika ekologis, hingga pemetaan potensi ekonomi hijau dan perumusan rencana aksi komunitas. Diskusi kelompok menjadi ruang berbagi gagasan, pengalaman, sekaligus harapan.
Suardi, salah satu peserta, mengaku kegiatan ini membuka wawasannya. “Saya jadi paham bahwa menjaga karst itu penting, dan ternyata ada peluang ekonomi yang bisa dikembangkan tanpa merusak alam,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut agar pemuda Desa Balocci mendapat pendampingan berkelanjutan.
Melalui program PKM ini, RIMB berharap dapat mendorong lahirnya kelompok pemuda dengan literasi lingkungan yang kuat dan mampu menjadi pelopor pengembangan ekonomi hijau berbasis potensi lokal. Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi model edukasi lingkungan yang dapat direplikasi di wilayah karst lainnya.
Ke depan, kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah desa, dan komunitas pemuda dinilai menjadi kunci agar upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi hijau dapat berjalan beriringan memberi dampak nyata bagi alam dan masyarakat lokal. []


