Iklan

terkini

Di Antara Sunyi dan Goyahnya Keyakinan: Kisah Agam, Remaja Yatim Piatu di Aceh yang Terluka oleh Bully

Redaksi
Jumat, Februari 13, 2026, 18:27 WIB Last Updated 2026-02-13T11:43:27Z
Ilustrasi

Laporan: Hamdani

Jumat siang, 13 Februari 2026. Langit Lhokseumawe menggantung mendung ketika Agam (bukan nama sebenarnya) menundukkan wajahnya. Suaranya pelan.

Ia mahasiswa di salah satu kampus di Kota Lhokseumawe. Usianya masih belasan akhir, generasi yang kerap disebut penuh mimpi dan energi. Tapi di balik wajah mudanya, tersimpan luka panjang yang tak kasat mata.

Agam adalah yatim piatu. Ia tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya. Untuk makan, ia ditanggung oleh wawaknya. Selebihnya, untuk kebutuhan sehari-hari, ia bekerja serabutan, apa saja yang bisa menghasilkan uang.

“Untungnya biaya kuliah tidak perlu saya pikirkan,” katanya lirih. Ia penerima Beasiswa KIP dari pemerintah. Program itu menjadi satu-satunya jembatan yang membuatnya tetap berdiri di dunia akademik.

Namun, ada hal lain yang lebih berat dari sekadar soal ekonomi.

Luka yang Tak Terlihat
Sejak SMA, bahkan sejak dia masih di Sekolah Dasar, Agam mengaku menjadi sasaran bully. Bukan hanya dari teman sebaya, tetapi juga dari sosok yang semestinya menjadi pelindung psikologisnya: guru agama. Ironis.

"Sering saya mengadu kepada almarhumah mamak, tapi pembullyan itu tetap terus berlangsung. Mamak hanya berjanji, akan mendatangi orang-orang yang mem-bully saya, tapi tak pernah direalisasi," ungkapnya bernada kecewa.

Ia dinilai “tidak seperti laki-laki pada umumnya”. Geraknya dianggap terlalu gemulai. Tutur katanya dinilai terlalu lembut.
“Pria itu tak boleh gemulai,” begitu komentar yang kerap ia dengar.

“Sehingga saya sering dituduh gay,” ujarnya sendu.

Tuduhan itu bagai palu yang memukul harga dirinya berulang kali. Di usia remaja, ketika identitas sedang dibentuk, stigma seperti itu menjelma menjadi racun perlahan.

Yang paling ia sesalkan bukan sekadar ejekan teman, melainkan candaan bernada merendahkan dari seorang guru agama. Sosok yang seharusnya menanamkan kasih, bukan menghakimi.

“Saya jadi merasa Tuhan pun mungkin tidak menerima saya,” katanya, dengan mata yang menolak bertemu tatapan.

Goyahnya Akidah

Akumulasi kekecewaan itu pelan-pelan menggerogoti keyakinannya. Ia mulai merasa asing dengan agamanya sendiri. Dalam kesendirian, pikirannya melayang jauh.

“Tapi terkadang kalau sendirian, saya sering goyah,” ujarnya.

Keluarganya pernah membawanya ke psikolog. Ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Namun luka sosial berbeda dengan luka fisik; ia bisa kambuh saat tak ada yang melihat.

Fenomena ini mencengangkan. Perpindahan keyakinan yang dipicu oleh pengalaman pahit sosial bukan sekadar isu teologis, tetapi juga isu kemanusiaan. Agam mungkin hanya satu nama. Satu cerita. Tapi bisa jadi ia adalah puncak gunung es, terlihat kecil di permukaan, membesar di bawah.

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, isu pindah agama bahkan kerap dijadikan konten sensasional. Tawaran materi, iming-iming bantuan, atau sekadar viralitas, kadang menyeret keyakinan menjadi bahan permainan.

Padahal, bagi sebagian anak muda yang rapuh secara emosional, satu sentuhan empati bisa menyelamatkan. Sebaliknya, satu ejekan bisa menghancurkan.

Sunyi di Rumah Sendiri

Di rumahnya yang sunyi, Agam sering hanya ditemani dengung kipas angin. Tak ada ayah untuk berbagi cerita. Tak ada ibu untuk memeluk saat ia lelah, katanya ibunya meninggal dunia saat dia baru berstatus mahasiswa.

"Saat hari ketiga saya sedang pembekalan sebagai mahasiswa baru, mamak meninggal," ujarnya sendu.

Kadang ia bekerja mengangkat barang, membantu usaha kecil, atau apa saja yang bisa memberinya sedikit tambahan.

Di kampus, ia berusaha tersenyum. Ia ingin terlihat baik-baik saja.

“Tapi sebenarnya hidup saya tidak baik-baik saja,” katanya jujur.

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Tanggung Jawab Kita Bersama

Kasus seperti Agam semestinya menjadi alarm bagi lingkungan pendidikan dan pemuka agama. Bullying, apalagi dengan balutan dalih moral atau agama, adalah ironi. Ia bukan memperkuat akidah, melainkan bisa meruntuhkannya.

Anak-anak muda, terutama generasi Z, hidup di ruang yang serba terbuka. Mereka mudah mengakses berbagai keyakinan, ideologi, dan komunitas. Jika rumah sendiri tak memberi rasa aman, mereka akan mencari tempat lain untuk merasa diterima.

Mungkin Agam tidak sedang mencari agama baru. Ia sedang mencari penerimaan. Ia butuh teman yang menguatkan. Dosen yang mendengarkan. Tokoh agama yang merangkul tanpa menghakimi. Ia butuh diyakinkan bahwa pria gemulai bukanlah dosa, dan menjadi berbeda bukanlah aib.

Siang itu, sebelum berpisah, ia sempat berkata pelan, “Saya sebenarnya ingin tetap bertahan. Tapi saya capek merasa sendirian.”

Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang remaja. Ia adalah jeritan halus dari generasi yang sering tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.

Agam masih berjalan di antara sunyi dan keyakinan yang goyah. Dan mungkin, yang ia butuhkan bukan perdebatan panjang tentang benar dan salah, melainkan satu hal sederhana: dipeluk sebagai manusia. []
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Di Antara Sunyi dan Goyahnya Keyakinan: Kisah Agam, Remaja Yatim Piatu di Aceh yang Terluka oleh Bully

Terkini

Topik Populer

Iklan