Iklan

terkini

[Opini] Puasa dan Kepemimpinan

Redaksi
Selasa, Maret 12, 2024, 20:26 WIB Last Updated 2024-03-12T15:14:43Z
Oleh: Ir. Muhammad Hatta, S.ST.,MT*)

"Dalam konteks kepemimpinan, ibadah puasa akan membentuk dan melatih jiwa kepemimpinan serta daya tahan terhadap dirinya (self endurance). Karena seseorang dianggap layak untuk memimpin ketika telah mampu menahan dirinya dan telah selesai dengan urusan pribadinya."

Islam adalah agama yang yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Ajarannya dilandasi oleh tauhid dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. 

Rasulullah SAW bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan haji” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Samson Fajar yang mengatakan, bahwa syahadat bermakna sebagai proses pembentukan keyakinan diri (believe building). Salat berfungsi sebagai pembentukan karakter (character building). Zakat membangun karakter dalam pembentukan ekonomi diri (economic building). 

Selanjutnya Ibadah puasa bertujuan untuk pembentukan jiwa kepemimpinan (leadership building). Sedangkan fungsi haji adalah sebagai sarana pembentukan jiwa totalitas (totally building).

Dalam konteks kepemimpinan, ibadah puasa akan membentuk dan melatih jiwa kepemimpinan serta daya tahan terhadap dirinya (self endurance). Karena seseorang dianggap layak untuk memimpin ketika telah mampu menahan dirinya dan telah selesai dengan urusan pribadinya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika daging tersebut baik, maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika daging tersebut buruk, maka akan buruk seluruh tubuhnya. Ketahuilah, daging itu bernama hati. (HR Bukhari dan Muslim). 

Maka bisa dikatakan, hati itu ibarat panglima yang mengendalikan seluruh manusia. Ketika hati seseorang baik, maka setiap perkataan, sikap, dan perbuatannya akan baik, dan sebaliknya ketika hati manusia buruk, maka sikap, perkataan, dan perbuatannya pun akan buruk.

Pemimpin yang tidak terbiasa berpuasa, akan sulit bahkan tidak mampu untuk mengendalikan jiwa, perilaku dan hasrat duniawi. Ia juga cenderung bahkan tidak amanah dalam melaksanakan mandat publik dan tidak tegas dalam mengambil keputusan, apalagi untuk menegakkan keadilan dan mengatasi kesulitan. 

Pemimpin seperti itu tidak mampu melihat persoalan secara jernih, yang muncul sikap otoriter, mencari popularitas dan lebih mengutamakan kepetingan pribadi dan golongan. 

Hal ini sebagaimana disinyalir Samson Fajar, bahwa puasa mengajarkan manusia untuk membersihkan hati dari segala sifat buruk, dengan menahan segala bentuk penyebab rusaknya hati, sehingga yang ada adalah hati yang bersih (qalbun salim).

Seseorang menjadi manusia berakhlak mulia. Ibarat seekor ulat yang melakukan proses puasa dengan menjadi kepompong, dan kemudian menjadi kupu-kupu. Ketika dirinya menjadi ulat, semua orang benci kepadanya, tetapi setelah menjadi kupu-kupu semua menyukai dirinya. 

Salah satu kompetensi pemimpin yang lainnya adalah mampu memimpin dengan hati, karena yang dipimpin adalah makhluk yang dimuliakan dengan hatinya. Maka memimpin dengan hati akan mampu menjadikan sebuah kepemimpinan berjalan dengan bijak, harmonis dan tidak otoriter. 

Selanjutnya pemimpin yang mampu memimpin dengan tangan mereka secara baik. Tangan yang digunakan memimpin dengan gerakan ilmu dan iman, bukan dengan emosi dan kejahilan. Tangan pemimpin (leader’s hand) adalah pola memimpin dengan aktif, bukan otoriter. Pola memimpin yang berbasis pada gerakan bukan pada ucapan. 

Pola memimpin ini sebagai spirit dari puasa, yang hendaknya menahan dan menjaga tangan dari segala keburukan, selalu bergerak pada kebaikan, banyak memberi, menjabat tangan, merangkul dan menyentuh. 

Seyogyanya tangan pemimpin seperti tangan Rasulullah SAW dalam membangun keharmonisan dan gerak dakwah saat itu.

Kekuatan seorang pemimpin salah satunya juga ada di kakinya, maka kompetensi leadership ini disebut leader’s foot (kaki seorang pemimpin). 

Puasa mengajarkan seorang mukmin menjaga kakinya untuk tidak melangkah ke tempat yang tidak baik, tetapi melangkah ke tempat kebaikan bahkan mencari keridhaan Allah SWT.

Dari spirit puasa, maka Allah SWT sedang melatih calon khalifah untuk memiliki kaki yang benar-benar berjalan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkanNya. 

Dalam tradisi kepemimpinan, seorang pemimpin harus memiliki kaki yang mampu menopang beban kepemimpinan, gesit, langkahnya luas dan jauh. Sehingga kakinya mampu membawa perkembangan organisasi, lembaga atau instansi yang dipimpin. 

Seorang pemimpin bukan hanya kuat fisiknya saja, akan tetapi memiliki pola pikir yang cemerlang, memiliki gagasan dan solusi dalam setiap problematika kehidupan keumatan. 

Dalam puasa, seorang pemimpin dilatih untuk tidak berpikir buruk, tetapi dilatih untuk selalu positive thinking, menghilangkan toxic thinking, dan negative thinking

Sehingga pikirannya akan selalu baik dan bersih, karena pikirannya akan digunakan memutuskan sebuah kesimpulan dan keputusan, tanpa kejernihan maka bisa berdampak pada keputusan sepihak, emosional dan kurang matang. 

Dalam kepemimpinan, juga ada satu skill yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah komunikasi (tabligh). Pemimpin harus mampu mengoptimalkan fungsi lisan dengan baik dan benar (leader’s mouth). 

Dalam syariat puasa, manusia dilatih untuk memiliki lisan seorang pemimpin dengan dua kaidah, berkata baik atau diam. Demikian nabi mengajarkan, barang siapa berpuasa namun tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan sia-sia, kotor atau keji, maka tidak ada puasa baginya. 

Oleh karena itu, seorang pemimpin dilatih untuk menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik atau diam dalam kebijaksanaan. 

Salah satu skill pemimpin yang hendaknya dikuasai oleh seorang pemimpin (leader) adalah mampu menjadi telinga bagi orang yang dia pimpin, baik kepemimpinan lembaga, organisasi atau pemerintahan. Skill ini adalah spirit puasa, bagaimana mempuasakan telinga kita dari segala pendengaran keburukan, dan selalu mendengarkan kritik dan keluhan umat. Karena pemimpin pendengar adalah orang yang paling terbuka dan bijaksana. 

Banyak pemimpin yang pendengarannya lebih dominan mendengarkan keburukan. Bisikan bawahan yang hanya mencari kepentingan, dan melupakan nasehat, kritikan bahkan keluhan umat. 

Hikmah puasa dalam leadership adalah seorang pemimpin harus mampu menjaga matanya dengan baik. 

Bagaimana menjaga mata agar tidak melihat maksiat, melihat segala kebaikan dan peka terhadap segala kebutuhan keumatan. Hal ini nampak dari syariat menahan mata dalam puasa, karena puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan mata dan memanfaatkan mata dalam kebaikan. 

Mata seorang pemimpin hendaknya berfungsi seperti ketika puasa, mata untuk melihat kebaikan, mata begadang dalam ibadah dan berjuang, serta mata yang peka dengan segala kebutuhan umat. 

Dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus memiliki kebiasaan yang baik. Hal ini sering disebut dengan habit. Habit adalah kebiasaan yang telah dilakukan berulang-ulang, menjadi karakter yang mengakar dan menggumpal dalam diri, sehingga menjadi kepribadian yang dikenal. Nabi Muhammad SAW digelari Al Amin, karena habitnya memang selalu amanah dalam segala tanggungjawab. Digelari siddik karena tidak pernah berbohong dengan siapapun. 

Semoga akan lahir pemimpin-pemimpin terbaik di Pilkada mendatang, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota. Dengan harapan, calon kepala daerah yang akan bersaing dalam pertarungan Pilkada serentak se Indonesia untuk tidak terjebak dalam "syahwat kekuasan" yang cenderung ambisius dan curang. 

Namun sudah semestinya, calon kepala daerah akan tetap memposisikan kekuasaan politik bukan sebagai tujuan akhir, tapi sebagai sarana untuk “berbuat baik” kepada masyarakat di daerahnya. Semoga akan lahir calon-calon pemimpin daerah yang baik, cakap/cerdas, kompeten, dan amanah. Semoga. []

Editor: Hamdani

*) Penulis adalah Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL).
Ketua Forum Humas Politeknik Negeri se-Indonesia
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Puasa dan Kepemimpinan

Terkini

Topik Populer

Iklan