Iklan

terkini

[Opini] Ketika Al-Quran Hanya Menjadi Teori

Redaksi
Jumat, Maret 29, 2024, 14:33 WIB Last Updated 2024-03-29T07:33:13Z
Oleh: Sayed Muhammad Husen

"Al-Quran dalam ajaran Islam memiliki posisi penting sebagai way of life. Sebagai sumber utama hukum, akhlak, dan ibadah.."

Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, Al-Quran seringkali hanya menjadi teori, terkubur di antara rutinitas dan kesibukan dunia. Meskipun menjadi pedoman utama umat Islam Islam, seringkali Al-Quran dianggap sebagai kitab suci yang diletakkan di rak atau dihiasi dengan indah di dinding rumah, tanpa pernah benar-benar pelajari, dihayati, dan diamalkan.

Dalam konteks ini, Allah Swt berfirman: Berkatalah Rasul, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (QS Al-Furqan: 30). Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah, Rasulullah Muhammad saw berkeluh kesah kepada Tuhannya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an terabaikan dan terlantar.”

Lebih lengkap lagi Rasuliullah saw bersabda, “Dari Ali radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Akan datang pada manusia di kala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya dan Al-Quran tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus, namun kosong dari petunjuk, ulamanya termasuk manusia paling jelek yang berada di bawah langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepadanya. (HR Baihaqi).

Al-Quran dalam ajaran Islam memiliki posisi penting sebagai way of life. Sebagai sumber utama hukum, akhlak, dan ibadah (dalam pengertian luas), Al-Quran seharusnya menjadi pusat kehidupan setiap Muslim. Namun, realitasnya seringkali berbeda. Al-Quran hanya dianggap sebagai objek bacaan sekunder, sesuatu yang dihormati, tapi tidak benar-benar dimengerti, bahkan sebagian umat Islam cenderung mengabaikannya.

Ketika Al-Quran hanya menjadi teori, hilanglah esensi ajaran Islam. Teori tanpa praktik adalah seperti pohon tanpa akar, cantik dipandang, namun tidak akan pernah memberi buah yang berarti. Ketika kita hanya menghafal ayat-ayat tanpa memahami maknanya, atau membaca Al-Quran tanpa mengaplikasikan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, maka kita sebenarnya hanya menjadikan Al-Quran sebagai arsip koleksi kata-kata indah, tanpa mengalami transformasi dalam diri, keluarga, masyarakat, serta negara.

Ketika Al-Quran hanya menjadi teori, kehilangan daya ungkitnya. Ayat-ayat yang penuh dengan hikmah dan petunjuk menjadi hampa tanpa arti ketika tidak diamalkan dalam praktik berbangsa dan bernegara. Islam bukanlah sekadar serangkaian aqidah dan ajaran kosong, tetapi jalan hidup yang seharusnya membimbing setiap langkah manusia dalam mencapai kebahagiaan sejati (di dunia dan akhirat).

Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya ‘al-Fawā`id (hlm 83), menerangkan bahwa salah satu bentuk pengacuhan terhadap Al-Quran, yaitu pertama, tidak mendengarkan dan mengimaninya. Kedua, tidak mengamalkan dan berhenti pada halal-haramnya, meski mengimani. Ketiga, tidak menjadikannya sebagai sumber hukum, baik dalam masalah pokok maupun cabang. Keempat, tidak mentadabburi, memahami apa yang dimaksudkan oleh Pembicaranya (Allah Swt). Kelima, tidak menjadikannya sebagai obat untuk semua penyakit hati.

Karena itu, seharusnya kita renungkan kembali peran dan fungsi Al-Quran dalam hidup manusia. Kita jadikan Al-Quran bukan sekadar teori yang jauh dari kenyataan, tetapi sebagai petunjuk yang nyata dalam setiap langkah kita. Kita belajar kembali cara memahami dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Al-Quran dalam kehidupan pribadi, berbangsa, dan bernegara, sehingga Al-Quran tidak hanya menjadi teori yang indah, tetapi menjadi sumber cahaya yang menerangi setiap aspek kehidupan kita. []

Editor: Hamdani

*) Penulis adalah Oleh: Sayed Muhammad Husen adalah Pensiunan PNS di BMA dan Jurnalis
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Ketika Al-Quran Hanya Menjadi Teori

Terkini

Iklan