Iklan

terkini

[Opini] Sempurnakan Niat

Redaksi
Jumat, Januari 06, 2023, 19:43 WIB Last Updated 2023-01-06T12:46:17Z
Oleh: KH Bachtiar Nasir*)

Tiada hari yang layak kita jalani, kecuali untuk memperhatikan mana bentuk ketakwaan yang sudah kita lakukan dan mana takwa yang terus kita lalaikan. 

Begitulah cara hidup orang-orang yang ingin hidupnya semata-mata untuk takwa. Layaknya orang yang sedang sakit, maka apa yang dilakukannya senantiasa memperhatikan, apakah penyakitnya semakin memberatkan hidupnya dan apa yang harus dilakukannya untuk membuat penyakitnya semakin berkurang. 

Oleh karena itu, kunci dari meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah adalah semakin mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga kita senantiasa ingat untuk mengobati “penyakit” lalai takwa yang melekat. 

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 2: "Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."

Sesungguhnya, tidak ada pekerjaan yang Allah perintahkan untuk kita lakukan, kecuali untuk menyembah kepada-Nya. Apa yang kemudian kini dikenal sebagai profesi adalah ladang bonus yang Allah berikan untuk kegembiraan hidup sejenak, karena Allah Azza wa Jalla sudah menjamin kehidupan yang kita jalani. 

Apa yang akhirnya kita sebut dengan kesuksesan pun sejatinya berasal dari perbendaharaan Allah, yang jika Dia berkendak memberikan kepada kita, maka akan menjadi milik kita. 

Sebaliknya, jika Dia tidak ridha, maka sekeras apa pun usaha kita, tetap tidak akan mendapatkannya. Begitulah sebenarnya alur hidup seorang manusia di dunia. Dan, jalan hidup orang-orang yang ingin hidup untuk hanya menyembah Allah Rabbul Izzati pasti akan sangat meyakini prinsip ini. Hidup ini hanya untuk taat kepada-Nya dan apa pun cara yang dikerjakan olehnya semata hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah saja. 

Allah berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: “Sedangkan mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Untuk bisa menjaga hati dan niat untuk senantiasa ikhlas tentu bukan hal yang mudah. Namun, kabar gembiranya adalah Allah Azza wa Jalla memberikan jalan untuk bisa mencapai kondisi tersebut dengan ilmu dan ibadah. Bukan ditentukan oleh banyaknya harta dan luasnya kekuasaan, karena  kunci kebahagiaan dan ketenangan dalam menjalani hidup tak lain adalah keikhlasan dalam beribadah dan melakukan segala aktivitas hidup untuk Allah saja. 

Adalah tugas dari orangtua, terutama bagi para ayah untuk bisa mendidik keluarganya untuk benar-benar meyakini ilmu ikhlas dan melaksanakannya sebagai upaya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, karena  ayah adalah subjek utama yang memimpin arah gerak hidup sebuah keluarga dan  pencari nafkah. Apa yang ayah pikirkan, apa yang ayah ingin tuju, dan gerak-gerik yang ayah lakukan adalah mercu suar utama bagi keluarga, terutama anak. 

Bila seorang ayah bisa menjadi contoh yang baik dan senantiasa selaras antara perkataan dan perbuatan; maka anak kelak akan mewarisi jalan hidup keikhlasan ini dan melanjutkannya, hingga kelak berkumpul bersama di surga. 

Hanya untuk Allah

Pahamilah bahwa dalam  hidup, beribadah, bekerja, berkeluarga, atau bermasyarakat; niat adalah kunci utama yang akan menentukan segalanya akan berlangsung seperti apa. Niat harus selalu berada dalam radar kebenaran dan mengorbit pada Allah saja. Oleh karena itu, penting untuk senantiasa menjaga, merawat, dan menyempurnakan niat. Setan dan bala tentaranya tidak pernah tinggal diam untuk menghadang niat yang baik supaya tidak terlaksana dan berbelok dalam perjalanan. 

Keberhasilan seseorang berawal dari niat. Oleh karena itu, sempurnakan niat dengan segera melakukannya dalam bentuk ibadah untuk Allah. Buatlah target capaian tentang apa yang akan kita lakukan setiap kali ada niat kesalehan yang timbul dari hati.

Mengapa niat menjadi begitu penting? Karena orang-orang yang bekerja tanpa niat akan merasakan beban berat dalam pekerjaannya. Akan tetapi, niat yang tidak murni kepada Allah hanya akan membuat segala aktivitas dan ibadah menjadi riya yang nilai amalnya sia-sia. Sedangkan bila sesuatu sudah diniatkan dan sudah ikhlas, tetapi tidak kunjung dilakukan, maka hanya akan menjadi halusinasi. 

Jangan sampai, di hari hisab nanti, kita termasuk  mereka yang amalnya ditimbang dihari akhir, tetapi beratnya tidak lebih dari tiupan debu. Karena tidak ada niat, tanpa ikhlas, dan tidak dikerjakan. 

Berangkat dari itu, adalah kewajiban seorang hamba untuk mengetahui ilmu tentang niat, kemudian memperbaiki amalnya setelah mengetahui hakikat dalam kejujuran iman dan ikhlas dalam niat. Kejujuran dalam iman dan niat sebelum beramal adalah media terbaik untuk bisa selamat di akhirat kelak.

Pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari, pada dasarnya diukur dengan niat. Niat pula yang menjadi penentu akhir besar atau kecilnya perolehan kita di dunia maupun di akhirat. Niatkanlah semata-mata untuk Allah. Perbanyaklah zikir kepada Allah. Bacalah Alquran yang paling mudah, yang paling pendek. 

Yang paling dekat adalah membaca surat Al-Ikhlas, supaya kita senantiasa ingat bahwa keikhlasan itu 1/3 dari iman. Sehingga ketika kita pulang dan pergi dengan membaca surat itu, Insya Allah kita  akan mendapat hasil-hasil besar karena apa yang kita kerjakan semata untuk Allah Ta'ala. []

*) Penulis adalah Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah (JATI) 


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • [Opini] Sempurnakan Niat

Terkini

Iklan