Kulam Putroe dan Bau Kembang

Oleh: Hamdani

Udara pagi Sabtu, 22 Februari 2020 kemarin terasa dingin menusuk tulang, aspal terlihat basah akibat turun hujan menjelang subuh. Meski demikian saya tak mau mengalah dengan godaan ingin melanjutkan tidur, saya sudah siap dengan jersey kesayangan untuk gowes. Lagian saya harus menunaikan janji dengan rekan-rekan semalam.

Berhubung Sabtu tak ada kegiatan apapun di kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe tempat saya mengajar, maka perasaan berasa lebih bebas, walau sebenarnya ada agenda besar lainnya sebagai wartawan, yakni liputan kedatangan Presiden Ir. H. Joko Widodo berserta 11 orang Menteri Negara dalam rangka menghadiri Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bireuen. Tapi saya membatalkannya, saya lebih memilih untuk berolahraga. Bukan tidak pro Jokowi, tapi saya malas dengan keramaian.

Tujuan gowes pagi ini adalah ke Gle Meng-Meng, yakni sebuah bukit yang lumayan tinggi, terletak di Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.  Selama menyenangi olahraga bersepeda, sudah sering sekali saya menaklukkan puncak tertinggi di Kecamatan Peusangan Selatan ini, yang konon kabarnya ada Kulam Putroe di puncaknya.

Awalnya saya hanya berangkat berdua dengan Mahyeddin, kawan goweser saya, karena dua kawan lainnya tiba-tiba membatalkan janji mereka. Tak apa-apa pikir saya, berdua juga tetap saya lanjutkan untuk gowes ke Gle Meng-Meng. Toh sudah biasa.

Sekira pukul 8.00 pagi saya dengan Tgk. Mayed, demikian biasanya kami menyapa dia, sudah sampai di puncak tertinggi Gle Meng-Meng. Karena tak ada kawan yang menyusul, kami memutuskan untuk turun. Pulang.

Tapi tetiba di turunan kedua, kami melihat ada lima goweser lain yang menyusul kami. Karena saya tak buru-buru, akhirnya saya memutuskan untuk menemani mereka, sementara Tgk. Mayed tetap memutuskan untuk bergegas pulang.

“Ada tugas mengajar hari ini,” kata Tgk Mayed yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar ini.

“Baiklah, saya lanjut sampai ke Kulam Putroe,” kata saya.

Penampakan Kulam Putroe yang sudah ditumbuhi semak-semak (Foto/Hamdani)

Penampakan Kulam Putroe yang sudah ditumbuhi semak-semak (Foto/Hamdani)

Lalu saya dan rekan-rekan goweser lain kembali menaklukkan puncak, setelah menaklulkan lima puncak, lelah berasa menghinggapi kami. Tapi syukurlah, di turunan puncak terakhir sebelum mencapai Kulam Putroe ada balai, yang dibuat lumayan bagus. Kami ketahui balai ini milik “Mirik” yang merupakan nama sandi mantan kombatan GAM.

Di balai itu pemandangannya luar biasa indah, hamparan kebun jagung milik warga di punggung bukit sangat memanjakan mata. Nun jauh mata memandang ke arah timur terlihat petak-petak sawah yang mengecil karena kami berada di ketinggian. Sungguh indah panorama alam dari puncak Gle Meng-Meng ini. Karena kadang jika beruntung muncul kabut, kita berasa sedang berada di balik awan, sayangnya pagi ini kabut tak muncul.

Usai rehat sekitaran setengah jam di balai-balai itu, datang lagi seorang kawan menyusul. Jamal. Akhirnya bertujuh kami memutuskan untuk sampai ke Kulam Putroe, meski sering ke Gle Meng-Meng, kawan-kawan belum pernah sampai ke Kulam Putroe, sedangkan saya sudah pernah sampai sekali.

Untuk sampai ke Kulam Putroe, kami harus mendaki satu bukit lagi, setelah sebelumnya menuruni turunan curam kebun jati. Lumayan melelahkan, setelah sampai di pendakian itu, kami harus turun lagi, lalu menyusuri jalan yang sudah disiapkan, kabarnya jalan ini dibangun menggunakan dana aspirasi anggota dewan. Lumayan, karena jika tak ada jalan ini, walau belum diaspal, dipastikan tak akan bisa kami menembusi puncak Gle Meng-Meng, konon lagi sampai ke Kulam Putroe. Mustahil.

Karena saya sudah tahu jalan, maka saya mengayuh sepeda paling depan. Ketika beberapa meter lagi kami mau sampai ke Kulam Putroe, entah darimana tiba-tiba wangi kembang menyeruak penciuman kami. Awalnya saya pikir hanya hidung saya yang mencium bau wangi itu, ternyata semua rekan-rekan mencium bau semerbak kembang yang sama. Aneh, padahal tak ada pepohonan bunga di sekitar itu.

Meski beberapa rekan terlihat ciut nyalinya, tapi kami tak menghentikan perjalanan. Pedal sepeda terus kami kayuh, malah saya merasa bau kembang itu sebagai pertanda kami “disambut” penghuni kegelapan di tempat itu. Entahlah.

Sampailah kami di Kulam Putroe, sejauh mata memandang tak ada lagi keistimewaan apapun dari “kulam” itu yang konon kisahnya adalah tempat pemandian Putri Bunsu. Kulam yang disebut-sebut pemandian itu yang terlihat hanya pohon rumbia yang tumbuh liar di puncak bukit itu, selebihnya tak ada yang aneh.

Padahal.mitosnya, di puncak Gle Meng-Meng itu adalah tempat yang sering didatangi Putroe Bunsu untuk mandi-mandi di kolam. Pada masa entah berantah.

Cerita tentang Gle Meng-Meng kami yang tinggal di seputaran Matangglumpangdua juga tak bisa melepaskan diri dari memori masa kecil, jika ibu-ibu kami mencari kami kutu, jika tidak mau, pasti akan ditakut-takuti jika banyak kutu akan diterbangkan ke Gle Meng-Meng. Begitulah.

Puas melihat-lihat, kami bergegas pulang, tentu dengan kesan masing-masing tentang Kulam Putroe yang menyebarkan aroma wewangian kembang di “pintu gerbangnya” yang kasat mata. []

Publisher: Redaksi