GMM Bike Community Antar Goweser Tangerang Sampai ke Pijay

Bireuen – Persaudaraan dan solidaritas adalah kunci kekompakan para goweser, hal inilah yang selalu dikedepankan oleh komunitas sepeda Goweser Matang Mountain (GMM) Bike Community. Untuk mewujudkan bahwa jargon di atas bukan hanya sekedar lip service atau pemanis mulut, pada Jumat, (25/12/2020) mengantar Yudistiro Probo (41) sampai ke Kabupaten Pidie Jaya (Pijay). Sampai di Pijay, Yudistiro disambut oleh komutitas MTB Pijay.

“Setelah sehari sebelumnya goweser yang berasal dari Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten yang akan menuju titik nol Sabang itu, disambut di Markas GMM dan diinapkan semalam di rumah salah seorang anggota GMM. Lalu kami mengantar sampai ke Pijay dan disambut rekan-rekan MTB Pijay,” terang Mursal Fahmi yang merupakan salah seorang anggota GMM pada media ini.

Hal lainnya juga disampaikan anggota GMM lainnya, yakni Zainuddin yang biasa dipanggil Pak Keuchik, menurut pria berjenggot lebat ini bahwa pihaknya bukan sekali ini saja sudah menyambut goweser yang melintas ke Aceh.

“Komunitas kami sudah sering menyambut para goweser petualang. Karena menurut kami, penting sekali memuliakan tamu, apalagi sesama goweser, kami merasa bersaudara,” ujar Pak Keuchik sambil mengusap jenggotnya yang lebat.

Sementara itu Yudistiro yang biasa dipanggil Thomas, pada media ini mengaku berangkat dari Tangsel pada 1 Desember 2020 silam.

“Sudah 25 hari saya di jalan, saya berangkat dari Tangsel pada 1 Desember lalu,” kata Yudi.

Ditanya jalur yang paling berat selama di Sumatera, pria bertubuh kurus ini mengaku, jalur yang paling berat adalah di Provinsi Riau.

“Yang paling berat di jalur Provinsi Riau, karena panas sekali, serta jalannya menanjak. Kalau kami goweser mengatakan ini trek neraka,” kisahnya.

Thomas juga mengungkapkan pengalaman-pengalamannya yang sangat menegangkan selama di perjalanan.

“Pengalaman yang paling menegangkan di perjalanan adalah, pernah dikejar anjing galak, sampai 5 kali, di daerah Tulang Bawang kalau tak salah saya. Jujur, saya paling takut sama anjing,” kata Thomas tertawa mengenang perjalanannya.

Ternyata, perjalanan jauh yang dia tempuh tak membutuhkan modal banyak.

“Sepanjang jalan sangat mengesankan, karena banyak komunitas yang menyambut dan menjamu saya, seperti GMM ini, dan juga di Pijay saya disambut oleh komunitas MTB Pijay. Ini tentu sangat mengharukan,” ungkapnya.

“Karena banyaknya bantuan dari rekan-rekan, maka tak banyak modal habis, saya hanya bawa bekal 1 jutaan, sampai hari ini juga masih tersisa uang tersebut,” lanjutnya.

Ia juga berkisah bahwa sepanjang jalan, jika tak bertemu komunitas, maka akan memilih menginap di Polsek-Polsek terdekat.

“Sspanjang jalan, menginap kalau bukan di komunitas sepeda, ya di Polsek-Polsek yang ada di sepanjang jalur Trans Sumatera,” pungkasnya. [Hamdani]

Publisher: Hamdani