Dosen PNL Ciptakan Kincir Angin untuk Meningkatkan Produksi pada Petani Garam di Aceh Utara

Lhokseumawe – Dalam usaha meningkatkan produksi pada petani garam, sejumlah dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) menciptakan kincir angin, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dikemas dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) membantu sejumlah kelompok petani garam di Aceh Utara. Informasi ini disampaikan Ir. Saifuddin, MT pada media ini Rabu, (25/11/2020).

“PKM pemanfaatan kincir angin untuk peningkatan pendapatan dan penguatan kapasitas kelembagaan kelompok petani garam tradisional di Kecamatan Lapang Kabupaten Aceh Utara,” kata pria yang sering dipanggil Abi Saifuddin ini.

Abi Saifuddin menambahkan, pihaknya membantu kelompok Usaha Tani Garam Peunawa yang selama ini menaungi 16 petani garam di Desa Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Aceh.

“Kelompok usaha ini merupakan kelompok usaha yang didirikan petani garam untuk menampung dan memasarkan garam yang dihasilkan secara bersama para petani garam. Saat ini Kelompok Usaha Garam Peunawa mengalami permasalahan kekurangan air baku garam, dimana dalam mengairi lahan garam para petani masih mengandalkan air pasang,” papar Abi Saifuddin.

“Secara lain petani mengisi air baku garam dengan cara menangguk air dari saluran dan menggunakan pompa air. Ketergantungan air baku garam pada musim pasang, menyebabkan petani hanya dapat berproduksi 17 hari dalam sebulan dengan rata-rata produksi sebesar 25kg perhari atau 425 kg perbulan, dengan harga jual melalui kelompok Rp. 5200 per kg dan mendapat penghasilan Rp. 2.210.000 perbulan,” lanjutnya.

Tapi menurut Abi Saifuddin, dengan tersedia cadangan air dan penggunaan kincir angin yang memompa air ke lahan garam, kontinuitas produksi bisa dilakukan 30 puluh hari dalam sebulan. Sehingga terjadi peningkatan produksi petani dan meningkatkan penghasilan.

“Ads peningkatan produksi, dari 425 kg perbulan menjadi 750 kg per bulan dengan penghasilan dari Rp2.210.000 perbulan menjadi Rp. 3.900.000. perbulan, sehingga kehilangan pendapatan petani garam Rp.1.690.000 perbulan dapat teratasi,” rinci Abi Saifuddin.

Untuk menunjang program ini dalam meningkatkan produktifitas dan pendapatan petani garam menurut Abi Saifuddin, pihaknya melakukan dengan cara mencukupi air baku garam melalui teknologi tepat guna terbarukan berupa kincir angin memompa air mengairi lahan garam petani, dalam penggunaan energi angin dapat meminimalkan biaya operasional.

“Dalam kegiatan PKM ini dilakukan pemasangan turbin angin type savonius serta untuk mengatasi ketergantungan cadangan stok air asin dibuat pintu air pasang surut yang dipasang pada hilir saluran,” ujar alumni Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala ini.

“Dalam kegiatan PKM sudah dilakukan pabrikasi kincir angin Savonius di laboaratorium pengelasan Jurusan Mesin, PNL, dimana para mitra berperan aktif dalam proses pabrikasi hingga proses perakitan,” lanjutnya.

Tambah Abi Saifuddin, sesudah proses pabrikasi, perakitan dan uji coba selesai, kincir angin dan perangkatnya dipasang dilokasi mitra. Pengecoran pondasi kincir angin dan pembuatan pintu air dilakukan dilakukan di lokasi mitra pada lokasi yang disepakati.

“ini hanya pelatihan cara pengoperasian dan perawatan kincir serta pelatihan peningkatan kapasitas kelembagaan dan manajemen usaha, sistem penjualan dan pemasaran garam Kelompok Usaha Tani Peunawa, belum dilakukan,” terangnya.

“Pelatihan ini akan dilakukan sesudah kincir terpasang dan beropersai. Hal ini dikarenakan Covid-19, sehingga keterbatasan gerak dalam mengumpulkan anggota mitra,” pungkasnya. [Hamdani]

Publisher: Hamdani