Tim Riset Natural Aceh Teliti tentang Kelelawar di Gunung Seulawah - JuangNews

Tim Riset Natural Aceh Teliti tentang Kelelawar di Gunung Seulawah

Banda Aceh – Tim Riset Natural Aceh mengadakan penelitian tentang komposisi dan keragaman kelelawar di Gunung Seulawah menyusul ditemukannya kelelawar raksasa (Pteropus) di daerah Saree dan Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Hal ini diungkapkan Ketua Tim Riset Natural Aceh Ellena Yusti, M.Si pada juangnews.com Kamis, (7/9/2017).

Ellena menginformasikan, kelelawar raksasa itu ditembak mati dengan asumsi membahayakan dan aneh untuk ukuran kelelawar. Kelelawar sebesar anak kecil itu pun juga akhirnya dihanyutkan ke sungai tanpa bisa diidentifikasi dan diteliti.

“Atas dasar itu Natural Aceh membentuk tim untuk mulai mendata dan mengidentifikasi seluruh jenis kelelawar di Seulawah sejak awal September sampai 4 bulan ke depan,” terang Ellena.

Ellana juga memaparkan bahwa dari penelusuran ilmiah didapatkan bahwa hanya Jambi dan Sumatera Bagian Barat yang sejak 2012 aktif mengidentifikasi jenis-jenis kelelawar di Sumatera. Aceh terakhir kali mengadakan penelitian kelelawar tahun 1992 di Gunung Leuser, padahal dari 231 species di Indonesia yang merupakan 20 persen dari jenis kelelawar dunia, 68 spesies atau paling banyak ditemukan di Pulau Sumatera.

“Kami berharap selain hasil penelitian ini dapat dipublikasikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, yang paling penting juga diharapkan para warga menyadari pentingnya peranan kelelawar pada lingkungan dan kehidupan mereka sehingga tidak diusir dan diburu,” kata Ellana.

Tambahnya, kelelawar pemakan buah dan nektar berperan penting pada penyerbukan bunga terutama tanaman perkebunan warga. Sebanyak 186 spesies tumbuhan obat, penghasil kayu, dan sumber makanan tergantung pada kelelawar jenis Megachiroptera ini.

“Tumbuhan penghasil buah yang penyerbukannya tergantung kelelawar seperti duku, rambutan, dan durian akan sulit melakukan penyerbukan jika kelelawar pemakan buah ini hilang. Sedangkan kelelawar dari subordo Microchiroptera atau kelelawar pemakan serangga mampu memakan hingga 6.000 nyamuk setiap jamnya,” paparnya.

Ellan melanjutkan, selain jenis serangga lainnya termasuk ngengat dan ulat bulu berfungsi sebagai predator alami hama pertanian. Selain itu kotoran kelelawar (guano) mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi.

“Kelelawar yang tinggal di pohon secara otomatis kotorannya mampu menyuburkan tanah di sekitarnya. Bahkan guano dari gua bisa diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk oleh masyarakat nantinya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan Natural Aceh berterima kasih kepada Muspida Aceh Besar yang sangat akomodatif dan membantu terlaksananya kegiatan ini. Tim riset kelelawar ini akan mulai mengumpulkan dan menangkap paling sedikit 200 kelelawar di 6 titik dan 4 habitat yang berbeda yang kemudian akan diidentifikasi dan diberi label.

“Kita harap masyarakat jangan terkejut menemukan kelelawar yang mempunyai gelang hijau, karena itu adalah penanda dari kita bahwa kelelawar tersebut telah diukur dan diidentifikasi, semoga kita bisa mendapatkan jenis baru nantinya,” pungkas Ellana. [Hamdani]

Publisher : Hamdani