Suku Batak Jadi Pewaris Pahlawan Cut Meutia, Percaya Atau Tidak? - JuangNews

Suku Batak Jadi Pewaris Pahlawan Cut Meutia, Percaya Atau Tidak?

Lhokseumawe – Teuku Sadli (40) Warga Uteun Kot Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe, memprotes Pemkab Aceh Utara, terkait penobatan pewaris tahta Pahlawan Aceh Cut Meutia, Jumat, (13/11/15). Lantas pengangkatan pewaris keluarga pahlawan itu tanpa musyarah dari pihak keluarga.

Kisah ini berawal Pemerintah Aceh mengundang sejumlah keluarga pahlawan Aceh saat memberikan juga menobatkan pewaris tahta dan memberikan piagam juga penghargaan, pada acara Hari Pahlawan Nasional di Banda Aceh. Namun utusan yang dikirimkan oleh Pemkab Aceh Utara melalui Dinas terkait, ternyata bukan orang yang punya garis keturunan Cut Nyak Metia.

Disitulah terbongkar yang menerima piagam itu adalah T. Syarifuddin, yang diutuskan Pemkab Aceh Utara. Sedangkan T. Syarifuddin bukan garis keturunan dari keluarga pahlawan Cut Meutia, akan tetapi orangtuanya orang suku Tapanuli.

“Dapat kami jelaskan disini bahwa mewakili keluarga Pahlawan Nasional Cut Meutia orangnya tidak tertera di dalam silsilah keluarga, sejauh informasi yang kami terima bahwa yang menamakan dirinya T. Sarifuddin, yang menjadi utusan keluarga Cut Meutia adalah orangtuanya atau ayah orang suku Tapanuli,” jelas Teuku Sadli.

Itu sebabnya, terkait penobatan T. Syarifuddin sebagai pewaris tahta keluarag Pahlawan Aceh. Pihak keluarga Cut Meutia angkat bicara dan merasa keberatan juga memalukan, langkah yang digunakan oleh Pemkab Aceh Utara.

Lebih lanjut Teuku Sadli mengatakan, harus cermat dan teliti dalam terkait menobatkan keluarga Pahlawan Aceh. Sebab sejumlah keluarga pahlawan banyak yang masih hidup dan garis keturunan langsung dari Cut Meutia.

“Keluarga besar Cut Nyak Meutia dikecewakan dengan yang diutus oleh Pemkab Aceh Utara bukan keluarga yang ada dalam silsilah keluarga Cut Nyak Meutia, melainkan orang lain,” papar Teuku Sadli.

Teuku Sadli juga menginformasikan, kondisi meseum yang sangat memprihatikan dan tidak ada perawat serta bentuk susunan dari meseum juga tidak sesuai dengan kultur adat istiadat Aceh. Sedangkan pembangun rumah mesium Cut Nyak Muetia dengan anggaran APBK Aceh Utara kini mulai rusak dan tidak terawat.

“Setidaknya ada perhatian tapi untuk saat ini dibiarkan begitu saja, tidak sedikitpun untuk merawat dan merenovasi rumah adat tersebut serta banyak dari masyarakat yang berkunjung berwisata merasa kecewa dan prihatin melihat kondisi ini,” ulas Teuku Sadli lagi.

Dalam kesempatan tersebut, Teuku Sadli mengharapkan harus menghargai jasa Pahlawan Aceh. Sebab tanpa pahlawan bangkit, nama Aceh tak akan terukir hingga ke penjuru dunia. [Amrol Fhathona]

Editor & Publisher : Hamdani