Pemerintahan Di Mata Mantan Kombatan - JuangNews

Pemerintahan Di Mata Mantan Kombatan

Sebagai bekas daerah konflik, Aceh menyimpan beragam cerita. Kondisi sosial yang masih labil, dan kemakmuran yang tidak merata, membuat orang-orang yang pernah terlibat dalam kencah perang menjadi berang. Hal ini seperti yang diungkapkan Jamaluddin alias Nek Tu pada wartawan media ini awal pekan lalu. Ini membuktikan pemerintah masih gagal di Aceh.

Jamaluddin yang akrab disapa Nek Min, mantan anggota TNA daerah III Sagoe Kuta Pang Syiek, Wilayah Batee Iliek, barusaja menikmati makan siang bersama rombongan Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, DR. H. Amiruddin Idris, SE., MSi dan  sejumlah dosen dan beberapa staf,  termasuk Ketua Yayasan Almuslim Peusangan, H. Yusri Abdullah, S.Sos serta sejumlah warga. Setelah mereka berdoa serta baca yasin bersama di sebuah kebun Dusun Asan Kumbang, Desa Darussalam Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen, Senin, 13 April 2015 lalu, pada acara  dimulainya buka lahan baru Umuslim yang dihibah masyarakat yang  luasnya sekitar 450 hektar.

Dalam obrolan ringan dengan juangnews.com, yang ditemani sejumlah warga, ketika diminta tanggapannya terkait dibuka lahan baru Umuslim tersebut, Nek Min mengatakan pihaknya dan masyarakat setempat menyambut baik. Karena dengan dibukanya lahan tersebut dapat memberi motivasi kepada masyarakat setempat dan juga dapat menolong anak yatim yang ingin kuliah di universitas tersebut.

“Sangat senang kami melihat Rektor Umuslim berbaur bersama kami dan masyarakat, karena seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat, bukan malahan menjadi pimpinan yang tak pernah bersama rakyatnya,” kata Nek Min bernada ketus, wajahnya memperlihatkan rasa kesal.

Pria yang mengaku pernah menjadi pasukan penunjuk arah kepada mantan Panglima TNA Muzakir Manaf (Mualem) pada masa konflik mengatakan, warga Peusangan Selatan pasca damai  kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercocok tanam di kebunnya masing-masing, terutama lahan yang berada di kawasan terpecil di Dusun Asan Kumbang, desa tersebut. Sehingga lahan tidur atau lahan yang selama ini tidak berfungsi kini kebanyakan sudah dibersihkan warga untuk menanam, tanaman keras, seperti kelapa sawit, pinang, pala, durian dan lain-lain.

Selain itu juga ada yang menanam palawija, seperti, pisang, cabe, dan jenis kacang-kacangan dan jenis lainnya.

“Jelasnya kami disini sudah memfokuskan untuk memfungsikan lahan-lahan di sini untuk menanam tanaman yang dapat menghasilkan rezeki bagi kami yang ada disini,” kata Nek Min.

Pria yang mengaku pernah punya pengalaman menarik pada saat konflik yaitu, ketika dirinya dipercayakan memegang pelontar bazoka yang tiba-tiba datang pesawat patroli dari udara di kawasan tempat bersembunyinya, sehingga pelontar tersebut lepas dari tangannya karena kencangnya angin dari pesawat, sehingga dia harus memeluk pohon pinang. Dirinya mengaku tahu pahit dan getirnya pada masa perjuangan yang sekarang menjadi kenangannya.

“Sekarang ini, rakyat perlu pekerjaan tetap, lahan-lahan tidur atau yang selama ini tidak berfungsi masih luas di Aceh, oleh sebab itu, pemerintah harus bisa memberdayakan rakyatnya dengan membangun fasilitas pedukungnya jangan pemerintah hanya pandai berjanji saja,” ungkap Nek Min ketus.

Menurut pria mantan kombatan ini,  pemerintah harus peka dan jeli melihat peluang untuk membantu rakyat dengan cara memanfaatkan fasiltas atau sarana yang telah ada.

“Sekarang untuk jalan di kawasan ini saja bekum pernah diaspal kami tiap hari kalau mau ke kebun melewati jalan berbatu dan berlumpur,” keluh Nek Min.

Sambungnya lagi, “Pemerintah Aceh bek lee teungoet ngoen jaga, bek peuleumak-peuleumak boh di pemerintahan (Pemerintah Aceh jangan banyak tidur dari pada bangun, jangan hanya mementingkan diri  sendiri di pemerintahan),” katanya dalam Bahasa Aceh sambil terbahak dan melangkah pergi seraya menambahkan, “neutuleh lagee nyan beh, (kau tulis seperti itu ya?)” katanya pada awak media ini, seraya beranjak pergi. Begitulah. [Bayu Putra]

Editor : Hamdani

Foto : Jamaluddin alias Nek Min (foto/bayu)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *