Nasib Bunga, Siapa Peduli? - JuangNews

Nasib Bunga, Siapa Peduli?

Bireuen – Masih ingat kisah Bunga, yang sempat diberitakan juangnews.com dua hari lalu? Kisah Bunga yang dirudapaksa tetangganya, kini kondisi gadis belia itu makin parah, alat vitalnya bernanah, dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Sementara kepedulian dari pemerintah belum ada. Lantas siapa yang peduli nasib bunga? Mungkin kalau kejadiannya pada musim kampanye tempo hari, nasib Bunga akan lain.

Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, juangnews.com bersama rombongan paralegal LBH APIK Lhokseumawe, Nur Baety,S.Sos cs serta didampingi pengurus Forum Pemuda Peduli Perempuan dan Anak (FP3A) Bireuen, Roswar dan Ade Ikbal Purnama bergegas menuju salah satu rumah sakit swasta di Bireuen, Minggu, 12 April 2015 kemarin.

Rosmawar yang memimpin perjalanan membawa rombongan menuju salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Bireuen, sesampai di sana, rombongan bergegas menuju salah satu ruangan di lantai empat, rumah sakit swasta ternama di Bireuen.

Di kamar inilah Bunga (8), korban pemerkosaan di salah satu desa di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen (sebelumnya ditulis Kuala Ceurape-red) dirawat, Bunga dibawa ke salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Bireuen dua hari lalu, Sabtu, 11 April 2015. Setelah diperiksa, Bunga tidak diijinkan pulang oleh dokter karena kondisi Bunga semakin parah dan harus dirawat. Demi anak tercintanya, ibunda Bunga mengikuti saran dokter dengan segala keterbatasan ekonominya.

Saat ini,  Bunga masih duduk di bangku kelas dua di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jangka, saat rombongan kami tiba, Bunga masih tertidur pulas, badannya panas, agar tidak ketakutan saat melihat laki-laki, kami tidak mengijinkan ibunda Bunga membangunkan Bunga yang trauma melihat laki-laki akibat kejadian amoral yang dialaminya.

Setelah tegur sapa, kami dipersilahkan duduk di ruangan berukuran 4×4 meter per segi, Paralegal LBH APIK mulai mengoreksi informasi demi kepentingan advoksi, juangnews.com ikut mengoreksi infomasi dari ibu korban yang mulai menceritakan kronologis kejadian amoral yang dilakukan pemuda berinisial “S”.

“Kejadian ini telah terjadi sekitar tiga bulan yang lalu, saat ayah Bunga bekerja di luar,  pekan lalu, korban (Bunga-red) kembali dipanggil oknum pemuda itu, lalu dia lari pulang dan menceritakan kepada saya, setelah mendapatkan pengakuan korban, saya melaporkan kepada pemerintah gampong,” katanya dengan wajah sedih.

Menurutnya, setelah melaporkan kepada pemerintah gampong, lalu dirinya memberitahukan kepada Bidan Desa (Bides) agar anaknya segera mendapatkan pengobatan, lantas suami Bides yang bertugas disana yang kebetulan merupakan anggota polisi,  meminta agar kasus ini dilaporkan kepada ke pihak yang berwajib dan akhirnya pelaku diringkus aparat keamanan.

“Hingga saat ini belum satupun dari pihak pemerintah yang menjenguk korban, mungkin karena saya orang yang tidak pandai dan miskin, makanya keadilan tidak memihak kepada kami, dengan segala keterbatasan, saya tetap mencari obat demi kesembuhan anak saya meskipun tidak seperti dulu lagi,” kata ibu empat anak itu yang seakan tak sanggup menahan air mata yang keluar dari pipinya.

Ia mengaku, kondisi alat vital Bunga mulai mengeluarkan nanah (kotoran-red) dengan bau tak sedap. Menurut keterangan sementara dokter, katanya, nanah tersebut bisa jadi berasal dari sperma pelaku yang bersarang di alat vital korban.

“Semoga ada pihak yang mau membantu Bunga, karena masa depan Bunga masih panjang, saya memohon kepada suadara yang telah menjenguk Bunga mau membantu Bunga dan  keluarga kami, demi kesembuhan Bunga,” ujar Ibunda Bunga penuh harap dengan mata berkaca-kaca. [Halim]

Editor : Hamdani

Foto : Ilustrasi

6 Comments

  1. farizal

    April 13, 2015 at 12:32 pm

    Untuk pemberitaan selanjutnya terkait dengan kasus2 kekerasan seksual seperti ini hendaknya tidak mempublikasikan amat korban secara jelas sampai ke kamponhg/desa korban.Saya kira cukup sampai tingkat kabupaten saja krn dikhawatirkan munculnya rasa ketidaknyamanan sebagai akibat pemberitaan.Trims atas perhatiannya.

    • Redaksi

      April 27, 2015 at 2:35 pm

      Terimakasih atas masukan. Salam

  2. Aneuk Nanggroe

    April 13, 2015 at 6:46 pm

    Dima peran pemerintah, kemana pemerintah ketika masyarakat menjerit, seharusnya pemrintah peka, jika kita tidak menyelamatkan generasi Aceh, siapa yang menyelamatkan dan menjaganya.

    • Redaksi

      April 27, 2015 at 2:35 pm

      Ya, mana peran Pemerintah?

  3. Anek Jangka

    Oktober 1, 2015 at 2:55 pm

    Mana peduli pemerintah persoalan seperti ini? yang pemerintah pedulikan sekarang mah Rp.

  4. muhammad isa

    Februari 13, 2016 at 8:29 pm

    orng yg tak tau apaa yg lakukan itu merudook tan itepeu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *