Kasus Polisi Bunuh Diri:Bripka Oktaviano Wali Murid yang Santun - JuangNews

Kasus Polisi Bunuh Diri:Bripka Oktaviano Wali Murid yang Santun

Dibalik segala penyebab meninggalnya Bripka Oktaviano, kanit provos Polsek Juli Kabupaten Bireuen yang ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya Jumat kemarin (2/4/2015), ternyata ada tercecer cerita lain dibalik orang-orang terdekatnya. Sisi ini yang akan dikupas juangnews.com
Oktaviano ternyata merupakan seorang wali murid yang sangat perhatian terhadap perkembangan pendidikan putrinya dan suka membantu sekolah tempat kedua putrinya belajar.
Rentang waktu Desember 2014 hingga Februari 2015, Oktaviano kerap memanfaatkan waktu luang dipagi hari mengatur lalu lintas di depan MIN Cot Meurak Bireuen, jalan Bireuen – Takengon Km 2 tanpa bayaran sepeserpun, semua itu dia lakukan bukan dalam kapasitas kedinasan.
“Setelah mengantar anaknya ke kelas, pak Oktaviano langsung berdiri ditengah jalan menertibkan lalu lintas”, kata Husni, guru olah raga pada MIN Cot Meurak Bireuen.
Husni mengisahkan, kejadian ini bermula ketika kepala MIN Cot Meurak Bireuen mengemukakan dalam rapat wali murid bahwa sering terjadi  kecelakaan di depan sekolah, lalu meminta solusinya, saat itu dengan cepat Oktaviano menjawab siap membantu mengatur lalu lintas, meskipun itu bukan bagian dari tugas wajibnya selaku provos.
“Kami merasa sedih atas meninggalnya pak Oktaviano, di mata kami beliau adalah wali murid yang sangat baik, disiplin dan sangat sayang pada anaknya”, tambah Husni kepada juangnews.com, Sabtu pagi (3/4/2015).
Dewan guru tempat anaknya belajar seakan tidak percaya kalau Oktaviano dikabarkan tewas karena bunuh diri, pasalnya ketika mengantar atau menjemput putrinya dari sekolah, dia sering berdialog dengan guru, menceritakan perkembangan sikap anaknya.
“Dari tutur kata, pakaian dan sikap beliau kami yakin beliau orang baik-baik dan taat beribadah”, ucap Sardani, kepala MIN Cot Meurak Bireuen.
Roslinda, wali kelas putrinya sering melihat Oktaviano datang ke sekolah pada jam istirahat mengantar bahan belajar anaknya yang tertinggal di rumah, atau singgah sejenak untuk memberikan uang jajan kepada putrinya.
Pada saat lomba Giat Pramuka Madrasah Kemenag se-Kabupaten Bireuen yang dilaksanakan di Desa Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, pertengahan bulan Maret lalu, putrinya turut serta mengikuti lomba tersebut.
Acara berakhir sore dan tiba di sekolah menjelang magrib, pembina pramuka berniat mengantar pulang putrinya sampai ke rumah tapi dia menolak, “Ngak apa-apa, biar saya jemput sendiri saja pak”, kata Idawati pembina pramuka mengutip pembicaraan Oktaviano yang ingin menjemput langsung anaknya.
Sementara itu Muslim, wali murid yang sekelas dengan putri Oktaviano juga terkejut mendengar kabar Oktaviano meninggal, dia menuturkan sering berjumpa dengan dengan Oktaviano ketika mengikuti pengajian di salah satu mesjid di Bireuen.
“Beliau itu aktif mengikuti pengajian dan sering berpapasan dengan saya ketika shalat berjamaah di mesjid taqwa”,  kata Muslim dengan suara bergetar, matanya berkaca kaca ketika mengetahui Oktavino meninggal bersimbah darah.
Kini kedua siswi tersebut menjadi yatim, tidak ada lagi yang mengantar uang jajan atau membawa peralatan belajar yang tertinggal, ayahanda mereka telah tiada. Selamat jalan Pak Polisi.[Najib Zakaria]
Editor : Hamdani
Foto : Ilustrasi bunuh diri (google.com)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *