Cerita Hari Ini yang Berakhir di Warung Makan Chen Lili - JuangNews

Cerita Hari Ini yang Berakhir di Warung Makan Chen Lili

Sebenarnya semalam Jumat, 18 Nopember 2016 waktu Taiwan, aku tak begitu sengaja melihat tontonan temanku di komputernya. Kala aku melewati belakang tempat duduknya, mataku nakal melirik ke layar monitornya. Ternyata yang ditonton adalah demo masak. Karena dia orang Vietnam, tentu yang dilihatnya adalah demo masak makanan tradisional Vietnam.

Aku terperangah, sedikit terkejut, dan selanjutnya tertawa. Betapa tidak, Kawan, selama ini aku berpikir hanya aku saja yang suka nonton demo masak di youtube. Tak tahunya ternyata teman di sampingku juga suka melakukan hal yang sama. Begitu aku tahu, aku langsung ikut nimbrung menontonnya dengan sedikit membahas apa yang kami lihat.

“Kamu juga suka nonton demo masak, ya?” tanyaku seraya merekahlah senyumku yang tak terbendung lagi. Bahagia karena merasa sehobi.

“Iya, aku suka nonton demo masak makanan tradisional tempatku, Vietnam,” jawabnya.

“Aku juga suka nonton demo masak,” Aku menimpali.

“Dengan melihat video demo masak khas kampungku, aku merasa stresku hilang,” tukasnya.

Ya Tuhan. Alasannya juga sama denganku. Aku menonton video demo masak juga untuk menghibur diri dari ketegangan tugas kuliahku. Dengan melihat aktivitas dapur khas kampung halamanku, sebagai perantau di negeri orang yang budaya dan makanannya berbeda seratus delapan puluh derajat ini, membuatku seolah terlempar ke dapur keluargaku di kampung halaman nun jauh di seberang laut sana.

Ini menjadi semacam rekreasi maya yang kurasakan saat menonton demo masak di youtube. Tapi sayang, demo masak khas Aceh masih sedikit sekali di youtube. Maka sebagai pelampiasan, aku suka menonton demo masak tradisional India; karena cara mereka memasak, bumbu yang mereka pakai, dan warna masakan (yang biasanya kuning) hampir sama dengan masakan khas Aceh.

Teman yang duduk di sampingku ini senasib denganku; disebabkan oleh beberapa alasan, kami memutuskan untuk tidak membawa serta istri kami ke Taiwan. Maka jadilah kami anak kost di usia yang tak muda lagi. Makan seadanya dan sedapatnya saja. Namun, dalam hal makanan, tentu teman Vietnam ini tak semenderita aku karena dia bisa makan segala makanan yang ada di Taiwan ini. Tapi ini bukan berarti rindu akan masakan istrinya bisa sirna begitu saja. Dalam hal rindu makan di kampung, kami ternyata tetap saja senasib.

Malahan dulu, seorang teman Vietnam yang lain pernah bilang kepadaku saat mereka terpaksa memasak di lab, “Maaf, Usman, aku terpaksa memasak di lab. Aku tak suka masakan Taiwan. Sekali-sekali aku ingin masak sendiri dengan citarasa kampung sendiri.” Tentu aku mengangguk saja, menyetujuinya. Kasihan juga, di asrama kampus kami tidak diizinkan memasak.

Saat itulah aku mulai berpikir, jika anak Vietnam saja yang bisa makan segalanya di Taiwan ini -bukan hanya daging babi, malah daging anjing pun kerap mereka makan- masih merasa galau dengan makanan, apalagi aku; yang tiap kali ke warung makan mesti bertanya dulu “apakah ini mengandung babi atau tidak?” Sehingga suka atau tidak suka, makanan vegetarianlah yang harus aku makan setiap hari.

Padahal, yang namanya orang Aceh, tak ada ikan, tak jadi makan. Asal ikan sudah ada, makan pakai garam pun bisa menghabiskan nasi satu mud. Sementara sayur bukanlah menu yang wajib di Aceh. Yang penting ada kuah kuning yang likat dengan bumbu pekat dan santan kelapa, serta dipadu dengan ikan, maka lengkaplah sudah sebuah hidangan. Hanya saja, saya yang lama hidup di Jogjakarta, mulai terikat dengan sayur. Sehingga mazhab makanku sudah agak sedikit bergeser.

Tadi pagi, Sabtu, 19 Nopember 2016 menjelang siang, aku keluar dari asrama, perutku tentu masih kosong karena aku tak pernah makan pagi. Walaupun ada, itu hanya sekali dua saja. Karenanya, aku makan siang agak cepat sedikit, sekitar pukul sebelas, untuk menggabungkan dua waktu makan menjadi satu. Porsi makanku ini kalau di dunia Barat dikenal dengan istilah “brunch”, akronim dari gabungan kata “breakfast” (makan pagi) dan “lunch” (makan siang). Keren, ‘kan? Ternyata brunch itu juga budaya. Jadi, brunch itu tak selamanya bisa dikaitkan dengan berhemat, sekalipun kerap juga itu maksudnya!

Cuma gawatnya, resiko brunch ini ternyata besar juga, menjadikan waktu makan siangku tidak boleh ditunda sedikit pun. Pukul 12 itu maksimum, selepasnya tak bisa ditolong lagi. Perut harus segera diisi. Makanya, tadi pagi pukul 11 ketika aku datang di warung vegetarian langganan dan ternyata tutup, aku langsung bingung, mau makan apa ini?

Akhirnya kuputuskan kembali saja ke lab untuk menyusun rencana selanjutnya. Tak lama kemudian, aku memutuskan makan di Main Station! Hari ini, rumah makan Chen Lili menyediakan makanan lengkap khas Indonesia, yang disajikan secara prasmanan. Jika warung Indo lain hanya pada hari Minggu saja, maka warung makan Chen Lili yang baru aku kenal seminggu yang lalu ini, sudah mulai menyediakan makanan lengkapnya pada hari Sabtu, dan diteruskan sampai hari Minggu. Dua hari dalam seminggu.

Menu di Warung Chen Lili (foto/usman)

Menu di Warung Chen Lili (foto/usman)

Pada hari-hari biasa ada juga menu standar yang siap dimasak setelah kita memesannya; yaitu bakso, soto babat, ayam panggang/goreng, gado-gado, mi ayam, nasi pecel, nasi goreng, pecel lele, daging burung dara, sate kambing, rawon, dan satu lagi yang paling aku sukai, bebek goreng!

Pukul 2.30 siang waktu Taiwan aku sampai di warung setelah hampir setengah jam menumpangi bis. Mukaku yang tadinya kuyu tak bersemangat karena lapar, sekarang berubah menjadi semringah demi melihat aneka makanan khas Indonesia yang dominan berwarna kuning dan gelap gulita itu. Di meja saji terlihatlah rendang, telur rebus sambal, kuah lemak daun ubi dan labu jipang, sambal goreng tempe, semur jengkol, udang masak kecap, dan ikan goreng sambal. Tak ketinggalan, tempe mendoan. Sungguh nikmat Tuhan yang tak bisa aku dustakan.

Sekalipun enak dan lengkap menu itu, namun aku hanya memilih makan dengan lauk kuah lemak daun ubi dan labu jipang, satu ikan sardencis goreng sambal, satu tempe mendoan, dan rendang yang hanya kuambil kuahnya saja sebagai penguat rasa.

Maka sempurnalah hariku hari ini. Untuk besok, besok saja dipikirkan lagi. Untuk makan malam ini? Kayaknya aku tak kuat makan lagi. Di rumah makan Chen Lili, aku tadi benar-benar membalas dendam atas kegagalan makanku tadi pagi di warung vegetarian. []

__________

Notabene:

1. Mud sebenarnya adalah sukatan yang berukuran 5/6 liter. Di Aceh, mud disebut dengan “mok” (huruf “o” dibaca seperti dalam kata “momok”) yang digunakan sebagai sukatan beras untuk dimasak. Mud dalam masyarakat Aceh sekarang hanya tinggal namanya saja, sedangkan ukurannya tidak lagi pas 5/6 liter, melainkan berubah menjadi tidak menentu. Dulu mud sering dibuat dari tempurung kelapa, namun setelah susu kaleng keluar, maka tempurung kelapa diganti dengan kaleng susu ini.

2. Kuah lemak adalah sebutan orang Aceh untuk kuah yang dimasak pakai bumbu khusus dan santan kelapa sehingga warnanya menjadi kuning muda.

Penulis : Usman

Mahasiswa PHD asal Aceh di National Kaohsiung University of Applied Sciences, Kaohsiung, Taiwan.

Publisher : Hamdani